Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
"Di Bawah Bendera Revolusi" adalah buku paling favorit saya. Saya memiliki beberapa versi terbitan dan semuanya bukan saya beli sendiri, melainkan hadiah dari kolega dan sahabat. Barangkali itulah sebabnya hubungan saya dengan buku ini terasa personal ia hadir sebagai pemberian, sekaligus penanda perjumpaan intelektual. Bagi saya, inilah buku pamungkas yang membentuk nasionalisme saya, namun bukan nasionalisme yang kaku, dogmatis, dan penuh slogan, melainkan nasionalisme yang berpikir, bernalar, dan intelek. Nasionalisme yang terus bertanya, bukan sekadar menghafal.
Saya butuh sekitar setahun untuk membaca buku ini sampai tuntas dan berusaha memahami isinya. Tentu saja tidak membaca sekaligus, namun dicicil secara bertahap.
Buku ini merupakan kumpulan pemikiran, pidato, dan tulisan Soekarno selama masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan dirangkum dalam dua jilid. "Di Bawah Bendera Revolusi" memuat pergulatan ideologis Bung Karno tentang nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme; strategi politik untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan, serta gagasan ekonomi berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1964 dan buku ini adalah sumber utama untuk memahami fondasi ideologis dan strategis perjuangan bangsa dari sudut pandang orang yang berada di pusat sejarah itu sendiri.
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada pemikiran ideologis Soekarno. Ia menjelaskan secara mendalam konsep nasionalisme Indonesia yang anti penjajahan dan humanis, sekaligus membuka dialog dengan Islam dan Marxisme dalam kerangka Nasakom. Soekarno tidak melihat agama dan ideologi sebagai tembok pemisah yang kaku, melainkan sebagai energi yang bisa bertemu dalam perjuangan melawan imperialisme dan ketidakadilan. Pandangannya tentang hubungan agama dan negara ditulis dengan keberanian intelektual yang jarang ditemukan hari ini.
Buku ini juga menguraikan perjuangan kemerdekaan sebagai proses panjang, bukan peristiwa tunggal. Soekarno membahas strategi perjuangan, mulai dari pergerakan nasional, konsep non kooperasi, massa aksi, hingga tantangan pasca kemerdekaan. Bagi Bung Karno, revolusi adalah kerja sejarah yang berlapis, yaitu politik, mental, dan kultural, yang menuntut konsistensi dan keberanian.
Dalam ranah ekonomi dan politik, Soekarno menekankan pentingnya ekonomi berdikari. Ia melontarkan kritik tajam terhadap kapitalisme yang menindas dan memperlihatkan kekagumannya pada tokoh seperti Mahatma Gandhi, terutama dalam hal kesederhanaan, kemandirian, dan perlawanan non kekerasan. Di sini terlihat bahwa kemerdekaan, menurut Soekarno, tidak pernah lengkap tanpa kedaulatan ekonomi.
Dimensi lain yang sangat penting adalah dialog keagamaan, khususnya dalam tulisan-tulisan seperti Surat-Surat Islam dari Endeh, yang memuat korespondensinya dengan T.A. Hassan. Bagian ini memperlihatkan Soekarno sebagai pemikir yang terbuka, berani berdialog, dan tidak takut mempertanyakan. Agama dihadirkan sebagai ruang nalar dan etika, bukan sekadar simbol.
Di atas semuanya, buku ini memancarkan semangat perjuangan yang menyala yaitu tekad “Merdeka atau Mati”, keyakinan pada kekuatan rakyat, dan penegasan bahwa persatuan bangsa adalah syarat mutlak revolusi. Retorika Soekarno di sini bukan hiasan kata, melainkan energi politik yang lahir dari keyakinan ideologis yang dalam.
Mengapa buku ini penting dibaca? Karena ia membantu kita memahami Soekarno bukan sebagai patung sejarah, tetapi sebagai manusia berpikir dengan amarah, harapan, dan kontradiksi. Karena ia adalah dokumen sejarah yang merekam perjuangan bangsa dari dalam. Ia bisa menjadi panduan bagi generasi penerus agar nasionalisme tidak berhenti pada simbol, melainkan tumbuh sebagai kesadaran intelektual dan moral.
Soekarno menulis "Di Bawah Bendera Revolusi" bukan sekadar untuk mencatat sejarah, melainkan untuk mendidik kesadaran bangsa. Buku ini lahir dari kebutuhan mendesak: menjaga arah revolusi agar tidak kehilangan jiwa, nalar, dan tujuan. Ada beberapa alasan mendasar mengapa Soekarno menulis buku ini.
Pertama, untuk membangun kesadaran ideologis rakyat Indonesia. Soekarno sadar bahwa kemerdekaan tidak otomatis melahirkan bangsa yang berpikir merdeka. Penjajahan ratusan tahun telah meninggalkan warisan mental rasa rendah diri, ketergantungan, dan kebingungan identitas. Melalui tulisan-tulisannya, ia ingin rakyat Indonesia memahami mengapa mereka merdeka, untuk apa kemerdekaan itu, dan ke mana revolusi harus diarahkan. Buku ini adalah upaya mencerdaskan nasionalisme, bukan sekadar membangkitkannya.
Kedua, untuk menjelaskan dasar pemikirannya sendiri. Soekarno sering disalahpahami, disederhanakan, atau dipelintir. "Di Bawah Bendera Revolusi" menjadi ruang baginya untuk berbicara langsung kepada rakyat, tanpa perantara. Ia menjelaskan konsep-konsep kunci seperti nasionalisme, hubungan agama dan negara, Marxisme, anti imperialisme, hingga gagasan Nasakom. Ia ingin pemikirannya dibaca secara utuh, bukan dipotong-potong demi kepentingan politik sesaat.
Ketiga, sebagai alat perjuangan politik dan ideologis. Bagi Soekarno, menulis adalah bagian dari revolusi. Kata-kata adalah senjata. Tulisan-tulisannya ditujukan untuk menggerakkan massa, membangun keberanian, dan melawan dominasi wacana kolonial. Dalam konteks itu, buku ini bukan arsip pasif, melainkan dokumen perjuangan yang aktif.
Keempat, untuk menjaga arah revolusi pasca kemerdekaan. Buku ini disusun dan diterbitkan secara resmi pada 1964, saat Indonesia telah merdeka hampir dua dekade, tetapi menghadapi tantangan besar: konflik ideologis, tekanan geopolitik, dan ketergantungan ekonomi. Soekarno khawatir revolusi berhenti di tengah jalan yaitu merdeka secara politik, tetapi dijajah secara ekonomi dan budaya. "Di Bawah Bendera Revolusi" adalah peringatan agar revolusi dipahami sebagai proses panjang.
Kelima, sebagai warisan intelektual bagi generasi penerus. Soekarno tahu bahwa zamannya akan berlalu. Ia ingin meninggalkan lebih dari sekadar monumen dan pidato. Buku ini adalah upaya mewariskan cara berpikir, bukan dogma. Ia ingin generasi setelahnya berani berpikir, berdebat, dan menggugat, sebagaimana revolusi itu sendiri.
Judul "Di Bawah Bendera Revolusi" sendiri mengandung makna simbolik yang kuat. “Bendera” adalah lambang perjuangan bersama, sedangkan “di bawahnya” menandakan posisi keberpihakan. Soekarno menulis dari dalam revolusi, bukan sebagai pengamat netral. Ia berdiri, berpikir, dan bertarung di bawah bendera itu.
Karena itu, membaca buku ini hari ini bukan sekadar membaca masa lalu. Kita sedang diajak bertanya kembali: apakah kita masih berdiri di bawah bendera revolusi itu, atau hanya berlindung di balik simbolnya tanpa memahami maknanya?
Bagi saya pribadi, "Di Bawah Bendera Revolusi" bukan sekadar buku. Ia adalah cermin nalar kebangsaan. Sebuah pengingat bahwa mencintai Indonesia berarti berani berpikir tentang Indonesia secara jujur, kritis, dan bertanggung jawab 🇮🇩🇮🇩🇮🇩
(Riri Satria - Januari 2026)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera