Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh Riri Satria
Dalam setengah tahun terakhir, saya cukup intensif mengkampanyekan pentingnya kewaspadaan, mawas diri, serta peningkatan literasi masyarakat terhadap perkembangan teknologi deepfake AI. Perkembangan teknologi ini memang menghadirkan banyak manfaat. Kemampuan yang sama juga dapat digunakan untuk tujuan yang merugikan apabila jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Perhatian saya terhadap persoalan ini berangkat dari kenyataan bahwa teknologi deepfake AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat dalam mengenali dan memverifikasi informasi. Foto, suara, maupun video yang dahulu relatif mudah dipercaya, kini dapat dimanipulasi sedemikian rupa sehingga tampak sangat meyakinkan. Batas antara kenyataan dan rekayasa digital semakin tipis dari hari ke hari.
Upaya menyebarluaskan kesadaran mengenai persoalan tersebut saya lakukan melalui berbagai forum. Pada tanggal 30 Mei 2026, saya berkesempatan menyampaikan kuliah umum mengenai kewaspadaan menghadapi deepfake AI kepada para sastrawan dan pegiat literasi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi yang menarik karena mempertemukan dunia sastra, kebudayaan, dan perkembangan teknologi yang sedang bergerak sangat cepat.
Kegiatan serupa berlanjut pada tanggal 2 Juni 2026 melalui sebuah pidato kebudayaan di Universitas Andalas, Padang. Perbincangan tidak hanya menyentuh aspek teknologi, melainkan juga dampaknya terhadap kehidupan sosial, budaya, dan cara masyarakat memahami kebenaran di era digital. Tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kemampuan membedakan antara fakta dan manipulasi.
Perjalanan edukasi tersebut kemudian berlanjut pada tanggal 10 Juni 2026 ketika saya menjadi narasumber dalam webinar yang diselenggarakan oleh UPT Perpustakaan dan Undip Press Universitas Diponegoro, Semarang. Forum tersebut memperlihatkan bahwa perhatian terhadap fenomena deepfake tidak lagi terbatas pada kalangan teknologi informasi. Dunia pendidikan, perpustakaan, penerbitan, kebudayaan, hingga masyarakat umum mulai menyadari besarnya tantangan yang akan dihadapi pada masa mendatang.
Kesadaran tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai media massa dan lembaga penyiaran. Pemberitaan mengenai dampak dan potensi bahaya deepfake mulai muncul di berbagai ruang publik. Media Pojok TIM di Jakarta, Radio 102,6 Padang FM, Harian Rakyat Sumbar, Padang Ekspres, Tatkala, serta sejumlah penulis yang menyuarakannya melalui blog pribadi turut membantu memperluas diskusi ini kepada masyarakat yang lebih luas.
Perhatian saya terhadap persoalan deepfake AI bukan semata-mata didasarkan pada perkembangan teknologi saat ini, melainkan juga pada kemungkinan dampaknya terhadap kehidupan demokrasi Indonesia pada masa mendatang. Saya memperkirakan persoalan ini akan mencapai titik yang sangat krusial menjelang tahun 2028 dan 2029.
Periode tersebut merupakan masa yang penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia karena masyarakat akan menghadapi berbagai agenda politik besar, mulai dari pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR dan DPD, hingga pemilihan kepala daerah secara serentak di seluruh Indonesia.
Kemajuan teknologi kecerdasan buatan memungkinkan seseorang membuat video, rekaman suara, maupun foto yang tampak sangat autentik. Kemampuan tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu, membangun opini yang menyesatkan, merusak reputasi individu, bahkan menjalankan kampanye hitam secara sistematis.
Situasi semacam ini berpotensi menciptakan kebingungan publik dalam menentukan mana informasi yang benar dan mana yang merupakan hasil manipulasi digital.
Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang mampu berpikir kritis dan memverifikasi informasi sebelum mempercayainya. Kemampuan tersebut akan menjadi semakin penting ketika teknologi memungkinkan kebohongan tampil dengan wajah yang nyaris tidak dapat dibedakan dari kenyataan.
Tantangan terbesar pada masa depan mungkin bukan lagi kekurangan informasi, melainkan melimpahnya informasi yang belum tentu benar.
Harapan saya sederhana. Masyarakat Indonesia perlu membangun budaya literasi digital yang kuat, membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh konten yang sengaja dibuat untuk menimbulkan kebencian atau permusuhan. Kesadaran tersebut menjadi fondasi penting agar teknologi tidak berubah menjadi alat yang merusak kualitas kehidupan demokrasi kita.
Indonesia telah melalui perjalanan panjang dalam membangun sistem demokrasi yang terbuka dan partisipatif. Tanggung jawab menjaga kualitas demokrasi tersebut kini tidak hanya berada di tangan penyelenggara negara, media massa, maupun lembaga pendidikan. Tanggung jawab itu juga berada di tangan setiap warga yang menggunakan telepon genggam, membaca informasi, dan membagikannya kepada orang lain.
Masa depan demokrasi Indonesia pada akhirnya sangat ditentukan oleh kemampuan kita untuk tetap berpihak pada kebenaran di tengah derasnya arus manipulasi digital yang semakin canggih.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]