Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Ketika Anak-anak dan Remaja di Bawah Bayang-bayang Algoritma

    10 Mar 2026 | Dilihat: 24 kali

    Oleh Riri Satria

    Beberapa hari yang lalu saya membaca pernyataan dari Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid yang mengusulkan agar anak-anak di bawah usia enam belas tahun tidak memiliki akun media sosial. Alasannya cukup jelas, yaitu melindungi mereka dari berbagai risiko digital seperti cyberbullying, manipulasi informasi, hingga penyalahgunaan identitas. Ketika pertama kali membaca usulan itu, saya tidak langsung merasa harus setuju atau menolak. Saya justru merasa perlu merenung sejenak, sebab persoalan ini tidak sesederhana kelihatannya. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam, yaitu bagaimana sebenarnya masa remaja berlangsung di zaman yang seluruh ruang sosialnya telah disusupi oleh teknologi digital, serta berada di bawah bayang-bayang algoritma.

    Dalam psikologi perkembangan, masa remaja selalu dipahami sebagai masa pencarian jati diri. Erik Erikson menyebutnya sebagai tahap ketika seseorang bergulat dengan pertanyaan tentang identitas, siapa dirinya, dan bagaimana ia ingin hadir di dunia. Pada generasi sebelumnya, pergulatan itu biasanya terjadi dalam ruang yang relatif nyata, yaitu keluarga, sekolah, sahabat sebaya, lingkungan sosial yang bisa disentuh secara langsung. Identitas dibangun melalui percakapan, konflik kecil, kegagalan, dan keberhasilan sederhana yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.

    Namun generasi muda hari ini tumbuh dalam ruang yang jauh lebih kompleks. Mereka tidak hanya berinteraksi dengan manusia lain, tetapi juga dengan sistem digital yang terus-menerus mempelajari perilaku mereka. Ketika seorang remaja membuka TikTok, menjelajahi foto-foto di Instagram, atau tenggelam dalam video di YouTube, ia sebenarnya sedang berhadapan dengan sebuah mesin algoritmik yang bekerja tanpa henti membaca preferensi, emosi, dan perhatian manusia.

    Di sinilah para peneliti mulai menggunakan istilah yang cukup menggugah, yaiu algorithmic adolescence, yaitu ebuah konsep yang menjelaskan bahwa masa remaja generasi sekarang berlangsung di bawah pengaruh algoritma. Setiap klik, setiap jeda beberapa detik pada sebuah video, setiap tanda suka, semuanya menjadi data yang dipelajari oleh sistem. Dari situ algoritma menyusun pola minat seseorang dan kemudian menyajikan konten yang semakin sesuai dengan pola tersebut. Tanpa terasa, remaja tidak hanya memilih konten, tetapi juga secara perlahan dipilihkan konten oleh sistem yang ingin mempertahankan perhatian mereka selama mungkin.

    Saya sering membayangkan bagaimana proses ini bekerja dalam kehidupan sehari-hari seorang remaja. Hari ini ia menonton beberapa video tentang kebugaran tubuh. Besok algoritma menyajikan lebih banyak konten tentang standar tubuh ideal. Lusa ia mulai membandingkan dirinya dengan gambaran tubuh yang terus-menerus muncul di layar ponselnya. Dalam lingkaran kecil yang tak terlihat itu, identitas perlahan dibentuk bukan hanya oleh pengalaman nyata, tetapi juga oleh arus rekomendasi digital yang tidak pernah berhenti.

    Psikologi perkembangan sebenarnya memberi kita alasan kuat untuk berhati-hati terhadap situasi seperti ini. Jean Piaget menunjukkan bahwa kemampuan berpikir reflektif dan kritis manusia berkembang secara bertahap. Pada awal masa remaja, kemampuan itu belum sepenuhnya matang. Bahkan dari sudut pandang neurosains, bagian otak yang bertanggung jawab terhadap kontrol impuls dan pengambilan keputusan jangka panjang baru berkembang sepenuhnya pada usia yang jauh lebih dewasa. Artinya, para remaja sedang berada dalam fase ketika mereka belajar mengendalikan diri, tetapi pada saat yang sama mereka hidup di dalam sistem digital yang dirancang untuk terus memancing perhatian dan emosi mereka.

    Ketika saya mencoba melihat persoalan ini lebih luas, ternyata Indonesia bukan satu-satunya negara yang memikirkan hal serupa. Pemerinah Australia pernah mengusulkan pembatasan usia akses media sosial yang lebih ketat sebagai respons terhadap meningkatnya kecemasan dan depresi pada remaja. Di Pancis, pemerintahnya mengeluarkan regulasi yang mendorong pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia tertentu tanpa persetujuan orang tua. Sementara itu di Amerika Serikat, diskusi mengenai regulasi teknologi untuk melindungi kesehatan mental remaja juga semakin intensif, terutama setelah banyak penelitian menunjukkan korelasi antara penggunaan media sosial yang sangat intensif dengan meningkatnya gangguan psikologis pada remaja.

    Menariknya, banyak kebijakan tersebut tidak selalu berupa larangan total. Sebagian besar negara mencoba mencari jalan tengah, antara lain pembatasan usia, verifikasi orang tua, atau pengaturan desain platform agar tidak terlalu eksploitatif terhadap psikologi anak. Ini menunjukkan bahwa dunia internasional juga sedang mencari jawaban yang belum sepenuhnya jelas. Kita semua sedang belajar memahami fenomena baru ini.

    Di titik ini saya mulai melihat usulan pembatasan usia media sosial dengan cara yang sedikit berbeda. Ia bukan semata-mata persoalan teknis tentang boleh atau tidak boleh. Ia lebih menyerupai sebuah kegelisahan kolektif masyarakat yang mulai menyadari bahwa generasi muda kita sedang tumbuh dalam lingkungan yang sama sekali baru, yaitu lingkungan yang tidak hanya dipenuhi manusia, tetapi juga algoritma yang mengelola perhatian dan emosi.

    Namun saya juga merasa bahwa larangan semata tidak akan pernah cukup. Dunia digital terlalu luas untuk ditutup dengan regulasi sederhana. Anak-anak selalu menemukan jalan untuk menembus batas yang dibuat oleh orang dewasa. Justu jauh lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa media sosial bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah ekosistem ekonomi perhatian yang sangat canggih, yang dirancang untuk membuat manusia terus kembali ke layar.

    Karena itu, jika saya harus mengambil posisi, saya cenderung melihat gagasan pembatasan usia ini sebagai langkah yang dapat dipahami, bahkan mungkin perlu, tetapi tidak boleh berhenti di situ. Ia harus disertai pendidikan literasi digital yang serius, baik bagi anak-anak, orang tua, maupun masyarakat secara luas. Tanpa itu, larangan hanya akan menjadi pagar yang mudah dilompati.

    Ketika saya memikirkan generasi muda hari ini, saya sering merasa bahwa mereka sedang menjalani sebuah masa remaja yang berbeda dari semua generasi sebelumnya. Mereka adalah generasi pertama dalam sejarah manusia yang tumbuh di bawah bayang-bayang algoritma. Jika dulu keluarga, sekolah, dan komunitas menjadi aktor utama dalam pembentukan identitas, sekarang ada kekuatan baru yang diam-diam ikut membentuk cara mereka melihat dunia.

    Dan di situlah kegelisahan kita sebenarnya bermula. Kita mulai menyadari bahwa masa remaja yang seharusnya menjadi ruang bagi manusia muda untuk mengenal dirinya sendiri, kini juga menjadi ruang di mana algoritma ikut berbisik, ikut mengarahkan, bahkan mungkin ikut menentukan arah perjalanan identitas mereka. Dalam situasi seperti itu, keinginan untuk memberi jarak sejenak antara anak-anak dan dunia algoritmik mungkin bukanlah bentuk ketakutan terhadap teknologi, melainkan sebuah usaha sederhana untuk menjaga agar masa remaja tetap memiliki ruang bagi manusia untuk tumbuh sebagai dirinya sendiri.

    Riri Satria adalah seorang pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture