Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • BUZZER

    25 Mar 2026 | Dilihat: 22 kali

    oleh: Riri Satria

    Tiga hari menjelang Idul Fitri yang lalu, ketika suasana batin biasanya mulai dipenuhi rasa pulang, maaf, dan harapan baru, sebuah pesan masuk dari seorang sahabat lama yang nyaris hilang dari peredaran hidup saya.

    Sudah dua atau tiga tahun kami tidak berjumpa, tidak bertukar kabar, dan tiba-tiba saja ia hadir kembali, seperti fragmen masa lalu yang mengetuk pelan di pintu ingatan. Ada rasa hangat, tentu saja, tetapi juga ada sesuatu yang samar, yang belum sempat saya definisikan saat itu.

    Percakapan kami mengalir sebagaimana mestinya, penuh nostalgia singkat dan tawa kecil yang terasa agak canggung. Namun perlahan, arah pembicaraan berubah, menjadi lebih serius, bahkan agak getir. Ia bercerita tentang pekerjaannya sekarang.

    Dengan nada yang entah jujur atau sekadar lelah menyimpan rahasia, ia mengaku bahwa dirinya adalah seorang buzzer, dan lebih spesifik lagi, buzzer anti-pemerintah. Ia dibayar untuk itu, dan peneghasilannya tidak kalah dengan Dirut BUMN. Ia bekerja untuk membangun narasi, menggiring opini, memastikan bahwa pemerintah selalu tampak salah, tak peduli apakah dalam kenyataannya demikian atau tidak.

    Saya terdiam cukup lama, meski dari luar mungkin hanya tampak seperti jeda biasa dalam percakapan. Ia melanjutkan ceritanya dengan enteng, seolah itu hanyalah profesi lain seperti yang biasa kita dengar sehari-hari. Ia memiliki puluhan akun di berbagai platform media sosial, dari yang paling ramai hingga yang setengah sepi, semua siap digerakkan kapan saja. Sebuah orkestrasi sunyi yang dimainkan di balik layar, tanpa wajah, tanpa nama, tetapi dengan dampak yang bisa begitu nyata.

    Buzzer itu tidak peduli dengan apa yang dia tulis. Dia yakin cuma satu, apa yang dia tulis itu akan dibayar. Bahkan mungkin dia tidak tahu isinya apa. Apakah itu akan merusak, membawa kebaikan, dan sebagainya. Apakah akan bertentangan dengan pemerintah, mengkritik pemerintah, mendukung, dan sebagainya. Apakah itu benar atau salah, dia tidak peduli, yang penting dia dibayar untuk itu.

    Saya hanya bisa tersenyum kecil, nyengir mungkin lebih tepatnya, bukan karena menganggapnya lucu, tetapi karena saya tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ada sesuatu yang terasa janggal, tetapi juga tidak sepenuhnya asing. Bukankah kita semua, dalam kadar tertentu, hidup di zaman di mana kebenaran sering kali dinegosiasikan, dipoles, bahkan diperjualbelikan?

    Saya tidak menghakimi. Setidaknya saya berusaha untuk tidak. Saya hanya katakan hanya sebuah kalimat sederhana, hampir klise, tetapi saya ucapkan dengan sungguh-sungguh, berhati-hatilah, jangan gegabah. Anggap saja itu nasihat dari seorang teman lama yang mungkin tidak sepenuhnya memahami dunia yang kini ia jalani, tetapi masih peduli.

    Setelah percakapan itu berakhir, saya duduk cukup lama dengan pikiran yang berkelindan. Ada perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Dunia media sosial, yang setiap hari kita buka tanpa banyak berpikir, tiba-tiba terasa seperti ruang yang jauh lebih kompleks, bahkan mungkin lebih gelap daripada yang selama ini saya bayangkan.

    Di sana, ada orang-orang yang bekerja bukan untuk menyampaikan apa yang mereka yakini, tetapi untuk membentuk apa yang orang lain harus yakini.

    Namun di tengah semua itu, saya justru teringat pada satu hal yang terasa semakin penting untuk dipegang: cinta terhadap Indonesia. Sebuah cinta yang tidak selalu sederhana, tidak selalu lurus, dan tidak selalu berarti sepakat dengan segala hal yang dilakukan oleh pemerintah atau rezim yang sedang berkuasa.

    Cinta itu, bagi saya, bukan sekadar tepuk tangan tanpa jeda, tetapi juga keberanian untuk bertanya, untuk mengingatkan, bahkan untuk mengkritik.

    Ada kecenderungan di ruang publik kita untuk menyederhanakan segala sesuatu menjadi hitam dan putih. Seolah-olah jika kita mengkritik pemerintah, maka kita tidak cinta negara. Seolah-olah jika kita mendukung kebijakan tertentu, maka kita pasti bagian dari kekuasaan.

    Padahal kenyataannya jauh lebih rumit dari itu. Cinta kepada Republik Indonesia bisa hadir dalam banyak bentuk, dalam dukungan yang tulus, dalam kritik yang jujur, bahkan dalam kegelisahan yang terus kita rawat diam-diam.

    Saya tidak tahu apakah sahabat saya masih memikirkan percakapan kami setelah itu. Saya juga tidak tahu apakah nasihat sederhana saya memiliki arti baginya. Tetapi bagi saya sendiri, pertemuan singkat itu meninggalkan semacam gema yang terus berulang di dalam kepala.

    Sebuah pengingat bahwa di balik setiap unggahan, setiap komentar, setiap opini yang beredar, ada manusia dengan pilihan-pilihannya, dengan komprominya, dengan alasan-alasannya sendiri.

    Dan mungkin, di tengah riuhnya dunia maya yang tidak pernah benar-benar tidur, yang paling kita butuhkan bukan sekadar lebih banyak suara, tetapi lebih banyak kejujuran. Bukan hanya keberanian untuk berbicara, tetapi juga keberanian untuk tetap jernih, untuk tidak kehilangan arah di antara arus yang begitu deras.

    Pada akhirnya, saya ingin percaya bahwa cinta kepada negeri ini masih bisa ditemukan, bahkan di tempat-tempat yang paling bising sekalipun. Bahwa di antara kritik dan dukungan, di antara narasi dan kontra-narasi, masih ada ruang kecil yang sunyi, tempat kita bisa kembali bertanya, untuk siapa semua ini kita lakukan, dan sejauh mana kita masih setia pada nurani kita sendiri.

    -- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture