Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • JANUARI, PAPI, DAN JEJAK YANG TAK PERNAH PERGI: Mengenang Ayahanda alm Chaidir Anwar

    11 Jan 2026 | Dilihat: 109 kali

    Setiap bulan Januari, ada sesuatu yang selalu terasa lebih sunyi dalam batin saya. Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang dipenuhi kenangan, percakapan yang tak lagi terucap, dan kehadiran yang justru terasa semakin dekat dalam ingatan.

    Januari bagi keluarga besar kami bukan sekadar pergantian tahun, melainkan ruang waktu untuk kembali menyebut nama Ayahanda Chaidir Anwar, yang biasa kami panggil Papi dulu sejak saya kecil.

    Tanggal 16 Januari 2012 adalah tanggal ketika Papi berpulang menghadap Sang Khalik. Dua hari setelahnya, 18 Januari, seharusnya menjadi hari ulang tahunnya. Papi lahir pada tahun 1938, dan entah kebetulan atau kehendak yang lebih besar, bulan Januari seolah menjadi simpul hidup Papi, kelahiran dan kepulangan, awal dan akhir, bertemu dalam satu bulan yang sama. Sejak itu, Januari tidak pernah lagi netral bagi saya. Ia selalu membawa rasa yang berlapis, antara rindu, syukur, dan keikhlasan yang terus saya pelajari.

    Banyak orang terutama rekan-rekan dan sahabat yang mengenal Papi sering mengatakan bahwa saya memiliki banyak kesamaan dengan Papi. Cara berbicara, cara berpikir, bahkan pilihan jalan hidup. Papi menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai dosen dan konsultan manajemen.

    Papi percaya pada kekuatan ilmu, pada disiplin berpikir, dan pada pentingnya perubahan yang dikelola dengan kesadaran. Ketika saya mendengar itu semua, saya sering tersenyum kecil. Ya, memang tidak terlalu jauh berbeda dengan saya sekarang. Namun baru belakangan saya benar-benar menyadari mungkin saya bukan sekadar “mirip”, melainkan sedang berjalan di jejak yang sama tanpa saya sadari.

    Ada satu foto lama yang selalu membuat saya terdiam lebih lama dari yang saya kira. Foto itu menampilkan Papi sedang membawakan sebuah workshop bertajuk "Managing Strategic Changes" di Nusa Dua Beach Hotel, Bali, pada tahun 1979. Wajahnya serius, gesturnya tenang, dan sorot matanya menunjukkan keyakinan seorang pendidik.

    Saat foto itu diambil, saya masih berusia 9 tahun. Mungkin saat itu saya belum benar-benar mengerti apa yang Papi kerjakan. Ia hanya ayah yang sering pergi membawa tas kerja, buku-buku tebal, sering terbang ke mana-mana. Tentu saja cerita-cerita tentang kelas, diskusi, serta perubahan organisasi yang bagi anak seusia saya saat itu terdengar asing.

    Waktu, seperti biasa berjalan tanpa meminta izin. Tiga puluh lima tahun kemudian, teepatya pada tahun 2014, saya berdiri di hotel yang sama yaitu Nusa Dua Beach Hotel di Bali, dan membawakan sebuah workshop dengan judul yang hanya sedikit berbeda "Managing Corporate Level Strategy".

    Ketika menyadari kesamaan itu, dada saya terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah ada garis tak kasatmata yang menghubungkan kami melintasi waktu. Seolah Papi sedang tersenyum dari kejauhan, berkata pelan, “Kamu sudah sampai di sini.”

    Di momen itu saya benar-benar merasakan bahwa hidup bukan hanya tentang pilihan-pilihan rasional, tetapi juga tentang warisan yang bekerja diam-diam. Nilai, etos, dan cara memandang dunia yang ditanamkan tanpa ceramah panjang, tanpa paksaan. Papi tidak pernah berkata, “Jadilah seperti saya.” Ia hanya menjalani hidupnya dengan sungguh-sungguh, dan rupanya itu sudah lebih dari cukup mejadi pemandu arah buat saya.

    Kini bertahun-tahun setelah kepergiannya, saya semakin memahami bahwa kehilangan tidak selalu berarti ketiadaan. Dalam banyak hal, Papi justru hadir dalam cara saya berpikir, dalam cara saya mengajar, dalam cara saya memaknai perubahan dan kehidupan itu sendiri.

    Papi termasuk dalam rombongan pemuda Sumatera Barat generasi pertama yang disekolahkan ke luar negeri pasca peristiwa PRRI, menghabiskan masa kuliahnya sejak tahun 1960 di New York (S1 dari State University of New York) dan Hawaii (S2 dari University of Hawaii), lalu kembali ke tanah air tahun 1967 dan mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan menjadi dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang, dan beberapa perguruan tinggi lainnya di Padang.

    Papi tetap mengajar sampai akhir hayatnya, dan sangat menikmati profesinya sebagai dosen. Setelah berpulang menghadap Allah SWT Sang Pencipta dan Pemilik Alam Semesta, beliau dimakamkan di kota Padang.

    Setiap kali Januari datang, saya kembali mengingat bahwa hidup ini singkat, namun jejaknya bisa panjang jika dijalani dengan makna.

    Ah, perjalanan hidup itu memang menarik, penuh kebetulan yang terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan semata. Miss you so much, Dad. Papi mungkin telah berpulang, tetapi percakapan kami belum benar-benar selesai.

    (Riri Satria - Januari 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture