Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • APAKAH ITU GREEDY ECONOMY ATAU EKONOMI RAKUS?

    16 Mar 2026 | Dilihat: 12 kali

    oleh: Riri Satria

    Akhir-akhir ini saya sering mendengar sebuah istilah yang cukup menarik sekaligus menggelisahkan, yaitu greedy economy, atau yang jika diterjemahkan secara bebas dapat disebut sebagai ekonomi rakus. Istilah ini muncul dalam berbagai pembahasan, percakapan publik, diskusi akademik, hingga perbincangan di media.

    Biasanya ia hadir ketika orang membicarakan tentang penguasaan sumber daya yang dianggap terlalu besar oleh kelompok atau pihak tertentu, baik dalam bentuk kekuasaan ekonomi, penguasaan lahan, konsentrasi kekayaan, maupun dominasi korporasi dalam sektor-sektor strategis.

    Dari berbagai percakapan itu, terasa ada kegelisahan yang sama, bahwa ada sesuatu yang tidak seimbang dalam cara sumber daya dikelola dalam kehidupan ekonomi kita. Mungkin fenomena inilah yang oleh sebagian orang disebut sebagai greedy economy.

    Secara sederhana, greedy economy merujuk pada suatu kondisi ketika dorongan untuk mengakumulasi keuntungan menjadi begitu dominan hingga melampaui pertimbangan etika, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Dalam situasi seperti ini, pertumbuhan keuntungan sering dianggap sebagai tujuan utama, sementara kesejahteraan masyarakat yang lebih luas, keseimbangan sosial, dan kelestarian alam menjadi hal yang kurang diperhatikan.

    Ekonomi seolah bergerak mengikuti logika yang sangat dingin yaitu siapa yang memiliki modal dan kekuasaan lebih besar, dialah yang menguasai sumber daya lebih besar pula.

    Kritik terhadap kecenderungan seperti ini sebenarnya bukan hal yang baru dalam sejarah pemikiran sosial. Sejak lama para pemikir telah mencoba memahami bagaimana sistem ekonomi dapat menghasilkan ketimpangan yang tajam. Dalam analisis tentang akumulasi kapital misalnya, Karl Marx pernah menunjukkan bagaimana kekayaan dapat terkonsentrasi pada kelompok kecil dalam masyarakat.

    Sementara itu para pemikir dari Frankfurt School seperti Jürgen Habermas mengingatkan bahwa rasionalitas ekonomi yang terlalu berorientasi pada efisiensi dan keuntungan dapat mendominasi kehidupan sosial dan mengabaikan dimensi kemanusiaan.

    Fenomena greedy economy biasanya dapat dikenali dari beberapa gejala yang cukup nyata. Salah satunya adalah konsentrasi kekayaan yang sangat tinggi pada segelintir kelompok ekonomi. Dalam banyak negara, kita sering melihat bagaimana sebagian kecil orang atau korporasi menguasai sumber daya yang sangat besar, sementara sebagian besar masyarakat hanya memperoleh bagian yang jauh lebih kecil dari kue ekonomi.

    Gejala lain dapat terlihat dalam eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, penebangan hutan besar-besaran, pertambangan yang merusak lingkungan, atau eksploitasi sumber daya laut tanpa memperhatikan keberlanjutan. Dalam situasi seperti itu, keuntungan ekonomi mungkin meningkat dalam jangka pendek, tetapi biaya ekologis dan sosialnya sering kali harus ditanggung oleh generasi yang lebih panjang.

    Kita juga dapat melihat gejala ekonomi rakus dalam praktik spekulasi finansial yang berlebihan, seperti yang pernah terjadi menjelang Global Financial Crisis. Pada masa itu banyak lembaga keuangan mengejar keuntungan besar melalui instrumen keuangan yang sangat kompleks dan berisiko tinggi. Ketika sistem tersebut runtuh, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para pelaku pasar, tetapi juga oleh jutaan orang biasa yang kehilangan pekerjaan dan rumah.

    Namun setiap kali mendengar istilah greedy economy, saya sering berpikir bahwa jika ada ekonomi yang rakus, seharusnya ada pula lawannya. Bagi saya pribadi, lawan dari ekonomi rakus itu adalah ekonomi yang berkeadilan atau ekonomi yang berkemanusiaan. Sebuah ekonomi yang tidak semata-mata mengejar akumulasi keuntungan, tetapi menempatkan kesejahteraan manusia sebagai tujuan utama.

    Dalam ekonomi yang berkeadilan, aktivitas ekonomi tidak hanya diukur dari seberapa besar pertumbuhan yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa luas kesejahteraan itu dibagikan kepada masyarakat. Ekonomi bukan sekadar soal angka-angka statistik, grafik pertumbuhan, atau nilai investasi yang terus meningkat.

    Ekonomi pada akhirnya adalah tentang kehidupan manusia, tentang pekerjaan yang layak, kesempatan yang adil, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta kemungkinan bagi setiap orang untuk hidup dengan martabat.

    Gagasan tentang ekonomi yang berkeadilan ini sebenarnya memiliki akar yang sangat kuat dalam falsafah bangsa Indonesia. Dalam dasar negara Pancasila, terutama pada sila kelima, terdapat prinsip yang sangat jelas, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Prinsip ini mengingatkan kita bahwa ekonomi seharusnya tidak hanya menjadi mekanisme pasar yang bekerja secara otomatis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang adil, beradab, dan manusiawi.

    Karena itu saya percaya bahwa ekonomi yang sehat seharusnya tidak hanya efisien, tetapi juga adil dan bermartabat. Ia tidak boleh dikuasai oleh keserakahan yang menumpuk kekayaan pada segelintir pihak, tetapi harus diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan bersama.

    Dalam pengertian inilah ekonomi menjadi bagian dari proyek peradaban manusia, sebuah usaha kolektif untuk membangun kehidupan yang lebih adil, lebih seimbang, dan lebih manusiawi bagi semua, bukan mengikuti nafsu primitif greedy aconomy.

    --- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture