Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • JADI KORBAN DEEPFAKE? LAWAN!

    01 Feb 2026 | Dilihat: 29 kali

    oleh: Riri Satria

    Bayangkan suatu pagi yang berjalan biasa saja, lalu tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel kita, sebuah tautan, sebuah video, atau gambar yang menampilkan wajah kita, tetapi tubuh, suara, atau adegannya bukan milik kita. Jantung serasa jatuh ke perut. Tangan dingin. Pikiran kosong. “Itu bukan saya,” ingin rasanya berteriak, tetapi layar sudah terlanjur memantulkan versi diri yang terasa asing sekaligus mengancam. Inilah salah satu wajah paling gelap dari zaman kecerdasan buata, yaitu menjadi korban deepfake.

    Deepfake bukan sekadar rekayasa gambar. Ia adalah manipulasi identitas. Wajah seseorang ditempelkan ke tubuh orang lain, suara ditiru, ekspresi disalin, lalu disebarkan seolah nyata. Bagi korban, ini bukan urusan teknologi canggih, melainkan pengalaman personal yang menghantam harga diri, rasa aman, dan reputasi sekaligus. Rasa malu muncul, meski tidak melakukan apa pun. Rasa marah membuncah, tetapi tak tahu harus diarahkan ke mana. Biasanya yang paling sering datang justru ketakutan, siapa saja yang sudah yang melihat? Sejauh mana sudah menyebar? Apa yang akan orang pikirkan?

    Dalam momen seperti itu, reaksi pertama hampir selalu emosional. Ada dorongan untuk langsung membalas pelaku, menulis klarifikasi panjang di media sosial, atau justru menutup diri dan berharap semuanya hilang sendiri.

    Namun dunia digital jarang bekerja berdasarkan harapan. Konten bisa dihapus, tetapi jejaknya kerap lebih cepat berlari daripada kemampuan kita mengejarnya. Oleh karena itu, langkah paling awal yang justru terasa paling tidak alami adalah: menahan diri dan berpikir jernih.

    Hal paling berharga dalam situasi ini bukan amarah, melainkan bukti. Tangkapan layar, tautan, nama akun penyebar, waktu unggahan, semua detail kecil itu kelak menjadi penopang kebenaran. Deepfake sering dibuat oleh orang yang merasa aman di balik anonimitas aau profil tersembunyi. Bukti digital membantu mengubah rasa tak berdaya menjadi posisi yang lebih kuat secara hukum. Ia seperti jangkar di tengah badai, kecil tapi menentukan.

    Di sisi lain, kita hidup di ruang digital yang diatur oleh platform. Media sosial bukan sekadar tempat berbagi, melainkan juga ruang dengan aturan komunitas. Konten manipulatif, pelecehan, impersonasi, atau materi intim tanpa persetujuan termasuk pelanggaran serius. Melaporkan konten bukan tindakan sepele itu adalah cara menggunakan sistem yang tersedia untuk melindungi diri. Setiap laporan adalah sinyal bahwa teknologi tak boleh berjalan tanpa etika.

    Deepfake adalah teknologi manipulasi media digital (foto, video, atau audio) menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan deep learning untuk menciptakan konten palsu yang sangat realistis, seolah-olah seseorang benar-benar mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan, dengan cara menukar wajah, mengubah ekspresi, atau meniru suara hingga sulit dibedakan dari aslinya. Meskipun awalnya untuk hiburan, teknologi ini rentan disalahgunakan untuk disinformasi, penipuan, atau pencemaran nama baik.

    Namun persoalan deepfake tidak berhenti di ranah platform. Ia menyentuh hukum, karena menyangkut nama baik, privasi, dan bahkan eksploitasi seksual digital. Di Indonesia, sejumlah payung hukum dapat menjerat pelaku manipulasi dan penyebaran konten semacam ini.

    Bagi korban, melapor ke aparat siber mungkin terasa menakutkan, tetapi justru di situlah narasi bergeser yaitu dari “korban yang malu” menjadi “warga yang menuntut keadilan”. Perubahan sudut pandang ini penting secara psikologis. Ia mengembalikan kendali yang sempat terasa dirampas.

    Sering kali deepfake juga disertai ancaman. “Bayar atau kami sebar.” Kalimat pendek yang memeras bukan hanya uang, tetapi juga ketenangan. Dalam tekanan seperti itu, membayar tampak seperti jalan keluar tercepat. Padahal ia kerap menjadi pintu masuk lingkaran pemerasan tanpa akhir. Menolak membayar memang menakutkan, tetapi di situlah garis tegas antara korban dan pelaku perlu dijaga. Bukti ancaman justru memperkuat posisi hukum.

    Di balik semua langkah teknis dan hukum, ada satu sisi yang tak kalah penting, yaitu kondisi batin korban. Deepfake menyerang ruang paling personal, yaitu tubuh, wajah, identitas. Banyak korban merasa seolah tubuhnya diambil alih tanpa izin. Rasa jijik pada gambar yang bukan dirinya sendiri bisa muncul.

    Di sinilah dukungan manusia nyata menjadi krusial. Teman, keluarga, atau pendamping profesional dapat menjadi pengingat bahwa rasa malu itu salah alamat. Justru yang salah bukan orang yang wajahnya dicuri, melainkan orang yang mencurinya.

    Pengalaman menjadi korban deepfake juga membuka mata tentang rapuhnya jejak digital kita. Foto yang dulu diunggah dengan gembira, potret wajah yang jelas, sudut-sudut ekspresi yang terekam rapi, semuanya bisa menjadi bahan mentah bagi mesin. Mengamankan akun, mengganti kata sandi, mengaktifkan verifikasi dua langkah, dan meninjau ulang apa yang bersifat publik bukanlah bentuk ketakutan, melainkan adaptasi pada zaman.

    Pada akhirnya, deepfake adalah ironi kemajuan teknologi kecerdasan buatan yang seharusnya membantu manusia justru bisa melukai. Namun kisah korban tidak harus berakhir sebagai kisah kehancuran. Ia bisa menjadi kisah tentang keberanian menuntut keadilan, tentang solidaritas digital, tentang kesadaran baru bahwa identitas bukan sekadar data yang bebas dipermainkan.

    Menjadi korban deepfake memang mengguncang, tetapi satu hal perlu terus diingat, gambar itu palsu, manipulatif, dan tidak mewakili diri yang sesungguhnya. Nah, yang nyata adalah martabat, hak, dan suara korban, dan di tengah dunia yang makin dipenuhi ilusi digital, justru keberanian mempertahankan kebenaran itulah yang paling nyata.

    Diperkirakan Indonesia akan mengalami perang deepfake atau deepfake war antar sesama kita yang semakin canggih pada tahun 2029, ketika Pemilu dilaksanakan. Mari kita cerdas menyikapi ini dari sekarang, tidak mudah terpancing, tidak mudah terprovokasi, tidak mudah emosi, apalagi sampai ribut dan terpecah-belah ketika menghadapi badai deepfake ini.

    Lawan Deepfake! Jangan takut! 👍😎🇮🇩

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture