Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada masa ketika bunyi synthesizer dianggap dingin, artifisial, dan jauh dari jiwa manusia. Ketika gelombang elektronik mulai merambat ke dalam lagu-lagu pop pada akhir abad ke-20, banyak orang merasa musik sedang kehilangan sesuatu yang paling esensial yaitu sentuhan manusia. Musik yang lahir dari rangkaian elektronik dan tombol yang diprogram terasa terlalu mekanis untuk disebut seni.
Saya masih ingat mendengar lagu “Don’t You Want Me” dari The Human League ketika masih bersekolah di SMP sekitar tahun 1984. Lagu itu terasa berbeda, aneh sekaligus memikat.
Saat itu banyak musisi memandang synthesizer dengan kecurigaan. Bagi mereka, musik adalah tubuh yang bergerak, napas yang mengalir, dan tangan yang berlatih bertahun-tahun untuk menemukan presisi dan rasa. Synthesizer terlihat seperti kotak elektronik yang dapat menghasilkan ribuan suara hanya dengan beberapa pengaturan. Kekhawatiran pun muncul: apakah teknologi akan menggantikan keterampilan?
Namun sejarah sering menjawab kegelisahan manusia dengan tenang. Perlahan orang menyadari bahwa synthesizer bukanlah pengganti kreativitas, melainkan instrumen baru yang membuka kemungkinan bunyi yang belum pernah ada sebelumnya. Para musisi mulai menjelajahi wilayah sonik yang tak bisa dicapai alat musik tradisional.
Karya tokoh seperti Brian Eno, Jean-Michel Jarre, atau kelompok elektronik Kraftwerk menunjukkan bahwa teknologi bukan musuh seni. Justru melalui teknologi, mereka menangkap pengalaman manusia modern yang hidup di tengah mesin, kota, listrik, dan sistem digital yang terus berdetak. Musik elektronik menjadi semacam cermin zamannya.
Ketakutan semacam ini sebenarnya selalu muncul setiap kali teknologi baru hadir dalam dunia seni. Fotografi dulu dianggap tidak bisa menjadi seni. Film pernah dipandang lebih rendah daripada teater. Bahkan gitar listrik pernah dianggap merusak kemurnian musik akustik. Namun waktu selalu mengingatkan bahwa seni tidak pernah bergantung pada alatnya, melainkan pada manusia yang menggunakannya.
Saya sendiri pernah mengalami fase kecil bersama teknologi musik itu. Sekitar tahun 2010 hingga 2015, ketika hidup terasa lebih longgar dan masih banyak waktu untuk bereksperimen, saya sering menghabiskan malam bermain dengan synthesizer dan keyboard. Dua mainan favorit saya saat itu adalah Korg R3 dan keyboard Yamaha PSR-290.
Alat-alat itu seperti pintu menuju dunia bunyi yang tak ada habisnya. Kadang saya membuat pad atmosferik yang panjang, kadang memainkan melodi sederhana seperti berjalan sendirian di kota pada malam hari. Saya punya mimpi kecil ingin membuat musik seperti Jean-Michel Jarre atau memainkan keyboard penuh energi seperti Jon Lord. Tentu saja lebih banyak melesetnya daripada tepatnya ... hahaha ... tetapi justru di situlah kesenangannya.
Saya sempat merekam beberapa komposisi kecil, hanya eksperimen yang lahir dari rasa ingin tahu. Namun waktu berjalan. Peralatan itu perlahan jarang digunakan lagi. Sebagian besar akhirnya saya hibahkan kepada mereka yang lebih aktif bermusik. Yang masih tersisa hanya keyboard lama saya, Yamaha PSR-290, yang entah mengapa tetap saya simpan sebagai kenangan tentang malam-malam penuh bunyi sintetis yang belum tentu selesai.
Kini, ketika kecerdasan buatan mulai mampu menghasilkan musik, perdebatan lama tentang teknologi dan seni muncul kembali. Jika algoritma dapat menciptakan melodi dan harmoni hanya dari sebuah perintah singkat, di manakah letak kreativitas manusia?
Beberapa musisi sudah bereksperimen dengan kemungkinan ini. Musisi eksperimental seperti Holly Herndon menciptakan sistem AI bernama Spawn yang dilatih dengan suara manusia dan ikut “bernyanyi” dalam komposisinya. Artis pop elektronik seperti Grimes juga menggunakan teknologi berbasis AI untuk menciptakan tekstur suara baru.
Bahkan pernah muncul lagu viral “Heart on My Sleeve” yang dibuat oleh kreator anonim Ghostwriter977 dengan meniru suara Drake dan The Weeknd menggunakan AI. Kasus ini memicu perdebatan luas tentang hak cipta, identitas artistik, dan masa depan musik.
Sebagian analis melihat AI sebagai revolusi kreatif, sementara yang lain menganggapnya sekadar evolusi teknologi dalam sejarah panjang musik. Namun banyak juga yang berpendapat bahwa AI sebaiknya dipahami sebagai instrumen baru dalam ekosistem kreatif, alat yang memperluas kemungkinan musikal manusia.
Seorang ilmuwan seperti Max Tegmark bahkan melihat kecerdasan buatan sebagai perpanjangan kemampuan manusia. Dalam kerangka ini, teknologi tidak menggantikan kreativitas, melainkan memperluasnya, seperti synthesizer dulu memperluas spektrum bunyi yang bisa diciptakan seorang musisi.
Saya kadang membayangkan seorang komposer duduk di depan layar komputer pada malam yang sunyi. Tidak ada gitar yang dipetik atau piano yang dimainkan dengan emosi, tetapi ada dialog lain: dialog antara manusia dan mesin yang belajar dari jutaan potongan musik masa lalu.
Mesin mungkin menawarkan melodi atau harmoni, lalu manusia mendengarkannya dengan rasa yang sangat manusiawi, ragu, penasaran, terharu, atau tersenyum kecil ketika menemukan sesuatu yang indah.
Di titik itulah seni mungkin tetap hidup. Seni selalu lahir dari percakapan antara manusia dengan dunia, dengan teknologi, dan dengan masa depan yang belum sepenuhnya kita pahami.
Dan bagi saya pribadi, perjalanan kecil bersama synthesizer itu akhirnya membawa pada kesadaran sederhana. Saya menyukai musik dan menikmati bermain dengan bunyi, tetapi seiring waktu saya menemukan medium lain yang terasa lebih pas untuk menampung kegelisahan dan refleksi saya: bukan rangkaian nada, melainkan rangkaian kata.
Mungkin karena itu, pada akhirnya saya lebih banyak menulis puisi daripada membuat musik. Bunyi-bunyi sintetis yang dulu saya kejar perlahan berubah menjadi metafora dan larik-larik. Musik tetap tinggal sebagai kenangan yang hangat, sementara puisi terasa seperti rumah yang lebih tenang untuk saya tinggali.
— Riri Satria --
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]