Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Budaya sebagai culture dalam frame besar adalah bagian terpenting dari sikap nasionalisme kita sebagai suatu bangsa. Kita memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi landasan budaya toleransi. Kita juga dibesarkan dalam budaya saling menghormati, dan semangat persatuan yang lahir dari ide dan gagasan para pemuda di tahun 1928 dalam bentuk teks Sumpah Pemuda. Semua itu harus dijaga dan dipertahankan agar kita tetap utuh sebagai bangsa.
Istilah ketahanan budaya memang belum terlalu familiar di telinga masyarakat seperti halnya ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, ketahanan ideologi, ketahanan energi, dan lain-lain. Padahal ketahanan budaya juga memiliki posisi penting yang harus mendapat perhatian serius. Sudah tepat kita memiliki Kementerian Kebudayaan sendiri, dan tentu ditunggu kiprahnya menjaga ketahanan budaya ini.
Budaya dalam makna sempit seringkali hanya dilihat sebagai produk artefak, bahkan lebih sempit lagi hanya sebagai produk kesenian. Padahal tidak demikian. Budaya dalam makna sempit hanya sekadar merupakan produk kasat mata, misalnya lukisan, tarian, musik, karya arsitektur, kuliner, pakaian, dan karya sastra, yang hanya menjadi tontonan.
Perlu dipahami bahwa budaya yang hanya dipahami sebagai tontonan semata tidak mencukupi untuk memperkuat ketahanan budaya secara menyeluruh. Itu saja tidak memadai untuk sebuah culture relience.
Kita harus memahami budaya dalam makna yang lebih luas, yakni sebagai way of life. Budaya itu adalah way of life berada pada tatanan yang lebih tinggi, yaitu mindset atau paradigma, yang diwujudkan dalam perilaku atau behavior.
Dalam pandangan ini, budaya bukan sekadar artefak, melainkan tuntunan yang mencerminkan cara hidup suatu masyarakat.
Buat saya pribadi inti dari kebudayaan Indonesia itu adalah Bhinneka Tunggal Ika. Dalam Bhinneka Tunggal Ika terdapat kebersamaa, gotong royong, saling menghormati, toleransi, menghargai perbedaan, dan sebagainya.
Itulah budaya Indonesia yang sesungguhnya menurut saya. Cinta kepada tanah air Indonesia itu harus kita pelihara sampai kapan pun juga.
Rezim pemerintahan bisa berganti. Kita tentu sah-sah saja menyatakan kritik atau bahkan ketidaksetujuan terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Buat saya, mengkritik pemerintah adalah bagian dari cinta tanah air Indonesia.
Nah, jadi yang harus kita cintai dan jaga itu adalah NKRI, Pancasila, Bendera Merah Putih, serta Bhinneka Tunggal Ika.
Menyebarkan kebencian, hinaan, atau bahkan perlawanan kepada NKRI, Pancasila, Bendera Merah Putih, serta Bhinneka Tunggal Ika, harus kita lawan balik sebagai anak bangsa.
Kalau ketidaksetujuan atau kritik kepada rezim pemerintahan itu sah-sah saja. Itu bagian dari proses bernegara.
Demikian menurut saya. Jika ada yang berbeda pandangan tentu silakan saja. Saya sangat terbuka dengan perbedaan pendapat atau pandangan.
Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan RI bidang Digital, Siber dan Ekonomi | Pakar Teknologi Digital | Pengamat Ekonomi Digital | Komisaris Utama Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS)/Pelindo Solusi Digital (PSD) | Founder dan CEO Value Alignment Advisory (VA2) | Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia | Pendiri Jagat Sastra Milenia & SastraMedia.com | Penyair & Penulis | Pencinta Kopi
Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan RI bidang Digital, Siber dan Ekonomi | Pakar Teknologi Digital | Pengamat Ekonomi Digital | Komisaris Utama Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS)/Pelindo Solusi Digital (PSD) | Founder dan CEO Value Alignment Advisory (VA2) | Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia | Pendiri Jagat Sastra Milenia & SastraMedia.com | Penyair & Penulis | Pencinta Kopi
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Menarik memahami makna pendidikan dalam budaya Minangkabau. Orang Minang memiliki banyak tempat belajar untuk hidupnya. “Sejatinya kita belajar dari berbagai tempat, yaitu sakola (sekolah), surau (masjid), galanggang (gelanggang), dan pasa (pasar). Di atas semua itu, kita harus mampu belajar dari semua yang ada di dalam, karena pepatah Minang mengatakan bahwa alam takambang jadi guru,” kata Pakar Teknologi Digital, Riri Satria, saat dihubungi majalahelipsis.com terkait […]