Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • ESAI ARGUMENTATIF: KETIKA PENDAPAT BERTEMU NALAR SEBAGAI RUANG DIALOG

    19 Jan 2026 | Dilihat: 79 kali

    oleh: Riri Satria

    Tulisan esai argumentatif sering kali disalahpahami sebagai tulisan yang kaku, penuh data, dan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal justru sebaliknya. Esai argumentatif adalah ruang di mana pikiran, pengalaman personal, dan keberpihakan penulis bertemu dengan nalar yang jernih. Ia bukan sekadar upaya membuktikan siapa yang paling benar, melainkan ajakan untuk berpikir bersama, dengan alasan, dengan kesadaran, dan dengan kejujuran.

    Dalam pengalaman saya membaca dan menulis, esai argumentatif hampir selalu berangkat dari kegelisahan. Ada sesuatu yang terasa tidak beres, terlalu disederhanakan, atau diterima begitu saja oleh banyak orang.

    Misalnya, ketika muncul anggapan bahwa membaca buku tidak lagi relevan di era media sosial. Pernyataan itu terdengar masuk akal di permukaan, tetapi menimbulkan resistensi batin. Bukan semata karena saya menyukai buku, melainkan karena pengalaman hidup saya menunjukkan hal yang berbeda.

    Dari kegelisahan itu, saya mengambil posisi bahwa membaca buku tetap relevan, bahkan semakin penting. Inilah titik awal esai argumentative yaitu keberanian mengambil sikap.

    Namun, sikap tersebut tidak berhenti pada pernyataan personal. Ia harus dijelaskan, dipertanggungjawabkan, dan diuji secara logis. Buku, bagi saya, memberi ruang untuk berpikir pelan di tengah dunia yang serba cepat. Ia mengajarkan ketekunan, kedalaman, dan empati, hal-hal yang sering tergerus oleh budaya scroll tanpa henti.

    Agar argumen tidak mengambang, contoh konkret menjadi penting. Saya bisa menunjuk pengalaman sederhana bagaimana sebuah novel membuat saya memahami luka orang lain yang tak pernah saya alami sendiri, atau bagaimana buku nonfiksi membantu saya membaca persoalan sosial dengan lebih utuh, tidak hitam-putih. Contoh-contoh semacam ini membuat argumen tidak terasa abstrak. Pembaca tidak hanya diajak berpikir, tetapi juga diajak merasakan.

    Di sinilah esai argumentatif populer sering disamakan dengan tulisan ilmiah, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar.

    Tulisan ilmiah atau esai ilmiah bertujuan utama menghasilkan pengetahuan baru atau menguji pengetahuan yang sudah ada. Ia tunduk pada metode yang ketat, bahasa yang formal, serta struktur yang baku. Penulisnya dituntut menjaga jarak emosional, karena objektivitas menjadi nilai utama.

    Esai argumentatif, terutama dalam bentuk populer, bergerak di jalur yang berbeda. Tujuannya bukan menghasilkan temuan ilmiah, melainkan mempengaruhi cara pandang. Ia boleh subjektif, sepanjang subjektivitas itu disusun secara rasional. Pengalaman pribadi tidak dianggap gangguan, justru menjadi sumber legitimasi argumen. Bahasa yang digunakan pun lebih cair, komunikatif, dan dekat dengan pembaca, tanpa kehilangan ketajaman berpikir.

    Perbedaan lainnya terletak pada hubungan dengan pembaca. Tulisan ilmiah berbicara kepada komunitas akademik yang relatif terbatas, sementara esai argumentatif populer berbicara kepada siapa saja yang bersedia berpikir. Ia tidak menggurui, tidak pula bersembunyi di balik istilah teknis. Ia mengajak berdialog, bukan mengunci kesimpulan secara sepihak.

    Meski demikian, esai argumentatif yang baik tetap bersikap adil. Ia tidak menutup mata terhadap pandangan lain. Dalam isu membaca buku, misalnya, saya mengakui bahwa media sosial memberi akses informasi yang cepat dan luas. Tetapi di titik itu pula argumen diuji, cepat tidak selalu berarti mendalam, dan luas tidak selalu berarti utuh. Dengan mengakui argumen tandingan, esai argumentatif justru menjadi lebih dewasa dan meyakinkan.

    Sentuhan emosi personal menjadi elemen yang memperkuat, bukan melemahkan. Ketika saya menulis tentang membaca, saya juga menulis tentang momen-momen sunyi, seperti menutup buku, menatap dinding, dan merasa ada satu kalimat yang terlalu dekat dengan hidup saya. Emosi seperti ini bukan sentimentalitas kosong. Ia adalah bukti bahwa gagasan yang saya bela telah melewati pengalaman dan perenungan.

    Pada akhirnya, esai argumentatif adalah latihan keberanian intelektual dan emosional. Keberanian untuk berkata, “Saya berpihak,” sekaligus kesiapan untuk menjelaskan mengapa.

    Di tengah dunia yang dipenuhi opini singkat dan reaksi instan, esai argumentatif hadir sebagai pengingat bahwa berpikir adalah proses, dan meyakinkan orang lain adalah kerja yang membutuhkan nalar sekaligus empati.

    ---- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture