Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • ADVERSITY QUOTIENT (AQ): TENTANG DAYA TAHAN DAN HIDUP YANG TAK SELALU RAMAH

    22 Jan 2026 | Dilihat: 61 kali

    oleh: Riri Satria

    Pagi berjalan seperti pagi-pagi lainnya. Secangkir kopi mengepul pelan di meja, udara masih menyisakan dingin sisa malam, dan pikiran belum sepenuhnya terbangun. Hingga sebuah pesan WhatsApp masuk dari seorang sahabat. Singkat, tapi menggelitik ingatan. Ia bertanya tentang Adversity Quotient atau AQ.

    Saya tersenyum kecil. Rupanya ia menemukan jejak digital tulisan lama saya tentang AQ di internet. Tulisan yang sudah saya buat bertahun-tahun lalu, bahkan sebelum media sosial seramai sekarang. Sekitar 17 tahun silam, konsep ini pernah membawa saya ke berbagai ruang diskusi dan workshop. Waktu berlalu, tapi rupanya pertanyaan tentang daya tahan manusia tak pernah benar-benar usang.

    Apa itu Adversity Quotient atau AQ? Secara sederhana, adversity berarti kesulitan, kejadian yang tidak menyenangkan, situasi yang tidak kita harapkan, Bentuknya beragam, mulai dari yang ringan hingga yang terasa menghimpit dada. Nah, AQ adalah ukuran tentang seberapa kuat seseorang bertahan di tengah situasi itu, seberapa mampu ia bangkit, keluar, bahkan mengubah kesulitan menjadi peluang untuk bertumbuh.

    Dalam pengalaman hidup, saya sering melihat betapa perbedaan AQ ini nyata. Orang dengan AQ rendah cenderung cepat menyerah, mudah berputus asa, gamang mengambil keputusan, dan rapuh ketika tekanan datang bertubi-tubi. Sebaliknya, mereka yang memiliki AQ tinggi tidak selalu lebih pintar, tetapi biasanya lebih tahan banting. Mereka mungkin jatuh, tapi tidak betah berlama-lama di tanah lalu bangun dan bangkit.

    Konsep AQ pertama kali diperkenalkan oleh Paul G. Stoltz dalam bukunya Adversity Quotient pada akhir 1990-an. Gagasannya sederhana namun tajam di mana kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi tidak menjamin kesuksesan bila tidak dibarengi dengan daya tahan menghadapi kesulitan. Saya kira kita semua pernah menyaksikan contohnya, yaitu orang-orang yang cemerlang secara akademik, tetapi runtuh ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.

    Tentu AQ bukan satu-satunya “Q” dalam hidup. Kita mengenal Emotional Quotient (EQ) dari Daniel Goleman, Spiritual Quotient (SQ) dari Ian Marshall dan Danah Zohar, dan di Indonesia, Ary Ginanjar memadukan berbagai kecerdasan itu dalam konsep ESQ dengan sentuhan nilai-nilai spiritual. Semua penting, semua saling melengkapi.

    Namun AQ memiliki keistimewaan tersendiri, ia berbicara tentang sikap kita ketika hidup sedang tidak ramah. Tentang pilihan untuk meratapi keadaan atau mencoba bangkit meski tertatih. Paul Stoltz bahkan mengembangkan alat ukur AQ untuk membantu seseorang mengenali potensi daya tahannya sendiri, apakah ia cenderung berhenti di tengah jalan, atau justru menemukan jalan baru saat pintu tertutup.

    Lalu, bagaimana dengan anak-anak dan generasi muda? Bagi saya, justru di sinilah AQ menjadi sangat penting. Kita tentu tidak ingin melahirkan generasi yang cengeng, mudah menyerah, sibuk mengeluh, dan kehilangan nyali saat menghadapi kesulitan. Kecerdasan itu penting, iya. Tetapi tanpa daya tahan, kecerdasan sering kali tak sampai ke tujuan.

    Hidup tidak pernah menjanjikan jalan yang selalu mulus. Namun  kita bisa persiapkan mental untuk tetap melangkah ketika jalan itu berlubang, menanjak, atau bahkan gelap, dan di situlah AQ bekerja diam-diam, tapi menentukan.

    Catatan pagi ini saya tutup dengan harapan sederhana. Semoga kita semua tetap sehat, bersemangat, produktif, dan bahagia penuh keberkahan. Dan lebih dari itu, semoga kita dianugerahi AQ yang tinggi: tidak mudah menyerah, tidak cepat tumbang, dan selalu berani bangkit ketika hidup menguji.

    Salam hangat,

    Riri Satria

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture