Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • TENTANG ESAI REFLEKTIF: APA DAN BAGAIMANA?

    18 Jan 2026 | Dilihat: 133 kali

    oleh: Riri Satria

    Esai adalah salah satu bentuk tulisan yang memberi ruang luas bagi penulis untuk menyampaikan gagasan, pandangan, dan penilaiannya terhadap suatu hal dengan cara yang bebas, tetapi tetap bertanggung jawab secara nalar. Ia tidak seketat karya ilmiah yang penuh data dan metodologi, namun juga tidak sebebas fiksi yang sepenuhnya imajinatif. Dalam esai, pikiran penulis menjadi poros utama, sementara fakta, pengalaman, dan referensi berfungsi sebagai penopang agar gagasan terasa hidup dan masuk akal bagi pembaca.

    Di antara berbagai jenis esai, esai reflektif menempati posisi yang khas. Ini adalah bentuk esai yang saya sukai. Banyak tulisan esai saya berbentuk esai reflektif.

    Esai reflektif bertolak dari pengalaman personal, ingatan, atau peristiwa yang dialami penulis, lalu bergerak lebih jauh ke wilayah perenungan. Pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai cerita, tetapi dipikirkan kembali, ditafsirkan, dan diberi makna. Lalu yang ditawarkan kepada pembaca bukan sekadar kisah “apa yang terjadi”, melainkan “apa arti semua itu” bagi penulis dan, secara lebih luas, bagi kehidupan manusia.

    Tujuan utama esai reflektif bukanlah untuk menggurui atau mengklaim kebenaran mutlak, melainkan untuk memahami. Penulis berusaha memahami dirinya sendiri, perubahan cara pandangnya, serta nilai-nilai yang muncul dari pengalaman tersebut.

    Pada saat yang sama, pembaca diajak ikut masuk ke dalam proses perenungan itu. Pengalaman yang sangat personal justru menjadi jembatan menuju hal-hal yang universal, yaitu tentang kehilangan, harapan, waktu, ingatan, alam, persahabatan, atau iman. Di situlah kekuatan esai reflektif bekerja, ketika kisah “saya” perlahan berubah menjadi kisah “kita”.

    Ciri khas esai reflektif terletak pada kejujuran suara penulis. Tulisan ini sering menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi tidak jatuh pada sikap egois atau narsistik. Bahasa yang dipakai cenderung mengalir, bernuansa emosional, namun tetap terjaga kejernihannya. Ada jarak yang disadari antara peristiwa dan makna, antara apa yang dialami dan apa yang direnungkan. Esai reflektif juga tidak terburu-buru menyimpulkan. Ia memberi ruang pada keraguan, pertanyaan, bahkan keheningan, karena hidup sendiri jarang menawarkan jawaban yang sepenuhnya tuntas.

    Esai reflektif paling tepat digunakan ketika seseorang ingin menuliskan pengalaman hidup dan memberinya makna, ketika peristiwa pribadi terasa memiliki gema sosial, kultural, atau kemanusiaan yang lebih luas. Ia sering hadir dalam tulisan populer di media massa, blog, atau buku esai yang bertujuan mengajak pembaca berpikir dan merasakan, bukan berdebat.

    Dalam konteks tertentu, esai reflektif juga menjadi cara yang halus dan bermartabat untuk mengenang seseorang, merespons perubahan zaman, atau merefleksikan relasi manusia dengan alam dan nilai-nilai yang diyakininya.

    Menulis esai reflektif yang baik membutuhkan keberanian untuk jujur dan kesabaran untuk merenung. Pengalaman yang dipilih tidak harus besar atau dramatis; sering kali justru hal-hal sederhana yang paling kuat daya refleksinya. Penulis perlu menahan diri agar tidak larut dalam cerita semata, lalu memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja, apa yang sebenarnya dipelajari, apa yang berubah, dan mengapa pengalaman itu layak dibagikan.

    Bahasa yang digunakan sebaiknya sederhana dan jujur, karena emosi yang tulus jauh lebih mengena daripada kalimat yang rumit. Pada akhirnya, esai reflektif yang baik tidak menutup pembacaan dengan kesimpulan kaku, melainkan dengan perenungan yang terbuka, membiarkan pembaca membawa pulang makna masing-masing.

    Perbedaan esai reflektif dengan esai jenis lainnya terutama terletak pada titik tolak berpikir, tujuan penulisan, dan posisi penulis di dalam teks. Semua esai memang berisi gagasan, tetapi cara gagasan itu lahir dan disampaikan sangat berbeda.

    Esai reflektif berangkat dari pengalaman personal. Pengalaman itu bisa berupa kejadian nyata, kenangan, perjumpaan, atau pergulatan batin penulis. Namun pengalaman tersebut bukan tujuan akhir. Ia hanyalah pintu masuk untuk perenungan. Dalam esai reflektif, penulis hadir sebagai subjek yang berpikir, meragukan, dan belajar. Tulisannya menanyakan makna, bukan sekadar menyatakan pendapat. Karena itu, esai reflektif cenderung lebih tenang, kontemplatif, dan emosional, tetapi tidak meledak-ledak. Kebenaran yang ditawarkan bersifat terbuka, bukan final.

    Berbeda dengan itu, esai argumentatif bertolak dari pendapat atau tesis yang ingin dipertahankan. Tujuannya jelas yaiu meyakinkan pembaca. Pengalaman pribadi, jika ada, hanya berfungsi sebagai contoh pendukung, bukan pusat cerita. Nada tulisan biasanya lebih tegas, logis, dan persuasif. Penulis tidak sedang merenung, melainkan sedang berargumentasi dan mengambil posisi.

    Esai ekspositori atau informatif berfokus pada penjelasan. Ia bertujuan membantu pembaca memahami suatu konsep, isu, atau fenomena. Posisi penulis cenderung netral dan menjaga jarak. Pengalaman pribadi hampir tidak digunakan, dan jika pun ada, biasanya sangat minimal. Pada tulisan ini yang diutamakan adalah kejelasan, keteraturan, dan akurasi informasi.

    Esai deskriptif menitikberatkan pada penggambaran. Ia menghadirkan suasana, tempat, atau peristiwa dengan detail yang kuat agar pembaca seolah-olah ikut melihat atau merasakan. Namun esai jenis ini tidak selalu mengajak pembaca berpikir lebih jauh tentang makna. Refleksi bisa ada, tetapi bukan inti utama.

    Ada pula esai kritik, yang berfokus pada penilaian terhadap karya, kebijakan, atau fenomena budaya. Penulis menimbang kelebihan dan kekurangan, menggunakan kerangka teori atau sudut pandang tertentu. Jarak antara penulis dan objek biasanya dijaga agar penilaian terasa objektif.

    Di sinilah letak keunikan esai reflektif. Ia tidak sibuk menjelaskan, tidak bernafsu meyakinkan, dan tidak tergesa menilai. Esai reflektif justru memberi ruang pada proses batin penulis yaitu bagaimana sebuah pengalaman membentuk kesadaran, mengubah cara pandang, atau melahirkan pertanyaan baru. Pembaca tidak dipaksa setuju, tetapi diajak ikut berjalan dalam proses berpikir itu.

    Singkatnya, jika esai jenis lain bertanya “Apa yang harus saya jelaskan, bela, atau nilai?”, maka esai reflektif bertanya “Apa makna pengalaman ini bagi saya dan apa yang mungkin bisa kita renungkan bersama?”. Itulah yang membuat esai reflektif terasa lebih personal, lebih hening, dan sering kali lebih membekas.

    Esai reflektif tidak sepenuhnya sama dengan esai kontemplatif, tetapi keduanya sangat berdekatan dan sering saling beririsan. Perbedaannya halus, lebih soal penekanan sikap batin dan arah perenungan, bukan soal bentuk yang benar–salah.

    Esai reflektif biasanya lahir dari pengalaman konkret. Ada peristiwa, kenangan, atau situasi nyata yang menjadi titik berangkat. Sementara itu, esai kontemplatif lebih menekankan pada perenungan batin yang mendalam dan berkelanjutan. Ia tidak selalu memerlukan peristiwa konkret sebagai pemicu. Kadang ia berangkat dari sebuah gagasan abstrak, keheningan, pertanyaan eksistensial, atau perasaan yang samar. Arah geraknya merenungi makna hidup, iman, kefanaan, kesadaran, atau relasi manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Esai kontemplatif sering terasa lebih sunyi, lambat, dan meditatif.

    Jika dibedakan secara nuansa, esai reflektif bertanya, “Apa arti pengalaman ini bagi hidup saya?” sedangkan esai kontemplatif bertanya, “Apa arti hidup ini sendiri ketika saya diam dan memikirkannya?” Reflektif masih menoleh pada kejadian, kontemplatif lebih lama berdiam dalam kesadaran.

    Namun dalam praktik menulis, keduanya sering menyatu. Sebuah esai reflektif bisa berkembang menjadi kontemplatif ketika perenungannya semakin dalam dan tidak lagi terikat pada peristiwa awal. Sebaliknya, esai kontemplatif kerap menggunakan potongan pengalaman kecil sebagai pintu masuk agar perenungannya terasa lebih nyata dan tidak melayang.

    Karena itu, alih-alih memisahkannya secara kaku, lebih tepat melihat esai reflektif dan esai kontemplatif sebagai dua spektrum dalam satu keluarga tulisan perenungan. Bedanya bukan pada bentuk, melainkan pada kadar keheningan dan kedalaman batin yang ingin dicapai.

    Dalam dunia yang serba cepat dan penuh opini, esai reflektif (juga esai kontemplatif) hadir sebagai jeda. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menengok ke dalam, lalu memandang keluar dengan kesadaran yang lebih utuh.

    Selamat menulis. Selamat merefleksikan makna perjalanan hidup 👍🥰😎⭐️🇮🇩

    --- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture