Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • AI, Amerika, dan Venezuela di Medan Perang Baru

    07 Jan 2026 | Dilihat: 142 kali

    oleh: Riri Satria

    Tulisan ini lahir dari sebuah pertanyaan sederhana yang diajukan seorang sahabat jurnalis kepada saya, apakah Amerika Serikat menggunakan AI dalam operasi militernya terhadap Venezuela? Lalu saya mencoba menelusuri berbagai sumber yang dapat saya akses, analisis teknologi, dan berita internasional, dan semakin terasa bahwa jawaban atas pertanyaan itu tidak berdiri di satu titik, melainkan membentang dalam waktu yang panjang dan berlapis. Serangan AS ke Venezuela tersebut adalah puncak gunung es dari serangkaian hal yang tidak terlihat di permukaan, berupa operasi intelijen terhadap semua aspek di Venezuela, terutama ekonomi dan politik.

    Hubungan Amerika Serikat dan Venezuela tidak tiba-tiba memanas. Sejak awal tahun 2000-an, ketegangan sudah dibangun melalui sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, dan perang narasi. Namun sejak sekitar pertengahan tahun 2010-an, wajah konflik mulai berubah. Bukan lagi hanya soal ideologi atau minyak, tetapi soal informasi, prediksi, dan kendali. Pada titik inilah AI mulai masuk, pelan-pelan, hampir tak disadari. AI mulai memainkan tugasnya sebagaai “pasukan intelijen” yang melalukan surveillance terhaap sasaran, dalam hal ini negara Venezuela.

    Tahap awalnya adalah operasi pengawasan. Citra satelit resolusi tinggi, pemantauan komunikasi digital, dan analisis media sosial mulai digunakan secara sistematis. Venezuela menjadi objek pembacaan terus-menerus, bagaimana stabilitas rezim, bagaimana respons publik, bagaimana pola elite politik. AI membantu menyaring lautan data ini, menemukan korelasi yang terlalu rumit untuk ditangkap manusia. Negara itu perlahan diterjemahkan menjadi grafik, indikator risiko, dan simulasi skenario. Dengan menggunakan teknologi data science yang didukung penuh oleh AI, hal ini tidaklah sulit buat negara sekaliber AS.

    Setelah itu datang fase tekanan yang lebih terstruktur. Sanksi ekonomi tidak lagi hanya bersifat umum, tetapi semakin presisi dengan menyasar sektor, individu, dan jaringan tertentu. AI membantu memetakan dampak sanksi secara real time, kira-kira bagian mana dari ekonomi yang paling rapuh, kelompok mana yang paling terdampak, dan bagaimana efek sosialnya menyebar. Tekanan tidak lagi buta melainkan diarahkan. Di titik ini, AI berperan dalam melumpuhkan sendi sosial dan ekonomi, bukan dengan satu pukulan besar, tetapi dengan akumulasi gangguan kecil yang konsisten.

    Memasuki fase berikutnya, konflik bergerak ke ranah yang lebih dahsyat yaitu siber dan militer. Laporan-laporan tentang gangguan infrastruktur, kebingungan sistem, dan kegagalan teknis mulai muncul. Di sinilah AI memainkan peran penting dalam operasi siber. Ia digunakan untuk memindai jaringan, mencari celah keamanan, dan menjalankan serangan yang adaptif. Instalasi strategis termasuk sistem komunikasi dan radar dapat dilemahkan tanpa satu pun peluru ditembakkan. AI membantu menciptakan momen kebutaan, keterlambatan, dan kekacauan yang terukur pada sasarannya seperti negara Venezuela.

    Pada saat yang sama, kemampuan serangan fisik juga berevolusi. Teknologi seperti drone, sistem pengintaian, dan senjata presisi tinggi semakin bergantung pada AI untuk memilih target dan waktu. Serangan atau ancaman serangan tidak lagi bersifat luas, tetapi sangat spesifik. Bukan kota yang menjadi sasaran, melainkan titik-titik tertentu yang dinilai strategis. AI membantu memastikan bahwa setiap tindakan bersenjata dilakukan dengan risiko minimal bagi pihak penyerang dan dampak maksimal terhadap lawan.

    Semua ini membentuk sebuah kronologi yang tidak pernah diumumkan secara resmi sebagai “perang”. Tidak ada deklarasi, tidak ada garis depan yang jelas. Tetapi tekanan itu nyata dan berkelanjutan. Venezuela tidak diserbu, tetapi dikepung oleh “serangan pasukan” algoritma, dipantau, disimulasikan, ditekan, dan, jika perlu, disasar dengan presisi.

    Satu hal yang menarik  adalah bagaimana kronologi ini nyaris tanpa wajah. Tidak ada figur tunggal yang bisa ditunjuk sebagai pelaku. Keputusan terdistribusi di antara sistem, rekomendasi mesin, dan birokrasi strategis. AI menjadi semacam mediator dingin antara niat politik dan tindakan militer.

    Ironisnya sebagian teknologi ini dilatih oleh pekerja data dari negara-negara yang justru berada dalam pusaran konflik atau negara sasaran, termasuk Venezuela sendiri. Orang-orang yang bekerja demi bertahan hidup ikut “membangun mesin” yang memandang negaranya sebagai objek strategis. Sejarah kolonialisme terasa berulang, hanya saja kali ini tanpa kapal dan tanpa bendera, dan yang ada hanyalah server dan algoritma. Informasi menngenai kelemahan Venezuela diungkapkan tanpa sadar oleh warga Venezuela sendiri kepada mesin AI milik Amerika Serikat utuk dianalisis lebih lajut dan semaki membuka tabir lubang-lubang kelemahan negara Venezuela sendiri.

    Amerika Serikat tentu tidak menyebut rangkaian operasi militer ini sebagai agresi. Bahasa yang dipakai adalah pencegahan, stabilitas, dan keamanan nasional. AI diposisikan sebagai alat rasional untuk menghindari perang besar. Tetapi ketika saya membaca kronologi ini sebagai satu kesatuan, saya merasakan sesuatu yang lebih dalam yaitu perang tidak menghilang, ia hanya berubah bentuk. Ia menjadi lebih sunyi, lebih cerdas, dan lebih jauh dari pengalaman manusia yang mengalaminya secara langsung.

    Maka jawaban saya kepada sahabat jurnalis itu adalah ini, ya, sangat mungkin Amerika Serikat menggunakan AI dalam operasi militernya terhadap Venezuela, bukan sebagai satu peristiwa tunggal, melainkan sebagai proses panjang yang dimulai dari pengawasan, tekanan ekonomi, serangan siber, hingga dukungan bagi operasi bersenjata presisi. AI bukan sekadar alat semata, melainkan telah menjadi cara berpikir baru tentang konflik.

    Dan di tengah semua itu, saya hanya bisa berharap masih ada ruang bagi keraguan manusiawi. Ruang untuk bertanya, bukan hanya apakah sesuatu bisa dilakukan, tetapi apakah ia seharusnya dilakukan. Karena mungkin, bahaya terbesar bukanlah kegelapan, melainkan dunia yang sepenuhnya terang oleh mesin, tetapi kehilangan kehangatan kemanusiaannya.

    (Riri Satria – Januari 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture