Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • BALIKPAPAN, DAN JEJAK WAKTU YANG TAK PERNAH PERGI

    24 Jan 2026 | Dilihat: 50 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada kota-kota yang kita tinggali. Ada kota-kota yang kita singgahi. Lalu ada kota-kota yang diam-diam ikut membentuk siapa diri kita. Bagi saya, Balikpapan bersama Samarinda, Bontang, dan Tenggarong termasuk dalam golongan terakhir itu.

    Kalimantan Timur bukanlah kampung halaman saya, dan sebelum tahun 1994, saya tidak pernah kepikiran bahwa wilayah itu bukan hanya sekadar titik di peta perjalanan dinas semata. Ia adalah milestone dalam perjalanan karier saya sebagai konsultan manajemen dan teknologi.

    Di sanalah saya belajar bukan hanya tentang strategi, sistem, dan angka-angka, tetapi juga tentang ritme hidup, jarak, rindu, suasana baru, berada di kampung orang, dan tentu saja ketahanan diri.

    Periode pertama, 1994–1997, adalah masa awal karier saya. Saya berusia 24 tahun, belum lama lulus kuliah dari Universitas Indonesia, masih semangat, dan mungkin juga nekat. Saya ditugaskan di Balikpapan dengan pola hidup dua minggu di sana, dua minggu di Jakarta. Hotel yang selalu menjadi tempat tinggal saya waktu itu adalah Hotel Benakutai, hotel besar, agak tua, tapi justru di situlah rasa akrab tumbuh. Kamar hotel perlahan terasa seperti kamar sendiri; lorong-lorongnya menyimpan langkah-langkah lelah sepulang kerja.

    Lama-lama saya hafal jalan-jalan Balikpapan, bukan sekadar nama, tapi bersama semua pegalamannya. Saya pernah dipinjami mobil, menyetir sendiri keliling kota Balikpapan, sebuah kemewahan kecil yang terasa seperti kebebasan besar bagi anak muda yang sedang membangun diri. Tempat makan pun jadi hafal di luar kepala.

    Salah satu favorit saya adalah Sate Tanjung di kawasan Bukit Minyak, tak jauh dari RS Restu Ibu, ke arah Pelabuhan Balikpapan. Rasanya bukan hanya soal bumbu, tapi juga soal momen, makan malam setelah hari panjang penuh analisis dan diskusi. Kalau ingin mencari oleh-oleh atau sekadar melihat denyut lokal kota, saya biasa ke Pasar Kebun Sayur.

    Sesekali tugas membawa saya ke Samarinda dan Bontang. Tahun 1995, saya menghabiskan Ramadan di Balikpapan, pulang ke Jakarta hanya dua hari sebelum Idul Fitri. Ada rasa sepi yang aneh, tapi juga kehangatan dari orang-orang yang perlahan terasa seperti keluarga jauh.

    Periode kedua 1999–2002, kisahnya berpindah ke Bontang. Kota kecil yang rasanya tak sampai sehari sudah bisa dikelilingi. Homebase saya kali ini di sana, dengan klien besar yaitu PT Pupuk Kalimantan Timur. Ketika di Bontang, saya biasanya tinggal bergantian antara Hotel Sintuk Bontang atau mess Pupuk Kaltim. Suasananya berbeda, hotel memberi jarak profesional, sementara mess memberi rasa kebersamaan yang lebih hangat, seperti tinggal di komunitas kecil dengan ritme industri yang kuat.

    Soal kuliner, kenangan juga tak kalah lekat. Saya masih ingat Kepiting Cak Ali tempat makan favorit yang selalu jadi pelipur lelah. Dan tentu saja aneka seafood di Bontang Kuala, perkampungan di atas laut yang punya suasana khas, kayu, angin asin, perahu, dan kehidupan yang berjalan tanpa banyak pretensi.

    Dari Bontang, jalur hidup saya seperti garis yang menghubungkan Balikpapan – Samarinda – Tenggarong. Di Samarinda, ada kenangan yang selalu membuat saya tersenyum yaitu sate rusa di restoran tepi Sungai Mahakam. Makan malam setelah hari panjang penuh debat, revisi strategi, dan angka-angka yang tak mau jinak.

    Sementara di Tenggarong, saya datang di masa ketika jembatan panjang itu belum lama rubuh, sebuah pengingat nyata bahwa infrastruktur, seperti juga hidup, bisa rapuh di luar dugaan.

    Lalu periode ketiga, 2014–2015. Kali ini Samarinda menjadi basis. Kota-kota itu saya datangi lagi, tapi dengan usia, pengalaman, dan cara pandang yang sudah berbeda. Jalan-jalan yang dulu saya hafal sudah berubah, gedung-gedung baru berdiri, wajah kota berganti. Tapi kenangan punya caranya sendiri untuk bertahan, lebih setia daripada peta.

    Menariknya, bahkan sebelum semua penugasan itu, sekitar 1993–1994, saya sudah “tersambung” dengan wilayah ini lewat cara yang tak biasa, yaitu terlibat dalam pembuatan educational digital game “The Eye of Mahakam” bersama Pusat Ilmu Komputer Universitas Indonesia, disponsori UNESCO. Sebuah game pendidikan tentang hutan tropis. Mahakam sudah lebih dulu hadir dalam imajinasi saya sebelum saya benar-benar menyusuri tepinya bebrapa tahun kemudian.

    Di sela pekerjaan, saya juga menyimpan kenangan yang sangat manusiawi, yaitu nonton sepak bola ketika Persiba Balikpapan dan PKT Bontang bermain. Di tribun, semua orang setara, entah itu konsultan, pekerja, mahasiswa, pedagang. Bersorak, kesal, tertawa. Sepak bola, seperti kota-kota itu, mengajarkan bahwa hidup bukan hanya soal target dan laporan.

    Jika saya menoleh ke belakang, kurun 1995–2001 itu seperti bab penting dalam buku hidup saya. Di sana ada tantangan tugas, kasus-kasus rumit, tekanan pekerjaan, tapi juga persahabatan, kemandirian, dan pembentukan karakter. Kota-kota itu mengajarkan saya membaca manusia, bukan hanya data. Mengelola emosi, bukan hanya proyek.

    Sekarang mungkin saya tak lagi hafal semua jalan di Balikpapan. Tapi ada jalan lain yang tetap jelas, yaitu jalan kenangan. Di peta batin saya, Balikpapan, Samarinda, Bontang, dan Tenggarong akan selalu menyala, bukan sebagai lokasi penugasan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan menjadi diri saya hari ini.

    --- Riri Satria - Januari 2026 ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture