Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DIALektIKA, TEORI KRITIS, DAN POSTMODERNISME UNTUK MEMAHAMI KECERDASAN BUATAN DALAM PERADABAN KITA

    02 Apr 2026 | Dilihat: 30 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada masa-masa ketika saya merasa dunia bergerak terlalu cepat, seolah gagasan-gagasan baru datang bertubi-tubi tanpa memberi kita cukup waktu untuk benar-benar memikirkannya. Setiap hari masyarakat disuguhi istilah baru, teknologi baru, narasi baru, dan bahkan kebenaran-kebenaran baru yang segera diterima sebagai tanda kemajuan.

    Di tengah arus seperti itu, saya sering merasa penting untuk kembali pada cara berpikir yang tidak tergesa-gesa, cara berpikir yang mau menelusuri retakan-retakan di balik permukaan. Di sinilah saya melihat adanya benang merah yang sangat kuat antara dialektika, teori kritis, dan postmodernisme.

    Ketiganya, dengan bahasa dan tradisinya masing-masing, sesungguhnya mengajarkan satu sikap intelektual yang sama, yatu jangan menerima realitas secara polos, jangan menelan kebaruan hanya karena ia tampak memukau.

    Dialektika mengajarkan bahwa kehidupan sosial tidak pernah statis. Masyarakat bergerak melalui pertentangan, melalui konflik yang sering kali tersembunyi di balik tampilan keseharian yang tampak normal. Sebuah gagasan baru tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari benturan antara yang lama dan yang sedang tumbuh.

    Ketika masyarakat mulai berbicara tentang kecerdasan buatan misalnya, kita sedang menyaksikan satu momen dialektis yang sangat nyata, yaitu benturan antara kemampuan manusia dan otomatisasi mesin, antara kreativitas organik dan produksi algoritmik, antara kebebasan berekspresi dan mekanisme kontrol digital. Dari benturan itulah lahir perubahan, tetapi perubahan itu tidak pernah netral.

    Teori kritis membawa kita lebih jauh ke wilayah yang lebih gelisah. Ia tidak berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana perubahan terjadi, tetapi bertanya dengan nada yang lebih tajam, siapa yang diuntungkan dari perubahan itu? Siapa yang menjadi subjek, dan siapa yang diam-diam berubah menjadi objek?

    Di hadapan teknologi kecerdasan buatan, pertanyaan ini menjadi sangat penting. Ketika generative AI mampu menulis puisi, membuat gambar, menyusun musik, bahkan meniru gaya seorang penulis atau seniman, ada kekaguman yang nyaris tak terelakkan.

    Saya sendiri merasakan semacam campuran rasa takjub dan cemas. Takjub karena kemampuan teknologi ini seolah memperluas batas kemungkinan manusia. Cemas karena di balik kekaguman itu ada persoalan yang jauh lebih dalam, yaitu tentang otentisitas, tentang hak cipta, tentang kuasa perusahaan teknologi global, tentang bagaimana kreativitas manusia perlahan dapat direduksi menjadi pola yang dipelajari mesin.

    Postmodernisme lalu masuk dengan sikap curiga yang khas terhadap klaim-klaim besar tentang kemajuan. Ia mengingatkan kita bahwa apa yang disebut sebagai “kemajuan” sering kali adalah narasi yang dibangun oleh pihak-pihak tertentu.

    Di sini kecerdasan buatan tidak lagi hanya dipahami sebagai alat teknologi, tetapi juga sebagai produksi makna. Ketika deepfake muncul dan mampu menghadirkan wajah, suara, bahkan gestur seseorang yang sesungguhnya tidak pernah ada dalam realitas, kita berhadapan dengan krisis yang lebih mendasar: krisis atas makna kebenaran itu sendiri.

    Saya merasa inilah salah satu kegelisahan terbesar peradaban kita hari ini. Jika citra dapat meniru kenyataan dengan begitu sempurna, lalu apa yang masih dapat kita sebut sebagai nyata? Jika suara seseorang dapat dipalsukan hingga tak terbedakan, lalu di mana kita meletakkan kepercayaan sosial?

    Di sini, dialektika, teori kritis, dan postmodernisme bertemu dalam satu ruang refleksi yang sangat penting. Dialektika membantu kita melihat bahwa kemunculan deepfake, generative AI, dan GAN bukan sekadar inovasi teknis, tetapi hasil dari kontradiksi-kontradiksi besar dalam peradaban digital: antara kebutuhan akan efisiensi dan kerinduan akan autentisitas, antara produksi massal dan ekspresi personal, antara kebebasan informasi dan manipulasi realitas.

    Teori kritis mengajak kita bertanya siapa yang menguasai infrastruktur teknologi ini, siapa yang memperoleh keuntungan ekonomi dan simbolik dari produksi citra palsu, dan bagaimana masyarakat rentan dapat menjadi korban penipuan, manipulasi politik, atau eksploitasi emosional.

    Sementara itu, postmodernisme memaksa kita merenungkan bahwa batas antara realitas dan representasi kini semakin kabur, sehingga manusia hidup dalam ruang simulasi yang sering kali lebih kuat pengaruhnya daripada kenyataan itu sendiri.

    Saya kira di sinilah isu kecerdasan buatan menjadi isu peradaban, bukan sekadar isu teknologi, karena yang dipertaruhkan bukan hanya mesin yang semakin cerdas, tetapi juga martabat manusia, relasi sosial, dan fondasi kepercayaan yang menopang kehidupan bersama.

    Deepfake bukan hanya soal gambar palsu, ia menyentuh persoalan etika, hukum, psikologi, bahkan politik. Generative adversarial network bukan hanya model komputasi, ia juga metafora tentang zaman kita, sebuah zaman di mana realitas dan kepalsuan terus saling menantang seperti dua kutub yang beradu tanpa henti.

    Secara pribadi, saya merasakan ada semacam kesedihan yang tenang ketika memikirkan semua ini. Peradaban yang kita bangun dengan janji pencerahan dan rasionalitas kini justru melahirkan teknologi yang mampu mengaburkan batas antara terang dan gelap, antara yang otentik dan yang artifisial.

    Namun mungkin justru di tengah kegelisahan itu kita menemukan tugas intelektual yang paling penting: tetap berpikir kritis, tetap memelihara refleksi, dan tidak menyerahkan kemanusiaan kita begitu saja kepada pesona teknologi.

    Mungkin pada akhirnya pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa canggih kecerdasan buatan dapat berkembang, melainkan apakah peradaban kita masih cukup bijaksana untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berpihak pada manusia, bukan sebaliknya.

    Di sanalah dialektika, teori kritis, dan postmodernisme masih relevan, sebagai cara untuk menjaga nurani peradaban agar tidak larut dalam ilusi kemajuan yang memukau namun mungkin menyisakan kehampaan yang mendalam.

    -- Riri Satria ----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture