Riri Satria
KATEGORI
  • Terkini
  • Dokumen
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KISAH DI BALIK PEYUSUNAN EMPAT NASKAH BUKU

    19 Mar 2026 | Dilihat: 6 kali

    --- Kisah di balik empat buku saya, buku kumpulan pusi "Bom Waktu", buku "Gelombang Algoritma", buku "Membangkai Kata-kata", serta buku "Kata Rupa dan Warna" ---

    Ada jeda yang tidak saya rencanakan, tetapi justru menjadi ruang paling jujur bagi lahirnya buku-buku itu. Setahun terakhir sejak 2025, setelah "Login Haramain" terbit, saya seperti berjalan pelan, menengok ke dalam, merapikan kembali serpihan-serpihan pengalaman yang belum sempat saya beri nama.

    Buku "Login Haramain" itu sendiri lahir dari perjalanan yang sangat personal, yaitu dari Tanah Suci, dari langkah-langkah yang tidak hanya menempuh jarak fisik, tetapi juga jarak batin. Ia tidak mencoba menjadi apa-apa selain catatan tentang apa yang saya lihat, saya rasakan, dan saya renungkan selama ibadah haji. Tidak ada ambisi untuk meluas, tidak ada keinginan untuk keluar dari pengalaman itu. Justru di situlah kejujurannya tinggal.

    Tahun 2022 menjadi penanda penting, ketika buku kumpula puis "Metaverse" dan buku kumpulan esai kesusastaan "Jelajah" terbit hampir beriringan. Dua buku itu seperti dua wajah dari kegelisahan yang sama: satu mencoba menangkap dunia yang berubah lewat puisi, sementara yang lain berusaha memahami melalui esai. Setelah itu, ada semacam keheningan panjang yang tidak sepenuhnya kosong. Ia lebih seperti tanah yang sedang menunggu musim.

    Barangkali, benih untuk empat buku berikutnya justru mulai tumbuh dari satu momen yang tampak sederhana. Oktober 2025, selepas ulang tahun Jagat Sastra Milenia (JSM), saya masih mengingat suasana hangat itu di mana enam sahabat meluncurkan buku mereka, dan di tengah canda yang mengalir, saya sempat berseloroh bahwa tahun 2026 akan menjadi giliran saya, juga Mbak Nunung, Rissa, Sofyan, dan beberapa kawan lain yang diam-diam sudah menyiapkan naskah.

    Saat itu, kalimat itu terasa ringan, hampir seperti angin lalu. Namun rupanya ia tinggal, mengendap, dan perlahan berubah menjadi komitmen yang harus ditepati.

    Sejak bulan itulah saya mulai membuka kembali jejak-jejak tulisan yang pernah saya tinggalkan. Saya menyusuri kembali tulisan-tulisan sejak pertengahan 2022, yang tersebar di berbagai ruang, di Facebook, di Instagram, di LinkedIn, di blog pribadi, jjuga di berbagai meda. Rasanya seperti menelusuri ulang diri sendiri di masa lalu.

    Ada tulisan yang masih terasa relevan, ada yang terasa mentah, ada pula yang justru mengejutkan saya sendiri karena pernah menuliskannya dengan cara seperti itu. Namun semua itu adalah anak pejalanan intelektual saya untuk merespon berbagai fenomena yang tejadi dalam kehidupan.

    Proses itu tidak instan. Ia menuntut ketelatenan yang hampir meditatif. Saya mulai memilah: mana yang puisi, mana yang esai. Dari esai pun, saya kembali memisahkan, mana yang berbicara tentang transformasi digital dan kecerdasan buatan, yang memang dekat dengan keseharian profesi saya, dan mana yang bergerak di wilayah kebudayaan, kemanusiaan, dan peradaban.

    Di tengah proses itu, saya menyadari bahwa saya juga banyak menulis tentang menulis itu sendiri, teutama menulis esai. Namun saya memilih tidak menjadikannya sebagai buku panduan teknis. Sudah terlalu banyak buku yang menjelaskan langkah demi langkah. Saya lebih tertarik menjadikannya sebagai refleksi atau sebuah cara pandang, bukan sekadar metode.

    Dari situlah, pelan-pelan, keempat buku itu menemukan bentuknya. "Bom Waktu" lahir dari kegelisahan yang tidak bisa lagi ditunda, seperti detak yang terus menghitung sesuatu yang tak terlihat. "Gelombang Algoritma" menjadi upaya memahami arus besar perubahan teknologi yang mengelilingi kita. "Membingkai Kata-Kata" hadir sebagai ruang kontemplatif tentang proses menulis itu sendiri. Sementaa itu "Kata, Rupa, dan Warna" menjadi semacam pertemuan dari berbagai gagasan tentang kebudayaan dan kemanusiaan yang selama ini berkelindan dalam pikiran saya.

    Setelah semua naskah terkumpul, diklasifikasikan, dan disusun, saya sampai pada satu titik yang terasa sekaligus lega dan cemas, di mana empat draft buku itu akhirnya selesai. Namun saya tahu, selesai bukan berarti selesai sepenuhnya. Saat ini, naskah-naskah itu sedang dibaca oleh beberapa sahabat, sebuah tim kecil yang saya percaya untuk melihat dengan mata yang lebih jernih. Saya menunggu masukan, saran, bahkan kritik, dengan perasaan yang campur aduk. Ada harap agar pesan-pesan di dalamnya sampai, tetapi juga ada keraguan yang selalu setia mengikuti setiap proses kreatif.

    Rencananya, jika semua berjalan baik, keempat buku ini akan terbit pada bulan Mei 2026. Tentu masih ada tahap evaluasi dari penerbit, dan besar kemungkinan akan diterbitkan oleh Taresi Books. Saya juga berniat meminta Sofian RH Zaid, sahabat yang saya percayai, untuk melakukan evaluasi akhir secara menyeluruh, semacam penutup sebelum buku-buku ini benar-benar menemukan pembacanya.

    Jika saya melihat semua ini sebagai satu rangkaian, saya merasa bahwa buku-buku tersebut bukan sekadar produk dari proses menulis, melainkan hasil dari perjalanan yang panjang, yaitu perjalanan mengumpulkan, memilih, meragukan, mempercayai, lalu merelakan. Ada bagian dari diri saya yang tertinggal di setiap halaman, dan mungkin itu yang membuat semuanya terasa begitu personal.

    Pada akhirnya, saya tidak pernah benar-benar tahu bagaimana buku-buku ini akan diterima. Namun ada satu harapan sederhana yang terus saya pegang: semoga ia menemukan pembacanya, dan dalam diam, memberi sesuatu atau manfaat,sekecil apa pun itu, yang berarti.

    Somoga demikian. Salam hangat.

    - Riri Satria, Maret 2026.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture