Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria, Komisaris Utama ILCS Pelindo Solusi Digital
Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak, tiada takut
Menempuh badai, sudah biasa
Angin bertiup, layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b'rani, bangkit sekarang
Ke laut, kita beramai-ramai
Lagu ini diciptakan oleh Ibu Soed ini menekankan keberanian, kemahiran mengarungi samudera, dan ketangguhan menghadapi badai. Ungkapan ini didukung oleh fakta bahwa nenek moyang Indonesia adalah pelaut tangguh. Buktinya meliputi penemuan teknologi maritim purba berusia 40.000 tahun di kawasan Wallacea, serta jejak perdagangan maritim pada abad ke-7 hingga ke-13. Lagu ini sering digunakan sebagai simbol identitas maritim, kebanggaan, dan warisan budaya Indonesia sebagai negara maritim.
Indonesia sejak awal adalah bangsa yang hidup bersama laut. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, wilayah laut Indonesia bahkan jauh lebih luas daripada daratannya. Laut bukan sekadar pemisah pulau, melainkan penghubung, jalur kehidupan, sumber ekonomi, dan ruang strategis bangsa. Karena itulah Indonesia dikenal sebagai negara maritim, yaitu negara yang kekuatan dan masa depannya bertumpu pada laut.
Identitas ini bukan konsep baru. Sejak masa Sriwijaya dan Majapahit, Nusantara telah menjadi pusat perdagangan maritim yang menghubungkan India, Tiongkok, Arab, dan kawasan Asia Tenggara. Laut membentuk peradaban, budaya, hingga sistem ekonomi masyarakat pesisir. Jejak budaya maritim itu masih terasa hari ini dalam tradisi, mitologi, dan cara hidup banyak komunitas Indonesia yang memandang laut sebagai sumber kehidupan sekaligus ruang spiritual.
Kesadaran akan pentingnya laut bagi masa depan bangsa kemudian dipertegas pada era modern. Pada 23 September 1963, Indonesia menyelenggarakan Konferensi Maritim Nasional pertama sebagai langkah merumuskan kebijakan kelautan terintegrasi. Setahun kemudian, pemerintah menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Maritim Nasional. Peringatan ini bukan sekadar seremoni sejarah, tetapi pengingat bahwa laut adalah fondasi ekonomi, budaya, pertahanan, dan identitas Indonesia.
Secara geografis, Indonesia memiliki sekitar 3,25 juta km² wilayah laut, hampir dua kali luas daratan. Perairan ini berada di jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Artinya, Indonesia tidak hanya negara maritim, tetapi juga simpul strategis dalam arus perdagangan global. Posisi ini membawa peluang besar, sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keamanan laut, stabilitas jalur pelayaran, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Namun menjadi negara maritim tidak cukup hanya karena memiliki laut luas. Keunggulan kompetitif maritim lahir ketika laut dikelola sebagai sistem terintegrasi, yaitu dengan menggabungkan infrastruktur, industri, teknologi, manusia, dan tata kelola.
Pilar pertama adalah konektivitas dan infrastruktur laut yang efisien. Pelabuhan modern, integrasi pelabuhan dengan jalan, kereta, dan gudang, serta sistem digital logistik nasional menjadi kunci. Negara maritim unggul bukan yang pelabuhannya banyak, melainkan yang sistem pelabuhannya terhubung, cepat, dan efisien.
Pilar kedua adalah ekonomi berbasis nilai tambah. Indonesia tidak cukup hanya mengekspor bahan mentah hasil laut. Industri pengolahan, galangan kapal, kawasan industri berbasis pelabuhan, dan layanan logistik maritim harus berkembang sehingga laut menghasilkan industri, bukan sekadar komoditas.
Pilar ketiga adalah ekosistem maritim digital. Di era modern, daya saing pelabuhan ditentukan oleh data dan teknologi. Artificial Intelligence, otomatisasi terminal, integrasi sistem pelabuhan, serta platform logistik digital mampu menurunkan waktu tunggu kapal, mengurangi biaya, dan meningkatkan transparansi. Laut abad ke-21 dikendalikan oleh sensor, algoritma, dan sistem digital.
Pilar keempat adalah sumber daya manusia dan inovasi. Ahli maritim, ahli logistik, data scientist, peneliti teknologi pelabuhan, serta pusat riset maritim menjadi fondasi. Inovasi harus lahir dari dalam negeri agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta.
Pilar kelima adalah tata kelola dan kedaulatan. Regulasi yang sederhana, keamanan laut yang terjaga, serta kedaulatan atas data dan sistem digital maritim menjadi faktor penentu. Negara maritim yang kuat adalah negara yang lautnya aman, sistemnya tertib, dan datanya dikelola secara mandiri.
Semangat inilah yang kembali ditegaskan dalam visi Poros Maritim Dunia oleh Indoneia, sebuah komitmen untuk menjadikan Indonesia pusat kekuatan maritim global melalui pembangunan pelabuhan, armada, konektivitas, dan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Visi ini sejalan dengan semangat Konferensi Maritim Nasional 1963 dan makna Hari Maritim Nasional.
Pada akhirnya, membangun keunggulan kompetitif maritim berarti memastikan bahwa laut memberi dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat. Ketika logistik laut efisien, harga barang antarwilayah menjadi lebih adil. Ketika industri maritim tumbuh, lapangan kerja tercipta. Ketika teknologi digital menguat, Indonesia tidak hanya dilalui kapal-kapal dunia, tetapi menjadi pemain utama dalam arus logistik global.
Indonesia adalah negara maritim bukan karena dikelilingi laut, tetapi karena laut adalah masa depannya. Sejarah telah memberi identitas, geografis memberi potensi, dan teknologi memberi peluang. Tantangannya kini adalah mengelola semuanya secara terintegrasi agar Indonesia benar-benar berdiri sebagai kekuatan maritim yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing global.
Riri Satria
Komisaris Utama ILCS Pelindo Solusi Digital
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera