Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Saya sering merasa pikiran ini seperti kabut. Ia datang tiba-tiba, berkelebat di kepala, lalu menghilang tanpa pamit. Banyak sekali gagasan yang sebenarnya bermakna, tetapi lenyap begitu saja karena tidak pernah saya tuliskan. Dari situlah saya semakin yakin bahwa menulis bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan proses menyeberangkan sesuatu yang samar di dalam pikiran atau taci, menjadi eksplisit atau sesuatu yang nyata, terbaca, dan bisa disimak orang lain. Menulis adalah cara saya mengabadikan pikiran agar ia tidak mati sia-sia.
Sebuah pemikiran secerdas apa pun, akan hilang jika hanya dipelihara di kepala. Ia rapuh dan mudah dilupakan. Tetapi ketika ditulis, ia menjadi jejak serta menjadi saksi bahwa kita pernah berpikir, pernah gelisah, pernah berusaha memahami dunia.
Sejarah berkali-kali menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan tulisan. Adolf Hitler, melalui Mein Kampf dan slogan “Deutschland über alles”, mampu membangkitkan nasionalisme kolektif bangsa Jerman pasca kekalahan Perang Dunia I. Kita tahu kisah ini berakhir tragis dan kelam, namun justru di situlah pelajarannya bahwa sebuah tulisan mampu menggerakkan jutaan manusia, ke arah yang membangun ataupun menghancurkan. Kata-kata tidak pernah netral.
Di negeri kita sendiri saya selalu teringat Widji Thukul. Seorang penyair yang diburu aparat, hingga kini entah rimbanya di mana. Jika direnungkan dengan jujur, apa sebenarnya yang membuat seorang Widji Thukul begitu ditakuti oleh sebuah rezim? Ia tidak memiliki senjata, tidak memimpin pasukan. Ia “hanya” punya puisi. Tetapi puisi-puisi itulah yang sanggup menggetarkan kekuasaan, karena kata-kata yang jujur sering kali lebih berbahaya daripada peluru.
Di titik ini, saya semakin sadar bahwa menulis bukan perkara sepele. Ia bukan sekadar hobi pengisi waktu luang. Menulis adalah tanggung jawab.
Tentu saja, menulis memiliki kaidah. Penulisan ilmiah tunduk pada aturan yang ketat dan baku. Tulisan hukum dan regulasi pun demikian. Sastra memang memberi ruang kebebasan, tetapi bukan berarti tanpa disiplin. Bahkan dalam puisi, kita mengenal istilah licentia poetica. Ini bukan pembenaran untuk asal-asalan, melainkan kebebasan yang disadari atau penyimpangan yang punya tujuan estetik dan makna, bukan karena kemalasan atau ketidaktahuan.
Saya percaya bahwa tulisan yang dibuat tanpa kesungguhan hanya akan melahirkan kekacauan makna. Pikiran penulisnya sendiri tidak utuh, apalagi yang sampai ke pembaca. Karena itu, menulis selalu membutuhkan kesadaran akan “aturan”, sekurang-kurangnya aturan berpikir jernih dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita sampaikan.
Hal paling mendasar dalam menulis adalah penguasaan terhadap topik. Tata bahasa boleh rapi, gaya boleh memikat, tetapi jika isinya keliru karena miskin pengetahuan, tulisan itu akan runtuh dari dalam. Di sinilah membaca menjadi kunci. Membaca memperkaya perspektif, menajamkan intuisi, dan menumbuhkan kerendahan hati. Iqra’ aa bacalah, bukan sekadar perintah spiritual, melainkan fondasi intelektual.
Saya meyakini, setiap orang yang menulis sejatinya sedang ikut membangun peradaban. Apa pun bentuknya, bisa karya ilmiah, reportase, novel, puisi, esai, bahkan status media sosial, selama ia mampu membangkitkan proses berpikir pada pembacanya, maka ia sudah memberi sumbangan. Kadang kecil, kadang nyaris tak terlihat, tetapi tetap berarti.
Terlebih lagi jika tulisan itu melahirkan dialog, diskusi, bahkan polemik. Dari sanalah pemikiran kita diasah. Ilmu pengetahuan tumbuh seperti tembok yang disusun dari batu bata. Setiap batu bata adalah gagasan seseorang yang dituliskan. Ada yang saling menguatkan, ada yang saling mengoreksi, ada yang merinci dan memperluas. Secara alami, semuanya bergerak menuju penyempurnaan.
Karena itu, saya tidak pernah alergi pada perdebatan selama ia dilandasi kejujuran intelektual dan keinginan untuk saling belajar. Kita perlu hindari adalah debat kusir, polemik kosong yang menguras energi, atau perdebatan dengan orang yang merasa sudah mengetahui seluruh isi alam semesta. Untuk yang terakhir ini, barangkali mengabaikan adalah pilihan paling bijak.
Pada akhirnya, saya sampai pada satu keyakinan sederhana bahwa tidak ada tulisan yang sepenuhnya sempurna sejak pertama kali lahir. Tetapi tulisan selalu bisa diperbaiki, disempurnakan, ditajamkan dari waktu ke waktu. Jangan menulis dengan sembrono, tanpa niat, tanpa tanggung jawab.
Maka, jika ada satu ajakan yang ingin saya sampaikan, baik kepada diri saya sendiri serta kepada siapa pun yang membaca ini, ajakan itu sederhana saja. Ayo menulis! Karena dengan menulis, kita tidak hanya merawat pikiran kita sendiri, tetapi juga ikut menjaga nyala kecil peradaban manusia.
Salam.
--- Riri Satria
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera