Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh Riri Satria
Buku puisi Laras, kumpulan puisi karya Mbak Nia Samsihono ini sebenarnya sudah saya terima sejak Mei 2026 yang lalu langsung dari Mbak Nia, sudah 4 bulan! Namun saya memang membutuhkan waktu untuk membaca, menikmati, dan mencernanya secara perlahan.
Bagi saya, berbeda dengan membaca buku sains, teknologi, atau engineering, membaca buku puisi tidak cukup dilakukan hanya dengan menuntaskan halaman demi halaman, karena puisi sering kali membutuhkan ruang untuk direnungkan kembali setelah selesai dibaca.
Ada larik yang baru terasa maknanya setelah beberapa waktu, ada metafora yang baru menemukan relevansinya ketika kita menghubungkannya dengan pengalaman kehidupan sendiri. Karena itu baru sekarang saya merasa cukup siap untuk menuliskan semacam pembacaan saya terhadap Laras.
Dari keseluruhan puisi yang saya baca, ada tiga puisi yang secara khusus menarik perhatian saya dan menurut pembacaan saya memiliki kekuatan yang menonjol, yaitu “Di Tepi Sebuah Sungai”, “Pagi di Bandara”, dan “Dalam Dingin yang Berjalan”. Ketiganya memperlihatkan cara Mbak Nia mengolah pengalaman menjadi perenungan, sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang, perjalanan, alam, dan suasana dapat berubah menjadi simbol kehidupan manusia.
“Di Tepi Sebuah Sungai” bagi saya merupakan salah satu puisi yang paling menarik karena menghadirkan sungai bukan sekadar sebagai objek alam, melainkan sebagai metafora perjalanan waktu dan kehidupan. Air yang terus mengalir mengingatkan kita bahwa waktu tidak pernah benar-benar berhenti, sementara manusia hanya dapat berdiri di tepian, menyaksikan sebagian dari perjalanan itu sambil menyadari bahwa dirinya sendiri sedang berada dalam arus kehidupan.
Dari sebuah sungai, Mbak Nia membawa pembaca kepada perenungan tentang perubahan, perjalanan, dan ingatan. Ada sesuatu yang telah lewat dan tidak mungkin dikembalikan dalam bentuk yang sama, tetapi pengalaman itu tetap tinggal dalam kesadaran manusia. Sungai dalam puisi ini akhirnya bukan lagi hanya sungai milik penyair, tetapi dapat menjadi sungai milik setiap pembaca, karena setiap manusia memiliki arus waktunya sendiri, memiliki sesuatu yang pernah ditinggalkan, dan memiliki kenangan yang terus mengalir bersamanya.
Puisi kedua yang menurut saya menonjol adalah “Pagi di Bandara”. Bandara merupakan ruang yang penuh dengan pergerakan, manusia datang dan pergi, pesawat berangkat dan tiba, perjumpaan terjadi sekaligus perpisahan berlangsung. Namun di tengah mobilitas tersebut, Mbak Nia justru menemukan ruang kontemplasi. Perjalanan geografis berubah menjadi perjalanan batin.
Manusia memang dapat berpindah dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu negara ke negara lain, tetapi ada sesuatu yang selalu ikut dibawa, yaitu pengalaman dan kenangan. Paspor dapat mencatat tempat-tempat yang pernah dikunjungi, tetapi tidak pernah dapat mencatat apa yang dirasakan seseorang di tempat-tempat tersebut. Karena itu perjalanan dalam puisi ini menjadi lebih dari sekadar perpindahan ruang, ia menjadi perjalanan menuju pengalaman dan ingatan.
Saya melihat kekuatan puisi ini justru terletak pada kemampuan Mbak Nia mengubah sebuah ruang yang sangat biasa bagi manusia modern menjadi ruang perenungan tentang kehidupan, perpisahan, dan apa yang kita bawa pulang setelah sebuah perjalanan berakhir.
Sementara itu, “Dalam Dingin yang Berjalan” menghadirkan pengalaman yang berbeda. Dingin pada mulanya merupakan sesuatu yang bersifat fisik, tetapi dalam puisi ini ia dapat dibaca sebagai suasana batin, kesunyian, jarak, kehilangan, atau keadaan ketika seseorang sedang berada jauh dari kehangatan yang diharapkannya. Nah, yang menarik adalah kata “berjalan”. Dingin ternyata bukan sesuatu yang diam, melainkan sesuatu yang bergerak. Ada dinamika di dalam kesunyian, ada perjalanan bahkan di dalam keadaan yang terasa beku.
Di sinilah saya menemukan kemungkinan tafsir bahwa keadaan batin manusia pun tidak pernah benar-benar statis. Kesedihan dapat berubah, kesunyian dapat menemukan makna baru, dan sesuatu yang terasa dingin pada suatu masa mungkin pada akhirnya membuka jalan menuju kehangatan.
Ketiga puisi tersebut memperlihatkan kecenderungan Mbak Nia Samsihono untuk menjadikan pengalaman sehari-hari sebagai pintu masuk menuju perenungan yang lebih luas tentang manusia, waktu, perjalanan, ingatan, dan kehidupan.
Secara keseluruhan, saya membaca Laras sebagai sebuah perjalanan dari pengalaman menuju perenungan, dari dunia luar menuju dunia batin. Alam, perjalanan, ruang, benda, dan suasana tidak berhenti sebagai latar, tetapi menjadi medium bagi penyair untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam. Bahasa Mbak Nia cenderung tenang, liris, dan kontemplatif, sehingga pembaca diberi ruang untuk memasuki puisi dengan pengalaman masing-masing.
“Di Tepi Sebuah Sungai”, “Pagi di Bandara”, dan “Dalam Dingin yang Berjalan” memperlihatkan tiga cara yang berbeda untuk memasuki ruang batin, yaitu melalui waktu, melalui perjalanan, dan melalui kesunyian. Manurut saya, pada titik itulah Laras menemukan maknanya, manusia terus berjalan sambil membawa masa lalu, menjalani masa kini, dan menatap masa depan, hingga pada akhirnya menyadari bahwa perjalanan yang paling jauh bukanlah perjalanan menuju suatu tempat, melainkan perjalanan perlahan untuk mengenali dirinya sendiri.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]