Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Ada sesuatu yang selalu membuat saya diam sejenak setiap melihat tunas kecil muncul dari dahan pohon atau dari tanah yang tampak biasa saja. Ia tidak gaduh, tidak mengumumkan diri, tidak meminta tepuk tangan. Ia hanya tumbuh, diam-diam, pasti, seolah membawa kabar pelan bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti. Tunas-tunas baru itu seperti catatan kaki dari semesta bahwa “cerita kehidupan masih berlanjut.”
Dalam hidup, kita sering merasa sedang berada di ujung sesuatu. Ujung usia, ujung karier, ujung hubungan, bahkan ujung harapan. Rasanya seperti halaman terakhir sebuah bab yang penuh coretan, air mata, dan tanda tanya. Seua serba tidak jelas dan penuh tanda tanya. Kita menutupnya dengan napas berat, kadang dengan perasaan kalah. Tapi hidup, rupanya, tidak mengenal kata “selesai” dengan cara yang kita bayangkan. Ia lebih mirip buku tebal yang tak pernah kita lihat daftar isinya secara utuh. Kita hanya tahu halaman yang sedang kita pegang. Dari satu bab ke bab berikutnya, sering kali tanpa jeda yang elegan.
Pepatah lama dari kampuang nan jauah di mato itu tiba-tiba terasa sangat dekat di dada, patah tumbuah, hilang baganti. Dulu saya mengira itu hanya kalimat penghibur, semacam selimut kata-kata agar kita tidak terlalu kedinginan oleh kehilangan. Sekarang saya mulai merasa, itu bukan sekadar penghiburan, tapi hukum sunyi kehidupan. Sesuatu patah, ya, perih. Sesuatu hilang, ya, ada ruang kosong yang menggema. Tapi di sela-sela retakan itu, selalu ada gerak kecil yang tidak kita sadari, sesuatu sedang bersiap tumbuh. Itulah tunas baru kehidupan.
Masalahnya, kita sering terlalu sibuk meratapi pohon yang tumbang atau yang dahannya patah, sampai lupa menunduk melihat tunas di dekat kaki sendiri, atau menoleh ke kiri dan ke kanan ternyata sudah muncul tunas baru di dahan yang paah tersebut.
Saya pernah berada di fase ketika hampir semua yang saya pegang terasa rontok bersamaan. Rencana yang disusun rapi mendadak berantakan, orang-orang yang dulu dekat perlahan menjauh, dan kepercayaan diri seperti daun kering yang mudah sekali lepas dari tangkainya. Saat itu, saya merasa seperti ladang yang habis dibakar, hitam, hangus, tak menjanjikan apa-apa, tidak berarti lagi.
Lucunya, justru di masa itulah hal-hal kecil mulai muncul. Kebiasaan baru yang dulu tak sempat saya lakukan. Percakapan tak terduga dengan orang yang tak pernah saya perhitungkan. Cara pandang yang pelan-pelan berubah, lebih lunak pada diri sendiri. Waktu itu saya tidak menyebutnya “tunas”. Saya hanya menyebutnya “bertahan” atau "survive". Baru belakangan saya sadar bahwa itu bukan sekadar bertahan, itu tumbuh.
Tunas tidak pernah terlihat heroik. Ia rapuh, kecil, mudah terinjak. Tapi di situlah keberaniannya. Ia tumbuh bukan karena kondisi sudah ideal, melainkan karena dorongan hidup lebih kuat daripada ketakutan akan dipatahkan lagi.
Pohon pisang mungkin salah satu guru kehidupan yang paling sabar. Ia ditebang, dibabat, diambil buahnya, batangnya dipotong, daunnya dipakai. Dari luar, seolah-olah selesai sudah riwayatnya. Sudah habis! Tapi tak lama kemudian, dari samping batang yang tersisa, muncul tunas baru. Hijau muda, segar, seakan tidak punya memori tentang tebasan yang baru saja terjadi. Padahal kita tahu, ia tumbuh dari tanah yang sama. Dari akar yang sama. Dari sejarah yang sama.
Itu yang sering tidak kita miliki sebagai manusia: keberanian untuk tumbuh lagi di tanah kenangan yang sama. Kita cenderung berkata, “Saya sudah pernah terluka di sini,” lalu menutup seluruh kemungkinan. Kita ingin ladang baru, tanah baru, langit baru, padahal kadang yang perlu hanya hati yang mau menjadi tunas, bukan lagi batang besar yang kaku oleh pengalaman.
Tunas pisang tidak menunggu dunia menjadi lembut. Ia menerima kenyataan bahwa dibabat adalah bagian dari siklusnya. Tapi dibabat bukan akhir dari keberadaannya.
Di titik ini, saya belajar memandang kehilangan dengan cara yang sedikit berbeda. Kehilangan bukan hanya tentang apa yang pergi, tapi juga tentang ruang yang tiba-tiba tersedia untuk sesuatu yang baru. Memang, ruang itu awalnya terasa seperti lubang. Tapi lubang juga bisa jadi tempat benih baru jatuh untuk tumbuh menjadi tunas harapan baru.
Kita berpindah fase, seperti berpindah ruas jalan yang tidak selalu kita pilih sendiri. Ada belokan yang menyenangkan, ada tikungan tajam yang membuat dada berdebar. Kita sering ingin berhenti di satu ruas yang nyaman, tapi hidup selalu punya cara halus, bahkan kadang kasar, untuk mendorong kita maju. Setiap dorongan baru itu, kalau dipikir-pikir adalah kesempatan menjadi tunas versi berikutnya.
Bukan versi yang sama persis. Tunas tidak pernah identik dengan batang sebelumnya. Ia membawa bentuk, arah, dan kemungkinan baru. Mungkin itulah sebabnya beberapa bab hidup harus ditutup, sekeras apa pun kita ingin menahannya tetap terbuka.
Saya mulai berdamai dengan gagasan bahwa tidak semua yang patah harus diperbaiki menjadi seperti semula. Ada yang patah supaya sesuatu yang berbeda bisa tumbuh. Ada yang hilang supaya kita tidak terus menjadi orang yang sama, dengan cara yang sama, di lingkaran yang sama.
Tunas-tunas itu mengajarkan saya satu hal sederhana namun sulit di mana harapan tidak selalu datang dalam bentuk besar dan meyakinkan. Kadang ia hadir sebagai niat kecil untuk mencoba lagi. Sebagai keberanian bangun pagi meski hati masih berat. Sebagai keputusan untuk tetap baik, meski pernah disakiti. Itu semua adalah tunas, ia halus, nyaris tak terlihat, tapi arah hidup diam-diam bertumpu padanya.
Mungkin hidup bukan soal menjadi pohon besar yang tak pernah tumbang. Mungkin hidup lebih sering tentang kesediaan menjadi tunas, berulang kali, di usia berapa pun, setelah kegagalan ke berapa pun. Tumbuh lagi, meski tahu dunia tidak selalu ramah. Muncul lagi, meski kenangan lama masih berbekas.
Dan setiap kali saya melihat tunas kecil menembus tanah atau muncul di dahan patah, saya seperti diingatkan pelan-pelan bahwa alam saja tidak lelah memulai ulang, masa saya mau menyerah hanya karena satu bab yang pahit?
Cerita belum selesai. Tunas sudah muncul. 🌱
--- Riri Satria ---
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera