Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • BALANCED SCORECARD, RAK BUKU, DAN JEJAK WAKTU

    07 Jan 2026 | Dilihat: 60 kali

    oleh: Riri Satria

    Saya tidak sedang mencari apa pun ketika mulai menata ulang buku-buku di ruang kerja dan perpustakaan pribadi di rumah. Ini pekerjaan biasa, membersihkan debu, menyusun ulang rak, memindahkan sebagian buku yang sudah lama tak tersentuh. Namun seperti banyak peristiwa reflektif dalam hidup, justru dari hal remeh itulah kesadaran muncul.

    Di satu sudut saya berhenti cukup lama. Setumpuk buku tentang Balanced Scorecard, semuanya tebal, beragam edisi, sebagian sudah agak kusam. Rasanya masih ada yang lain, tetapi mungkin hilang atau ada yang meminjam tetapi tidak dikembalikan. Beberapa penuh coretan pensil, sebagian lagi halaman-halamannya terlipat. Saya tersenyum kecil, bukan karena nostalgia semata, tetapi karena menyadari bahwa buku-buku ini pernah menjadi pusat hidup profesional saya.

    Ada satu masa dalam perjalanan karier saya yaitu sekitar tahun 2005 hingga 2018, kurang lebih tiga belas tahun di mana Balanced Scorecard bukan sekadar konsep, melainkan medan pengabdian. Saya menekuninya sebagai konsultan manajemen strategis dan manajemen kinerja dengan penekanan kuat pada Balanced Scorecard. Saya hidup di antara strategy maps, KPI, cascading, dan alignment. Dari ruang direksi hingga ruang pelatihan, dari perusahaan besar hingga organisasi yang masih mencari bentuk, sampai ruang kuliah di kampus, saya membawa satu pertanyaan yang sama yaitu, bagaimana strategi tidak berhenti sebagai jargon?

    Dalam masa itu saya merasakan sendiri bagaimana nama saya perlahan dikenal sebagai salah satu konsultan Balanced Scorecard di Indonesia. Ada kebanggaan di sana, tetapi juga kelelahan, karena di balik diagram yang rapi dan presentasi yang meyakinkan, selalu ada kenyataan bahwa organisasi adalah makhluk hidup yang penuh kepentingan, emosi, ego, dan paradoks.

    Balanced Scorecard pada mulanya, lahir sebagai kritik. Robert S. Kaplan dan David P. Norton menawarkan cara pandang baru bahwa kinerja tidak boleh direduksi hanya menjadi angka keuangan. Maka lahirlah empat perspektif yaitu keuangan, pelanggan, proses internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan, sebagai sebuah upaya menyeimbangkan yang selama ini timpang.

    Namun buku-buku yang kini kembali saya genggam menunjukkan bahwa Balanced Scorecard tidak berhenti di sana. Ia berevolusi, dari "The Balanced Scorecard" yang bersifat fondasional, menuju "The Strategy-Focused Organization" dan "Strategy Maps" yang menjadikan strategi sebagai cerita kolektif. Dari "Alignment" dan "The Execution Premium" yang menyingkap jurang antara niat dan tindakan, hingga karya-karya Paul Niven yang membahas diagnosis, keberlanjutan, dan adaptasi.

    Saya menyadari satu hal penting bahwa semakin matang pemikiran Balanced Scorecard, semakin ia menjauh dari sekadar alat ukur. Ia berubah menjadi cara berpikir tentang strategi dan organisasi. Bukan hanya "what to measure", tetapi "why we exist".

    Kesadaran ini menjadi semakin kuat ketika belakangan saya bersama bersama tim saya yang juga antusias dengan Balanced Scorecard mengembangkan pendekatan yang diintegrasikan dengan manajemen birokrasi pemerintahan di Indonesia. Di sinilah kerangka ini diuji ulang secara mendasar. Birokrasi tidak hidup dari laba. Ia hidup dari mandat publik, legitimasi politik, dan kepercayaan warga.

    Balanced Scorecard tidak bisa lagi dipakai sebagai alat mekanis. Ia harus ditafsir ulang dari "performance management" menjadi "meaning management", dari sekadar mengejar target menjadi menjaga arah, dari pengendalian strategi menjadi pembelajaran kolektif.

    Saat itu saya mulai bertanya pada diri sendiri, yaitu sebuah pertanyaan yang mungkin tidak pernah muncul di awal karier saya, "Apakah kita mengukur karena ingin memahami, atau karena ingin menguasai?". Lalu berikutnya "Apakah strategi sungguh membebaskan organisasi, atau justru membebaninya dengan angka-angka tanpa jiwa?".

    Kini ketika saya berdiri di depan rak buku itu, saya menyadari bahwa Balanced Scorecard telah mengikuti perjalanan batin saya sendiri. Dari fase teknokratis, menuju fase reflektif, dari kepercayaan pada sistem, menuju kesadaran akan keterbatasannya.

    Semua buku ini tidak lagi saya lihat sebagai buku manajemen. Mereka adalah penanda waktu. Mereka menyimpan ambisi, keyakinan, bahkan kegagalan. Mereka mengingatkan bahwa strategi tanpa penyelarasan adalah ilusi, kinerja tanpa makna adalah kehampaan, dan pengukuran tanpa refleksi hanyalah rutinitas kosong.

    Mungkin inilah makna terdalam dari aktivitas membereskan buku hari itu bahwa pada akhirnya kita tidak pernah benar-benar meninggalkan ide-ide yang membentuk kita. Kita hanya belajar menempatkannya di rak yang lebih dewasa, bukan lagi sebagai jawaban mutlak, melainkan sebagai teman dialog dalam perjalanan memahami organisasi, manusia, dan diri sendiri.

    (Riri Saria - Januari 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture