Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MAKNA IDUL FITRI

    20 Mar 2026 | Dilihat: 8 kali

    MAKNA IDUL FITRI (MENURUT SAYA): KEMBALI KE DALAM DAN  MENEMUKAN DIRI SENDIRI DI RUANG PALING HENING

    oleh: Riri Satria

    Idul Fitri selalu datang seperti sebuah jeda yang penuh makna dan bukan sekadar penutup dari perjalanan panjang Ramadan, tetapi sebuah titik balik yang sunyi sekaligus menggugah.

    Setelah sebulan kita latihan menahan lapar, dahaga, dan gejolak batin, kita seakan diajak untuk menengok ke dalam diri, apakah yang benar-benar telah berubah?

    Dalam lanskap yang semakin riuh oleh simbol, konsumsi, dan perayaan visual, makna Idul Fitri justru terasa seperti sesuatu yang harus dicari kembali, bahkan direbut dari kebisingan dunia. Ia bukan sekadar peristiwa, melainkan pengalaman eksistensial atau sebuah usaha untuk kembali kepada fitrah, kepada diri yang paling jujur, yang mungkin selama ini tertutup oleh ambisi, ego, dan luka-luka yang tidak selesai.

    Seperti diingatkan oleh Buya Hamka, “Idulfitri bukan hanya tentang baju baru, tetapi hati yang baru.” Kalimat ini terasa semakin relevan di tengah zaman yang kerap menukar esensi dengan penampilan. Kita membeli pakaian terbaik, menata rumah, menyusun hidangan, tetapi sering kali lupa menata hati.

    Dalam kerangka yang lebih kontemplatif, Idul Fitri adalah sebuah dekonstruksi untuk membongkar kembali siapa kita sebenarnya setelah sekian lama terfragmentasi oleh peran sosial dan tuntutan dunia. Jalaluddin Rumi mengingatkan dengan lembut, “Jangan mencari Idulfitri di luar, tetapi temukan dalam jiwamu yang suci.” Seolah-olah ia mengajak kita pulang, bukan ke rumah fisik, tetapi ke ruang batin yang paling dalam, tempat di mana keikhlasan dan kesadaran bersemayam.

    Di titik ini, Idul Fitri menjadi lebih dari sekadar kemenangan. Ia adalah rekonsiliasi. Kita berdamai dengan diri sendiri, dengan masa lalu, dan dengan orang lain. Tradisi saling memaafkan bukanlah formalitas sosial, melainkan sebuah lompatan spiritual dengan mengosongkan diri dari beban dendam dan menggantinya dengan kasih sayang.

    Mustofa Bisri atau Gus Mus pernah mengatakan bahwa Idulfitri adalah saat terbaik untuk kembali menjadi manusia yang fitrah, kembali kepada cinta dan kasih sayang. Dalam suasana ini, pelukan menjadi lebih dari sekadar gestur. Ia adalah bahasa yang melampaui kata-kata, sebuah pengakuan bahwa kita sama-sama rapuh, sama-sama membutuhkan maaf.

    Namun dalam nuansa yang sedikit postmodern, kita juga tak bisa mengabaikan bahwa makna Idul Fitri sering kali terpecah dalam berbagai tafsir. Ia bisa menjadi sangat spiritual bagi sebagian orang, tetapi juga sangat material bagi yang lain. Di sinilah refleksi menjadi penting.

    Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kemenangan sejati bukanlah banyaknya harta, tetapi sucinya hati dan bertambahnya ketakwaan. Pernyataan ini seperti kritik halus terhadap kecenderungan kita yang sering mengukur keberhasilan secara kasat mata.

    Bahkan Ulama Sayyid Qutb menegaskan bahwa Idulfitri adalah perayaan keberhasilan spiritual, bukan sekadar perayaan duniawi. Maka, pertanyaannya menjadi lebih personal, apakah kita benar-benar merayakan kemenangan, atau hanya merayakan kebiasaan?

    Dalam keheningan setelah gema takbir mereda, kita mungkin menyadari bahwa Idul Fitri adalah sebuah awal, bukan akhir. Ia adalah pintu menuju kehidupan yang lebih sadar, lebih jernih, dan lebih penuh makna.

    Hasan al-Banna menyebut hari raya sejati sebagai keadaan di mana hati bersih dari dendam dan penuh cinta kepada sesama. Dan Ali ibn Abi Talib mengingatkan bahwa hari raya bukanlah milik mereka yang berpakaian baru, tetapi mereka yang ketaatannya bertambah.

    Di titik ini, Idul Fitri menjadi semacam kompas moral atau mengarah pada kehidupan yang lebih baik, lebih tulus, dan lebih bermakna.

    Pada akhirnya Idul Fitri adalah tentang keberanian untuk berubah. Bukan perubahan yang dramatis dan instan, tetapi perubahan yang perlahan, yang tumbuh dari kesadaran. Ia adalah tentang membuka lembaran baru dengan hati yang lebih lapang, dengan harapan yang lebih jernih, dan dengan langkah yang lebih ringan.

    Dalam dunia yang terus bergerak cepat dan sering kali kehilangan arah, Idul Fitri hadir sebagai momen untuk berhenti sejenak, meresapi, dan memulai kembali.

    Semoga cinta dan kedamaian senantiasa mengalir dalam setiap langkah kita, dan kasih sayang selalu memenuhi hati kita di hari suci ini. Selamat Idulfitri 1447H, mohon maaf lahir dan batin.

    ---- Riri Satria ----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture