Riri Satria
KATEGORI
  • Terkini
  • Dokumen
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DARI BARIS KODE KE SAMUDRA NILAI: MEMBACA BILL GATES DI PERSIMPANGAN TEKNOLOGI DIGITAL DAN EKOSISTEM MARITIM

    13 Feb 2026 | Dilihat: 20 kali

    oleh: Riri Satria

    Sebagai seseorang yang hidup di persimpangan ilmu komputer, teknologi digital, ekonomi digital, dan ekosistem maritim, saya terbiasa berpikir dalam sistem, model, dan arsitektur teknologi. Namun laut dengan arus, pasang, dan ketidakpastiannya selalu mengingatkan bahwa tidak semua hal bisa direduksi menjadi algoritma atau baris kode.

    Di titik inilah buku-buku Bill Gates terasa relevan secara personal, karena perjalanan intelektualnya mencerminkan pergulatan yang juga saya alami sejak saya muda (usia 25) sampai sekarang (usia 56)

    Dalam "The Road Ahead" (1995), saya melihat cermin masa awal saya mencintai computer science setelah lulus kuliah yaitu keyakinan nyaris utopis bahwa masa depan dapat diprogram. Dunia tampak sebagai problem teknis yang menunggu solusi algoritmik. Internet, komputasi, dan jaringan diposisikan sebagai pembebas. Sebagai teknolog muda kala itu, cara berpikir ini terasa sahih dan menggairahkan. Teknologi adalah harapan.

    Optimisme itu menjadi lebih sistematis dalam "Business @ the Speed of Thought" (1999). Data diperlakukan sebagai nadi organisasi, dan kecepatan sebagai kebajikan utama. Saya memahami sepenuhnya logika ini, terutama saat terlibat dalam transformasi digital, ekonomi platform, dan sistem informasi berskala besar. Namun pengalaman di sektor maritim bertahun setelah itu perlahan menanamkan kegelisahan di mana laut tidak bekerja pada logika real-time analytics. Nelayan tidak mengambil keputusan hanya dari dashboard. Ada pengetahuan lokal, ada musim, ada intuisi, hal-hal yang sering luput dari sistem digital.

    Perubahan sudut pandang Gates menjadi semakin terasa ketika membaca "How to Avoid a Climate Disaster" (2021). Di sini teknologi masih penting, tetapi tidak lagi ditempatkan sebagai pahlawan tunggal.

    Bagi saya yang mulai berkutat secara mendalam dengan isu pelabuhan, pesisir, dan ekonomi biru, buku ini menegaskan satu hal krusial bahwa digitalisasi tanpa kesadaran ekologis hanya mempercepat kerusakan. Efisiensi logistik tidak berarti apa-apa jika laut kehilangan daya dukungnya. Pertumbuhan ekonomi digital menjadi problematis ketika biaya lingkungannya ditanggung oleh komunitas pesisir.

    Refleksi itu diperdalam lewat "How to Prevent the Next Pandemic" (2022). Pandemi memperlihatkan paradoks besar dunia modern yaitu kapasitas komputasi dan sains kita melesat, tetapi koordinasi sosial dan keadilan akses tertinggal jauh. Dalam ekosistem maritim, saya menyaksikan langsung bagaimana pelabuhan, rantai pasok, dan nelayan kecil menjadi korban dari sistem global yang rapuh. Teknologi tersedia, tetapi tidak selalu hadir bagi mereka yang paling membutuhkan.

    Namun lapisan paling personal dari keseluruhan perjalanan pemikiran Gates justru hadir dalam buku terbarunya, "Source Code" (2025). Buku ini menggeser fokus dari sistem ke manusia, dari output ke asal-usul. Sebagai orang yang bekerja dengan kode setiap hari, saya menangkap metafora yang kuat bahwa source code bukan hanya baris instruksi, melainkan nilai, pengalaman, relasi, dan luka awal yang membentuk cara seseorang berpikir.

    Gates tidak sedang menjelaskan teknologi, melainkan menjelaskan dirinya seorang anak yang canggung secara sosial, obsesif pada logika, dan menemukan rumah dalam pemrograman.

    Di titik ini, refleksi saya menjadi lebih jujur. Dunia computer science sering memuja kecerdasan, kecepatan, dan solusi elegan, tetapi jarang membicarakan sisi manusia di baliknya. "Source Code" mengingatkan saya bahwa setiap sistem besar lahir dari manusia yang rapuh, penuh bias, dan dibentuk oleh konteks sosialnya. Dalam konteks maritim, ini penting karena teknologi pelabuhan, smart seaport, dan ekonomi digital maritim tidak netral. Ia membawa nilai dari para perancangnya, apakah berpihak pada keberlanjutan, atau semata pada efisiensi.

    Membaca seluruh karya Gates secara berurutan terasa seperti menyaksikan evolusi seorang teknolog menjadi manusia yang lebih utuh. Dan mungkin itulah perjalanan yang juga harus ditempuh oleh kita yang bekerja di ranah digital hari ini. Dari keyakinan bahwa semua persoalan bisa diselesaikan dengan kode, menuju kesadaran bahwa sebagian persoalan menuntut kebijaksanaan, empati, dan keberanian untuk membatasi diri.

    Bagi saya yang berdiri di antara layar dan samudra, refleksi ini bermuara pada satu pertanyaan mendasar, untuk siapa teknologi maritim dan ekonomi digital kita bangun? Jika source code teknologi kita hanya berisi logika pasar dan kecepatan, maka laut akan selalu kalah. Tetapi jika ia juga memuat nilai keberlanjutan, keadilan, dan penghormatan pada ritme alam, maka teknologi bisa menjadi mitra, bukan ancaman bagi kehidupan bahari.

    Seperti yang disiratkan Gates, masa depan tidak akan ditentukan oleh seberapa canggih sistem yang kita bangun, melainkan oleh source code nilai yang kita tanamkan sejak awal.

    --- Riri Satria --

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture