Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • NEXUS DAN REFLEKSI TENTANG DAMPAK KECERDASAN BUATAN TERHADAP PERADABAN

    17 Feb 2026 | Dilihat: 11 kali

    Catatan Buku "Nexus" karya Yuval Noah Harari

    oleh: Riri Satria

    Dalam buku terbarunya "Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI" (2024), ilmuwan Yuval Noah Harari mengajak kita menengok ulang satu benang merah yang kerap luput dari perhatian kita bahwa sejarah manusia, pada dasarnya, adalah sejarah tentang bagaimana informasi mengalir, dipercaya, dan membentuk kehidupan bersama.

    Bukan senjata, bukan teknologi semata, melainkan jaringan informasi atau nexus, yang membuat manusia bisa hidup dalam kelompok besar, membangun peradaban, sekaligus saling menghancurkan.

    Menurut saya ini adalah buku Yuval Noah Harari yang terbaik dari semua karyanya yang sudah saya baca. Penilaian ini tentu tidak sepenuhnya objektif. Bisa jadi saya bersikap subyektif, karena di buku inilah Harari membahas kecerdasan buatan dari sudut pandang yang terasa berbeda, lebih filosofis, lebih gelap, dan jauh lebih menggugah rasa ingin tahu saya.

    Nexus tidak sekadar menjelaskan AI sebagai teknologi, tetapi sebagai entitas baru dalam jaringan informasi yang berpotensi menggeser posisi manusia itu sendiri.

    Harari memulai dari hal yang tampak sederhana yaitu cerita. Mitos, legenda, dan keyakinan bersama memungkinkan orang-orang yang tidak saling mengenal untuk bekerja sama. Negara, agama, hukum, bahkan uang, berdiri di atas fondasi cerita yang diyakini bersama.

    Sejak zaman batu, manusia telah hidup di dalam jaringan informasi, dari cerita lisan di sekitar api unggun hingga simbol-simbol yang dipahat di batu. Setiap lompatan sejarah terjadi ketika cara kita menyimpan dan menyebarkan informasi berubah.

    Namun "Nexus" bukan nostalgia romantik tentang masa lalu. Justru sebaliknya, buku ini terasa seperti cermin yang memaksa kita menatap wajah kita hari ini di mana manusia yang hidup di tengah banjir data, notifikasi, algoritma, dan kecerdasan buatan.

    Harari berulang kali menekankan bahwa informasi tidak identik dengan kebenaran. Sepanjang sejarah, informasi sering kali lebih berkuasa ketika ia mampu meyakinkan, bukan ketika ia benar. Dan di era digital, kebohongan dapat bergerak jauh lebih cepat, lebih presisi, dan lebih persuasif dibandingkan kebenaran. Jadi menurutnya, bukan hanya di era post-truth society ini seata, melainkan sejak dulu, hanya saja tidak masif serta tidak sistemik seperti sekarang.

    Ketertarikan saya pada buku ini semakin kuat ketika menyimak uraian Harari dalam diskusi mendalam di World Economic Forum di Davos. Walaupun saya tidak hadir langsung di forum tersebut, saya mengikuti pemaparannya melalui YouTube. Di sana Harari menyampaikan prediksi yang terasa nyaris distopik bahwa peradaban manusia kini berada di ambang pengambilalihan oleh kecerdasan buatan, bukan melalui pemberontakan mesin ala fiksi ilmiah seperti Terminator, melainkan lewat kendali halus atas informasi, keputusan, dan sistem kompleks yang menopang dunia modern.

    Salah satu peringatan Harari yang paling menggelisahkan adalah tentang munculnya apa yang ia sebut sebagai financial wizardry atau sihir finansial baru. Ia memprediksi bahwa AI akan mampu menciptakan instrumen keuangan yang begitu rumit dan berlapis, hingga tidak ada lagi manusia yang benar-benar memahaminya, termasuk para regulator.

    Dunia keuangan bisa berubah menjadi wilayah yang sepenuhnya digerakkan oleh mesin, dengan logika internal yang tak lagi transparan bagi akal manusia. Pada titik itu, kita bukan hanya kehilangan kendali, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk sekadar memahami apa yang sedang mengendalikan hidup kita.

    Masuknya AI, dalam kerangka Nexus, menandai fase baru dalam sejarah jaringan informasi. Jika sebelumnya informasi selalu dibuat, ditafsirkan, dan diputuskan oleh manusia, kini sebagian peran itu diserahkan kepada sistem non-manusia.

    Algoritma tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi menentukan apa yang relevan, apa yang penting, dan apa yang layak dipercaya. Realitas pun terfragmentasi. Setiap individu hidup dalam semesta informasinya sendiri, dengan versi kebenaran yang dipersonalisasi.

    Satu hal yang membuat Nexus terasa kuat adalah sikap Harari yang tidak tergoda untuk menawarkan solusi cepat. Nada buku ini reflektif, bahkan cemas. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah digerakkan oleh teknologi semata, melainkan oleh pilihan etis, politik, dan sosial manusia dalam menggunakannya. AI bukan takdir yang jatuh dari langit. Ia adalah cermin yang memantulkan nilai-nilai pembuatnya.

    Pada akhirnya, Nexus terasa seperti ajakan untuk berhenti sejenak di tengah hiruk-pikuk era digital. Buku ini mendorong kita bertanya, jaringan informasi seperti apa yang sedang kita bangun? Apakah ia memperluas kebijaksanaan dan empati, atau justru mempercepat delegasi keputusan-keputusan paling manusiawi kepada mesin yang tidak memiliki kesadaran, tanggung jawab, maupun belas kasih?

    Mungkin di situlah kekuatan terbesar buku ini. Nexus tidak memberi jawaban yang menenangkan, tetapi menawarkan kesadaran yang jujur, bahwa masa depan manusia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cerdas kecerdasan buatan yang kita ciptakan, melainkan oleh seberapa berani kita mempertahankan peran manusia, yaitu sebagai penafsir makna, penjaga kebenaran, dan penentu arah peradaban, di dalam jaringan informasi yang kian dikuasai oleh mesin.

    -- Riri Satria --

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture