Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Perasaan yang Berpikir: Dialog Puisi, filsafat, dan Kejujuran Batin Sofyan RH Zaid

    02 Mar 2026 | Dilihat: 12 kali

    Oleh Riri Satria

    Selamat kepada Sofyan RH. Zaid atas buku puisi terbarunya bertajuk “Perasaan yang Berpikir”. Alhamdulillah, bukunya sudah saya terima. Ada rasa gembira sekaligus haru ketika membuka halaman demi halaman, karena sejak awal terasa bahwa ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan catatan batin yang serius, jujur, dan matang.

    Buku ini menarik karena hampir seluruh puisinya seolah sedang berdialog dengan para filsuf dan pemikir besar dunia. Bagi saya hal itu tidak mengherankan, mengingat Sofyan memiliki latar akademik S2 di bidang Filsafat. Di dalam buku ini, ia berdialog lewat puisi bersama Aristoteles, Voltaire, Jean-Paul Sartre, Søren Kierkegaard, Karl Marx, Martin Heidegger, Bertrand Russell, Albert Camus, Adam Smith, Tan Malaka, bahkan sahabatnya sendiri Subhi Ibrahim, dan banyak lagi yang lainnya.

    Sengaja saya hanya mengambil tiga puisi untuk dibahas di sini, karena ketiganya dipersembahkan kepada tiga tokoh yang secara personal juga saya kagumi, yaitu René Descartes, Martin Heidegger, dan Adam Smith. Tiga puisi ini, bagi saya, membentuk satu lengkung refleksi yang utuh tentang berpikir, percaya, dan merelakan.

    Membaca “Duka dalam Bentuk Wiski”, saya merasakan kelelahan eksistensial yang sangat manusiawi. Dialog Sofyan dengan Descartes tidak jatuh pada glorifikasi rasio, melainkan pada luka yang ditinggalkannya. Kesadaran digambarkan sebagai panggung kosong, tempat pikiran datang dan pergi, namun setelah pertunjukan usai, yang tersisa hanyalah seorang tua di tepi pantai, menunggu anaknya pulang dari badai. Citra itu begitu dekat dengan pengalaman batin siapa pun yang pernah percaya bahwa berpikir akan memberi jawaban, lalu mendapati dirinya tetap sendirian.

    Wiski di tangan tokoh itu terasa seperti pengakuan jujur, ada duka yang tak selesai oleh logika. Walaupun Descartes mengatakan “dubito, ergo cogito, ergo sum”. René Descartes (1596–1650) adalah seorang filsuf, matematikawan, dan ilmuwan asal Prancis dengan  pemikiran utama beliau dubito, ergo cogito, ergo sum” bermakna “aku berpikir, maka aku ada”. Prinsip ini lahir dari “etode keraguan”  atau “method of doubt”, di mana ia meragukan segala sesuatu hingga menemukan satu hal yang tidak bisa diragukan, fakta bahwa ia sedang berpikir.

    Puisi “Menari Sebelum Mencari” menghadirkan nada yang berbeda. Di sini Sofyan tidak lagi letih, melainkan pasrah dengan kesadaran yang lebih dalam. Dialog dengan Heidegger terasa sangat selaras dengan latar pesantrennya, di mana kebenaran tidak ditemukan, tetapi menyingkapkan diri. Akal harus lelah, agar cahaya menyentuh hati. Ada pengalaman religius di puisi ini, seolah Sofyan sedang berkata bahwa pencarian intelektual akhirnya berujung pada kepasrahan spiritual.

    Sebagai pembaca, saya merasa diajak berhenti sejenak, menurunkan ego berpikir, dan membiarkan makna datang dengan caranya sendiri. Martin Heidegger (1889–1976) adalah salah satu filsuf Jerman paling berpengaruh di abad ke-20, yang dikenal karena kontribusinya pada aliran fenomenologi, eksistensialisme, dan hermeneutika.

    Sementara itu, “Lampu Arah” adalah puisi yang paling diam-diam menusuk. Adam Smith, yang biasanya hadir sebagai simbol rasionalitas ekonomi dan kebebasan pasar, dihadirkan Sofyan dalam metafora rumah tangga: teplok di beranda ibu. Api dibiarkan mencari bentuknya sendiri, tetapi kebebasan itu berarti jarak. Ada kesedihan yang tidak diucapkan dengan keras, namun terasa sangat dalam, ketika aku-lirik menyadari bahwa arah cahaya bisa menjauhkannya sebagai ayah. Di sini, filsafat ekonomi berubah menjadi refleksi tentang cinta, tanggung jawab, dan keberanian untuk melepaskan.

    Adam Smith (1723–1790) adalah seorang filsuf moral dan pelopor ekonomi politik asal Skotlandia yang diakui secara luas sebagai “Bapak Ilmu Ekonomi Modern”. Konsep “tangan tak terlihat” atau “invisible hands” menjelaskan bagaimana individu yang mengejar kepentingan pribadi secara tidak sengaja justru mendorong kesejahteraan ekonomi masyarakat secara keseluruhan melalui mekanisme pasar. Sementara itu dalam konsep pasar bebas dan laissez-faire, a menentang intervensi pemerintah yang berlebihan dalam ekonomi dan mendukung kompetisi terbuka serta perdagangan bebas.

    Ketiga puisi ini, jika dibaca bersama, terasa seperti perjalanan batin Sofyan sendiri seorang santri yang memasuki dunia filsafat modern, seorang akademisi yang tidak sepenuhnya puas dengan konsep, dan seorang manusia yang tetap membawa luka, iman, serta kasih dalam pikirannya. Dari Descartes, ia belajar tentang dinginnya rasio. Dari Heidegger, ia menemukan penyingkapan yang hening. Dari Adam Smith, ia merasakan pahit-manisnya membiarkan kehidupan berjalan tanpa kendali penuh.

    Sebagai pembaca, saya tidak merasa sedang membaca puisi-puisi yang ingin mengajari. Saya justru merasa sedang diajak duduk bersama seorang sahabat intelektual yang jujur mengakui kebingungannya, imannya, dan cintanya. Perasaan yang Berpikir bukan hanya judul buku, ia adalah pengakuan bahwa berpikir pun punya emosi, dan bahwa iman, rasio, serta kehidupan sehari-hari bisa bertemu di ruang puisi yang sunyi namun hangat.

    Riri Satria adalah seorang pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang pencinta puisi, aktivis sastra dan kebudayaan.

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture