Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Beberapa tahun lalu, hampir tidak ada yang membayangkan bahwa suatu hari nanti sebuah perusahaan akan menempatkan seorang Chief AI Officer di jajaran eksekutifnya. Artificial intelligence atau AI pada masa itu lebih sering terdengar sebagai istilah yang hidup di ruang-ruang laboratorium, pusat riset, universitas, perusahaan teknologi, atau di antara para data scientist dan machine-learning engineer. AI adalah urusan para ahli teknologi. Ia bekerja di balik layar, mengolah data dalam jumlah besar, mengenali pola, membuat prediksi, dan perlahan-lahan membantu manusia mengambil keputusan.
Kemudian dunia berubah. Kemunculan generative AI, terutama sejak hadirnya ChatGPT pada akhir 2022, membuat AI keluar dari ruang laboratorium dan masuk ke ruang kerja sehari-hari. Layar komputer para pegawai berubah menjadi ruang percakapan dengan mesin. Dokumen dapat diringkas dalam hitungan detik. Presentasi dapat disusun dalam beberapa menit. Kode program dapat ditulis dan diperiksa oleh mesin. Analisis data yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari mulai dapat dilakukan dalam waktu jauh lebih singkat.
Perusahaan pun mulai melihat sesuatu yang berbeda. AI bukan lagi sekadar sebuah teknologi yang bisa dibeli atau sebuah aplikasi yang bisa dipasang. AI mulai menyentuh cara perusahaan bekerja.
Pertanyaan kemudian bergeser. Bukan lagi sekadar, “Apakah kita menggunakan AI?”, melainkan, “Bagaimana AI mengubah strategi bisnis kita?”
Dari sinilah kebutuhan terhadap seorang eksekutif yang secara khusus memimpin agenda AI mulai muncul. Jabatan Chief AI Officer, atau CAIO, kemudian perlahan masuk ke dalam struktur korporasi. Perannya berada di antara dunia bisnis dan dunia teknologi. Ia berbicara dengan CEO mengenai strategi pertumbuhan, dengan CIO mengenai sistem informasi, dengan CTO mengenai teknologi, dengan CISO mengenai keamanan, dengan Chief Data Officer mengenai data, dengan bagian human resources mengenai talenta, dan dengan unit bisnis mengenai persoalan nyata yang ingin diselesaikan.
Karena itu, CAIO bukan sekadar kepala sebuah departemen teknologi baru. Ia membawa AI ke meja pengambilan keputusan. Perkembangan jabatan ini terlihat semakin jelas dalam beberapa tahun terakhir. IBM melaporkan bahwa dalam survei global terhadap 2.000 CEO pada 2026, 76 persen organisasi yang disurvei mengatakan mereka telah memiliki Chief AI Officer, meningkat tajam dari 26 persen pada 2025. Angka tersebut menggambarkan betapa cepat AI bergerak dari agenda eksperimental menjadi agenda kepemimpinan korporasi.
Nama-nama perusahaan besar mulai bermunculan. Di Meta, Salesforce, IBM, Heineken, WPP, Nike, dan CVS Health, fungsi kepemimpinan AI telah memperoleh tempat pada tingkat eksekutif. HSBC juga telah menunjuk Chief AI Officer sebagai bagian dari agenda transformasi AI-nya.
Di Dell Technologies, fungsi tersebut bahkan memperlihatkan bentuk yang sedikit berbeda. John Roese menjalankan peran sebagai Global Chief Technology Officer sekaligus Chief AI Officer. Kombinasi ini menunjukkan bahwa perusahaan belum memiliki satu bentuk baku mengenai bagaimana posisi CAIO harus ditempatkan. Pada sebagian organisasi, ia menjadi jabatan tersendiri. Pada organisasi lain, tanggung jawab tersebut dapat melekat pada CTO atau eksekutif teknologi yang sudah ada.
Fenomena ini sebenarnya masuk akal. AI menyentuh terlalu banyak wilayah untuk ditempatkan hanya di satu kotak organisasi. Bayangkan sebuah perusahaan pelabuhan dan logistik. AI dapat digunakan untuk membaca dokumen perdagangan, memperkirakan volume kargo, memprediksi kedatangan kapal, mengoptimalkan penggunaan terminal, memelihara peralatan sebelum rusak, mendeteksi anomali transaksi, memperbaiki layanan pelanggan, sampai membantu manajemen membaca perubahan pola perdagangan.
Semua itu bukan lagi sekadar persoalan teknologi. Ada persoalan business process, data, investasi, sumber daya manusia, keamanan, tata kelola, regulasi, dan strategi bisnis yang ikut masuk ke dalamnya. Di sinilah seorang CAIO bekerja.
Ia harus memetakan seluruh kemungkinan tersebut dan memilahnya menjadi sebuah AI portfolio: mana yang memberikan dampak bisnis paling nyata, mana yang masih layak menjadi eksperimen, mana yang membutuhkan kesiapan data dan infrastruktur, serta mana yang sebenarnya tidak perlu menggunakan AI.
Ia juga harus memastikan bahwa berbagai proyek AI tidak tumbuh sebagai pulau-pulau kecil yang berjalan sendiri-sendiri. Chatbot dibuat oleh satu unit, predictive analytics oleh unit lain, generative AI oleh unit ketiga, sementara data perusahaan tetap tersebar di berbagai sistem. CAIO dituntut melihat semuanya sebagai satu ekosistem.
Di sisi lain terdapat persoalan yang tidak kalah penting yaitu governance. Ketika mesin mulai membantu manusia mengambil keputusan, perusahaan harus mengetahui dari mana data berasal, bagaimana model bekerja, siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan, bagaimana informasi pribadi dilindungi, bagaimana keamanan sistem dijaga, dan sejauh mana keputusan tetap harus berada di tangan manusia.
Karena itu, semakin matang posisi CAIO, semakin jauh pula pekerjaannya dari sekadar berbicara mengenai teknologi. Ia berbicara mengenai nilai bisnis.
Sebuah perusahaan mungkin memiliki puluhan proyek AI. Namun jumlah proyek bukan ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah AI digunakan: apakah proses menjadi lebih cepat, biaya menjadi lebih efisien, pelayanan menjadi lebih baik, keputusan menjadi lebih akurat, risiko menjadi lebih terkendali, atau muncul sumber pendapatan baru.
Dengan demikian, salah satu pertanyaan yang akan semakin sering muncul di ruang direksi adalah sederhana, “What is our return on AI?” Pertanyaan itu membuat CAIO menjadi posisi yang menarik. Ia berada di persimpangan antara business strategy, digital transformation, data, technology, people, dan governance.
Ia tidak harus menjadi programmer paling hebat di perusahaan. Ia juga tidak harus menjadi data scientist yang paling memahami algoritma. Yang diperlukan adalah kemampuan memahami teknologi sekaligus menghubungkannya dengan persoalan bisnis dan arah organisasi.
Dalam perjalanan sejarah korporasi, munculnya CAIO dapat dibaca sebagai kelanjutan dari perjalanan panjang struktur kepemimpinan teknologi. Ketika komputer mulai memasuki perusahaan, lahirlah fungsi informasi. Ketika internet dan teknologi digital mengubah model bisnis, lahirlah berbagai fungsi digital. Ketika data menjadi aset strategis, organisasi mulai membutuhkan pemimpin data. Kini, ketika AI mulai memengaruhi hampir seluruh rantai penciptaan nilai, muncul pula seorang Chief AI Officer.
Satu kursi baru perlahan tersedia di ruang direksi. Bukan karena perusahaan membutuhkan satu jabatan tambahan untuk mengikuti tren, melainkan karena AI mulai membutuhkan seseorang yang bertanggung jawab terhadap arah, orkestrasi, tata kelola, dan nilai yang dihasilkannya.
Itulah makna paling penting dari kemunculan jabatan ini: AI tidak lagi hanya menjadi teknologi yang dimiliki perusahaan. AI mulai menjadi bagian dari cara perusahaan menjalankan dirinya.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]