Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • AI, KEPEMIMPINAN, DAN KECEMASAN YANG PELAN-PELAN MENJADI HARAPAN

    11 Jan 2026 | Dilihat: 63 kali

    oleh: Riri Satria

    Belakangan ini saya semakin merasa bahwa pembicaraan tentang AI sering berhenti terlalu cepat dan sempit. Ia sering dibatasi menjadi isu teknologi, soal perangkat lunak, algoritma, atau efisiensi kerja. Ringkasnya, seolah AI itu anya soal teknis semata. Padahal semakin saya membaca dan merenungkan berbagai buku tentang AI dan kepemimpinan, justru semakin kuat keyakinan saya bahwa AI bisa menjadi pembantu dahsyat buat kita memimpin, mengelola organisasi, dan memandang manusia, jika dipergunakan dengan baik dan benar, serta penuh etika.

    Enam buku tentang AI dan leadership yang saya cermati ini, dengan gaya dan latar yang berbeda-beda, berbicara dalam satu nada yang sama bahwa AI tidak sedang mengambil alih kepemimpinan manusia, tetapi sedang menguji kedewasaan kepemimpinan itu sendiri. Nah, menarik bukan?

    Teknologi  mempercepat segalanya, yaitu proses membuat keputusan, analisis, bahkan mendeteksi kesalahan. Di titik inilah saya merasa ada kegelisahan yang tak bisa dihindari. Jika seorang pemimpin tidak memiliki arah, nilai, dan keberanian moral, maka AI hanya akan memperbesar kekosongan itu.

    Keenam buku pada foto tulisan ini yang tentang AI dan leadership  datang dari arah yang berbeda, tetapi bertemu di satu persimpangan yang sama, di mana masa depan tidak sedang menunggu kita memahami teknologi, melainkan menunggu kita memimpin perubahan yang dibawanya.

    Hampir semua buku tersebut mulai dari "The AI-Driven Leader" karya Geoff Woods hingga "AI Leadership Handbook" oleh Andreas Welsch menegaskan satu pesan penting yaitu AI memperbesar kualitas pemimpinnya. Ia bukan penyelamat bagi kepemimpinan yang rapuh, justru bisa menjadi cermin yang memantulkan kelemahan paling mendasar. Jadi AI akan mengamplifikasi gaya kepeimpinan itu sendiri.

    AI bisa membuat keputusan lebih cepat, tetapi arah tetap ditentukan manusia. AI bisa menyajikan data, tetapi makna tetap dibentuk oleh nilai. Di sini saya merasa tersentil secara personal: seberapa sering kita berlindung di balik teknologi untuk menghindari tanggung jawab moral atas keputusan yang kita ambil? Seolah AI atau perangkat teknologi lainnya yang salah!

    Buku seperti "AI for the Authentic Leader" karya Allison Shapira dan "AI for Leaders" oleh Mia Liljeberg memberi penekanan sangat penting di mana AI tidak boleh mencabut manusia dari pusat kepemimpinan. Justru sebaliknya, teknologi ini menuntut pemimpin untuk semakin jujur pada nilai-nilai kemanusiaannya.

    Ada kegelisahan yang saya rasakan saat membaca gagasan-gagasan ini, yaitu bagaimana jika organisasi masa depan terlalu terpesona oleh kecanggihan, tetapi lupa pada empati? Bagaimana jika komunikasi menjadi efisien, tetapi kehilangan kehangatan?

    "The Future of Leadership in the Age of AI" karya Marin dan Luka Ivezic membawa saya pada refleksi yang lebih luas bahwa AI sedang mengubah cara kita bekerja, tetapi yang lebih penting, ia mengubah cara kita memaknai peran manusia, termasuk sebagai pemimpin.

    Kepemimpinan tidak lagi soal kontrol, melainkan kurasi makna. Tidak lagi soal perintah, tetapi membangun kepercayaan di tengah ketidakpastian. Pemimpin masa depan bukan yang paling teknis, tetapi yang paling mampu menjembatani manusia dengan mesin secara bermartabat.

    Saya pribadi melihat ini sebagai tantangan moral yang besar. Sebab di balik narasi efisiensi, selalu ada risiko eksklusi. Dan di situlah kepemimpinan diuji, apakah AI dipakai untuk memperluas keadilan, atau justru memperdalam kesenjangan?

    Saya semakin percaya bahwa AI bukan sekadar alat bantu berpikir, melainkan semacam partner diam yang menuntut kita bertanggung jawab atas apa yang kita putuskan. Buku-buku seperti karya Geoff Woods dan Andreas Welsch membuat saya sadar bahwa AI memang bisa membantu kita berpikir lebih strategis, lebih tajam, dan lebih cepat.

    Namun tidak satu pun dari mereka mengatakan bahwa AI dapat menggantikan kebijaksanaan. Keputusan tetap harus lahir dari manusia yang memahami konteks, dampak, dan konsekuensi etisnya. Di sini saya merasa tersentuh secara personal, karena betapa mudahnya kita berlindung di balik data dan rekomendasi mesin untuk menghindari rasa bersalah atas keputusan yang sulit.

    Semakin jauh membaca, semakin jelas bahwa persoalan terbesar bukanlah apakah organisasi siap secara teknologi, melainkan apakah ia siap secara budaya dan kemanusiaan. Beberapa buku dengan tegas mengingatkan bahwa adopsi AI tanpa kepemimpinan yang matang hanya akan melahirkan organisasi yang dingin, efisien, tetapi rapuh.

    Ada rasa khawatir yang tumbuh dalam diri saya: jangan-jangan kita sedang membangun sistem yang canggih, tetapi kehilangan empati; mengagungkan kecepatan, tetapi mengorbankan kepercayaan.

    Satu hal yang paling mengena bagi saya adalah penekanan bahwa AI seharusnya tidak mengikis keaslian manusia, justru menantangnya untuk semakin jujur. Dalam konteks kepemimpinan, ini berarti keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri, berkomunikasi dengan empati, dan menjaga nilai, meski keputusan kini dibantu oleh mesin. Saya merasa ini bukan perkara sepele. Di dunia yang serba otomatis, menjadi pemimpin yang manusiawi justru menjadi pilihan yang semakin berat dan semakin penting.

    Buku-buku yang membahas masa depan kerja di era AI juga memantik refleksi yang lebih dalam. AI bukan hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi cara kita memaknai pekerjaan itu sendiri. Ia menggeser peran, merombak struktur, dan memaksa kita bertanya ulang, apa yang benar-benar hanya bisa dilakukan manusia dan tidak bisa dilakukan oleh mesin? Saya merasakan campuran antara kekhawatiran dan harapan. Kekhawatiran karena perubahan ini bisa meninggalkan banyak orang di belakang. Harapan karena, jika dipimpin dengan bijak, AI justru bisa membebaskan manusia untuk kembali pada kerja-kerja yang bermakna.

    Dari enam buku ini, satu kesimpulan besar terus bergema dalam pikiran saya bahwa AI tidak pernah netral. Ia selalu membawa nilai dari pemimpin dan organisasi yang menggunakannya. Jika nilai itu sempit, AI akan menjadi alat dominasi. Jika nilai itu inklusif dan etis, AI bisa menjadi sarana pembebasan. Pada titik ini, diskusi tentang AI berhenti menjadi soal teknologi dan berubah menjadi pertanyaan tentang siapa kita sebagai manusia.

    Mungkin inilah yang membuat saya semakin yakin bahwa AI adalah isu kepemimpinan dalam arti paling mendasar. Ia memaksa kita bercermin, menimbang ulang keberanian moral, dan menguji apakah kita siap memimpin bukan hanya dengan kecerdasan, tetapi dengan nurani. Di tengah semua kecanggihan itu, saya justru merasa bahwa masa depan akan sangat ditentukan oleh hal yang paling sederhana, tetapi paling sulit, apakah kita masih mau memimpin dengan kemanusiaan.

    Enam buku ini tidak memberi jawaban tunggal, tetapi menawarkan satu kesadaran bersama bahwa masa depan tidak akan pernah ditentukan oleh AI, melainkan oleh kualitas kepemimpinan manusia yang menggunakannya.

    (Riri Satria)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture