Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada masa ketika hidup terasa lebih sederhana, ketika jarak diukur dengan langkah kaki, ketika kabar datang lewat suara, bukan notifikasi, ketika dunia seolah bergerak lebih pelan, memberi ruang bagi manusia untuk benar-benar merasa dekat dengan realita alam dan kehidupan sosial.
Kenangan itu sesekali datang, seperti angin sore yang membawa aroma masa lalu. Hangat, menenangkan, tapi juga diam-diam menipu. Karena ketika kita membuka mata, dunia yang kita hadapi hari ini bukan lagi dunia yang sama.
Kita sedang hidup di sebuah zaman yang bergerak terlalu cepat untuk sekadar dikenang. Perkembangan teknologi tidak lagi hanya mengubah cara kita bekerja atau berkomunikasi, tetapi perlahan menggeser cara kita memahami hidup itu sendiri. Dari kecerdasan buatan yang mulai “berpikir”, jaringan benda-benda yang saling terhubung tanpa henti, hingga teknologi biologi yang menyentuh inti kehidupan manusia.
Semuanya seperti sedang menyusun ulang definisi tentang apa artinya menjadi manusia. Istilah seperti transformasi digital, artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), hingga teknologi genom manusia bukan lagi sekadar jargon, melainkan bagian dari realitas yang kita hidupi, sadar atau tidak, mau diterima atau tidak.
Dalam banyak hal, semua ini membawa harapan. Hidup menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih efisien. Penyakit yang dulu tak terbayangkan untuk disembuhkan kini perlahan menemukan jawabannya. Keterbatasan fisik dan geografis semakin terkikis.
Dunia seperti membuka dirinya lebih lebar, memberi manusia peluang untuk menjadi lebih dari sebelumnya. Kita menyebutnya masyarakat cerdas atau smart society, sebuah fase di mana teknologi bukan hanya alat, tetapi mitra dalam membangun peradaban yang lebih baik.
Namun, di balik semua itu, ada kegelisahan yang sulit diabaikan. Ketika mesin mulai mengambil alih keputusan, ketika data menjadi lebih berharga daripada pengalaman, ketika kecepatan lebih dihargai daripada kedalaman, kita mulai bertanya apakah kita benar-benar sedang maju, atau hanya berlari tanpa arah?
Ada dimensi moral, etika, dan kemanusiaan yang tidak bisa sepenuhnya dijawab oleh algoritma. Di situlah manusia diuji, bukan oleh keterbatasannya, tetapi oleh kemampuannya untuk tetap bijak di tengah kelimpahan.
Kita bisa melihatnya dari hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika satu per satu media cetak kertas mulai kehilangan napasnya, banyak orang larut dalam kesedihan, seolah-olah sebuah era benar-benar berakhir.
Ada rasa kehilangan yang wajar, tentang aroma kertas, tentang ritual membuka halaman demi halaman, tentang kedalaman membaca yang terasa berbeda.
Tetapi jika kita berhenti hanya pada ratapan, kita justru kehilangan kesempatan yang jauh lebih besar. Daripada sibuk meratapi matinya media cetak, mungkin lebih bermakna jika kita bertanya bagaimana media digital bisa kita buat lebih berdaya guna, lebih berkualitas, lebih mampu mencerdaskan, bukan sekadar membanjiri? Bagaimana teknologi bisa menjadi medium yang memperdalam pemahaman, bukan sekadar mempercepat konsumsi?
Di titik ini, nostalgia menjadi semacam pelarian yang menggoda. Kita ingin kembali ke masa ketika semuanya terasa lebih “nyata”, lebih manusiawi. Tidak ada yang salah dengan itu. Mengenang adalah bagian dari menjadi manusia. Ia memberi kita akar, memberi kita identitas.
Tetapi hidup tidak pernah benar-benar memberi kita pilihan untuk kembali. Waktu hanya bergerak ke depan, membawa kita, suka atau tidak, menuju sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami.
Maka mungkin yang paling masuk akal bukanlah menolak perubahan, juga bukan tenggelam dalam romantisme masa lalu, melainkan belajar berdamai dengan keduanya. Mengambil nilai-nilai yang kita percaya dari masa lalu, lalu membawanya ke masa depan yang sedang dibentuk oleh teknologi.
Karena pada akhirnya, masa depan bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ia adalah sesuatu yang kita siapkan, kita bentuk, dan kita isi dengan pilihan-pilihan kita hari ini.
Di antara semua percepatan ini, barangkali yang paling penting adalah menjaga satu hal tetap utuh yaitu kesadaran bahwa di balik segala kecanggihan, kita tetap manusia. Dengan rasa, dengan pertanyaan, dengan keraguan, dan dengan harapan. Sebab tanpa itu, masa depan yang paling canggih sekalipun mungkin akan terasa hampa.
Dalam banyak kasus, orang atau bahkan institusi yang terlalu larut dalam romantisme masa lalu sering kali kehilangan daya adaptasi. Mereka sibuk menjaga cerita lama, sementara dunia di sekitarnya sudah berubah tanpa menunggu.
Ketika energi lebih banyak dihabiskan untuk mengenang daripada merancang, yang terjadi adalah stagnasi. Dalam konteks ini, nostalgia bisa menjadi semacam “zona nyaman psikologis” atau tempat berlindung dari tuntutan masa depan yang terasa lebih kompleks dan menantang. Wajar jika muncul anggapan bahwa mereka kurang kompetitif.
Namun manusia tidak sesederhana dikotomi masa lalu versus masa depan. Ada orang-orang yang justru menjadikan masa lalu sebagai sumber kekuatan, bukan tempat pelarian. Mereka mengenang bukan untuk tinggal, tetapi untuk memahami.
Mereka melihat kejayaan masa lalu bukan untuk dibanggakan secara kosong, tetapi untuk dipelajari, apa yang berhasil, apa yang gagal, dan bagaimana nilai-nilai itu bisa dibawa ke konteks baru. Dalam bentuk ini, nostalgia bukan hambatan, melainkan fondasi.
Justru yang menjadi masalah sebenarnya bukan pada “mengingat masa lalu”, melainkan pada “terjebak” di dalamnya. Ada perbedaan halus tapi penting antara refleksi dan pelarian. Refleksi memberi arah ke depan, sementara pelarian justru menghentikan langkah. Orang yang kompetitif bukan berarti ia melupakan masa lalu, tetapi ia mampu menempatkan masa lalu pada posisi yang tepat yaitu sebagai referensi, bukan sebagai tujuan.
Pada akhirnya, masa depan tidak dimenangkan oleh mereka yang paling banyak kenangan, tetapi oleh mereka yang paling siap beradaptasi. Kesiapan itu sering kali lahir dari kombinasi yang matang yaitu kesadaran akan akar, sekaligus keberanian untuk berubah.
--- Riri Satria ---
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]