Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Analisis yang bekembang terkait serangan militer AS ke Venezuela baru-baru ini, terdapat pula penggunaan operasi siber atau serangan digital sebagai bagian dari strategi yang lebih luas, walau belum ada pengakuan resmi penuh dari pemerintah atau militer Amerika Serikat.
Beberapa sumber independen dan pemantau jaringan menyebut bahwa dalam operasi tersebut kemungkinan ada serangan siber yang menargetkan jaringan komunikasi dan infrastruktur digital Venezuela. Analisis lain menunjukkan bahwa ini bagian dari strategi modern yang menggabungkan kekuatan militer konvensional dan kemampuan pertempuran digital yang semakin penting di medan konflik kontemporer.
Analisis keamanan digital global menunjukkan bahwa peristiwa ini dipandang sebagai indikator bahwa ultimatum dan strategi militer modern saat ini seringkali tidak hanya terjadi lewat bom dan senjata tradisional, tetapi juga lewat serangan tak terlihat di ruang siber yang bisa menjatuhkan sistem komunikasi, jaringan layanan publik, bahkan infrastruktur strategis lainnya, tanpa satu pun peluru yang perlu ditembakkan ke arah fasilitas fisik yang nyata. Pelurunya adalah kode atau algoritma.
Nah, dengan demikian membaca buku "Dawn of the Code War" terasa seperti membaca peta baru dan modern tentang medan perang yang tidak pernah benar-benar kita lihat, tetapi dampaknya kita rasakan setiap hari. Buku ini berbicara tentang Amerika Serikat, Rusia, China, dan aktor-aktor global lain, namun sebagai orang Indonesia, saya justru merasa sedang diajak bercermin oleh buku tersebut. Apa yang digambarkan John P. Carlin bukanlah cerita jauh di luar sana, melainkan potret masa kini yang perlahan juga sedang kita jalani di Indoneia.
Buku ini menunjukkan bahwa perang siber bukan lagi soal peretasan individu atau aksi kriminal digital semata. Ia telah menjadi instrumen negara, alat geopolitik, dan senjata strategis yang bekerja dalam senyap. Serangan tidak perlu menjatuhkan bom atau mengirim pasukan. Cukup melumpuhkan jaringan listrik, sistem logistik, bandara, pelabuhan, perbankan, atau menyusup ke ruang informasi publik, maka sebuah negara bisa goyah dari dalam. Serangan yang dilakukan bukan hanya terhadap sistem, tetapi kepercayaan, stabilitas, dan nalar kolektif.
Membaca ini dari konteks Indonesia menghadirkan kegelisahan yang khas. Kita adalah negara besar dengan populasi digital yang masif, birokrasi yang kompleks, serta ketergantungan tinggi pada teknologi informasi. Transformasi digital berjalan cepat, sering kali dirayakan sebagai simbol kemajuan dan efisiensi. Namun buku ini mengingatkan dengan tegas bahwa digitalisasi tanpa ketahanan adalah kerentanan yang disamarkan sebagai kemajuan. Semakin terhubung sebuah bangsa, semakin besar pula konsekuensi ketika koneksi itu diserang.
Buku "Dawn of the Code War" tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi tentang manusia di baliknya. Buku ini uga membahas tentang pengambil kebijakan yang sering tertinggal dari kecepatan teknologi, tentang institusi yang bekerja dalam sekat-sekat sektoral, dan tentang masyarakat yang tanpa sadar menjadi medan tempur informasi.
Di sinilah saya melihat relevansi yang sangat kuat dengan Indonesia, terutama dalam konteks demokrasi dan ruang publik digital. Hoaks, disinformasi, polarisasi, dan perang narasi bukan sekadar gangguan sosial, melainkan bagian dari spektrum konflik siber yang lebih luas. Perang ini tidak selalu bertujuan menghancurkan sistem, tetapi cukup melemahkan kepercayaan dan kebersamaan. Untuk konteks Indonesia, yaitu melemahkan semangat kekuatan Bhinneka Tunggal Ika.
Pengalaman di dunia akademik membuat refleksi ini semakin terasa dekat. Di kampus, teknologi sering hadir sebagai sistem informasi, kecerdasan buatan, analitik data, dan seebagainya. Tenu semua penting dan relevan. Namun buku ini membuat saya bertanya lebih jauh, apakah kita juga mendidik kesadaran siber, atau hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi. Apakah mahasiswa kita diajak memahami bahwa kode, algoritma, dan data selalu membawa implikasi politik, etika, dan keamanan.
Kampus seharusnya tidak hanya menjadi pusat inovasi, tetapi juga ruang perawatan nalar. Di sanalah kesadaran tentang ketahanan siber semestinya tumbuh, bukan hanya sebagai keahlian teknis, melainkan sebagai cara berpikir yang holistik. "Dawn of the Code War" menegaskan bahwa perang digital tidak bisa dihadapi dengan teknologi semata. Ia membutuhkan manusia yang mampu membaca konteks, memahami sejarah, dan bersikap kritis terhadap konten informasi yang tersebar dan beredar.
Dalam ranah kebijakan publik, buku ini juga terasa seperti peringatan yang tenang namun keras. Ketahanan siber nasional tidak bisa dibangun secara parsial. Ia bukan hanya urusan satu lembaga atau satu sektor, melainkan ekosistem yang melibatkan negara, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Serangan siber tidak mengenal batas kementerian, batas institusi, atau batas ruang privat. Maka responsnya pun harus melampaui sekat-sekat itu.
Pada akhirnya, yang paling membekas dari buku ini adalah kesadarannya yang sederhana namun mendalam bawa di era digital, pertahanan terakhir sebuah bangsa bukan hanya sistem atau regulasi, melainkan manusia yang berpikir. Warga yang sadar, mahasiswa yang kritis, akademisi yang berani bersuara, dan pembuat kebijakan yang memahami bahwa kemajuan teknologi selalu datang bersama risiko yang harus dikelola dengan kebijaksanaan.
"Dawn of the Code War" bukan sekadar buku tentang perang siber global. Bagi saya, ia adalah ajakan untuk lebih dewasa memandang transformasi digital di Indonesia. Bahwa menjadi maju tidak cukup, kita juga harus tangguh. Dan ketangguhan itu, pada akhirnya, selalu bermula dari kesadaran intelektual dan keberanian untuk berpikir jernih di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera