Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • SDGS, LAUT, TEKNOLOGI, DAN KITA: MERAWAT MASA DEPAN EKOSISTEM MARITIM INDONESIA

    12 Feb 2026 | Dilihat: 27 kali

    oleh: Riri Satria

    Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah undangan dari dua sahabat, Nofa Farida Lestari dan Wulan Suherii dari Musee ID museeid.com, untuk menghadiri dan terlibat dalam inisiatif United Nations Information Center yang bekerja sama dengan Musee ID menghadirkan SDGs Corner di Museum Bahari Jakarta.

    Buat saya undangan itu sederhana, tetapi maknanya terasa dalam. Ada pertemuan antara gagasan global dan denyut kehidupan sehari-hari masyarakat maritim Indonesia, yang sejak lama hidup dalam ingatan dan pengalaman saya.

    Buat saya, berada di Museum Bahari (serta Museum Maritim Indonesia tentunya) selalu memunculkan perasaan tertentu. Bangunan tua yang menyimpan sejarah pelayaran, aroma kayu, dan bayangan kapal-kapal niaga masa lalu seolah mengingatkan bahwa Indonesia bukan sekadar negara kepulauan di peta, melainkan sebuah peradaban maritim yang telah tumbuh dan bertahan selama berabad-abad.

    Di ruang itulah gagasan tentang Sustainable Development Goals atau SDGs terasa menemukan konteksnya. SDGs bukan lagi deretan target global yang abstrak, melainkan cerita tentang nelayan yang berangkat subuh, tentang laut yang memberi kehidupan sekaligus menuntut tanggung jawab, tentang pesisir yang rentan, dan tentang masa depan yang sedang kita pertaruhkan.

    Pembahasan mengenai SDGs dalam ekosistem masyarakat maritim membuka begitu banyak lapisan persoalan yang saling terkait. Kehidupan nelayan tidak bisa dilepaskan dari kesehatan ekosistem laut. Keanekaragaman hayati menentukan keberlanjutan tangkapan, pengelolaan sampah menentukan kualitas perairan, ketahanan pangan bergantung pada laut yang lestari, sementara perubahan iklim perlahan tapi pasti menggeser pola musim, arus, dan risiko keselamatan.

    Semua itu saling bertaut, membentuk sebuah sistem yang  menentukan identitas Indonesia di mata dunia.

    Di titik inilah saya merasa bahwa transformasi digital yang kini berlangsung begitu masif di seluruh dunia tidak boleh berjalan sendiri, apalagi sekadar mengejar efisiensi ekonomi. Transformasi digital harus berpihak dan mendukung pencapaian SDGs, khususnya dalam konteks ekosistem bahari dan maritim.

    Indonesia adalah negara maritim, laut bukan pinggiran, melainkan pusat kehidupan. Maka digitalisasi yang tidak sensitif terhadap laut, pesisir, dan masyarakatnya, justru berpotensi memperlebar jarak antara kemajuan teknologi dan keberlanjutan.

    Pemikiran ini menjadi semakin konkret ketika berbicara tentang dunia kepelabuhan. Pelabuhan bukan sekadar simpul logistik, tetapi titik temu antara manusia, teknologi, lingkungan, dan arus ekonomi global. Karena itu, konsep green and blue smart digital seaport menurut saya harus menjadi salah satu pilar utama transformasi digital di sektor ini.

    Ini bukan hanya soal otomatisasi atau kecepatan layanan, melainkan tentang bagaimana pelabuhan beroperasi dengan memperhatikan kesehatan, keselamatan, dan lingkungan, baik melalui pendekatan HSE atau health, safety, and environent,  maupun OSH atau occupational safety and health, sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

    Pengalaman pribadi saya memperkuat keyakinan ini. Pada tahun 2024 dan 2025, saya berkesempatan menjadi plenary speaker dalam Asia OSH Summit di Sanur, Bali. Dalam forum itu, saya berbagi konep, gagasan, serta pengalaman tentang bagaimana transformasi digital dapat diarahkan untuk mewujudkan pelabuhan yang cerdas sekaligus berkelanjutan.

    Saya berbicara tentang pemanfaatan Internet of Things untuk memantau emisi dan keselamatan kerja, kecerdasan buatan untuk prediksi risiko dan pengambilan keputusan, cloud computing untuk integrasi data lintas sistem, serta teknologi digital lainnya yang memungkinkan pelabuhan menjadi lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan. Bagi saya, teknologi bukan tujuan, melainkan alat untuk menjaga manusia dan alam tetap berada di pusat.

    Semua gagasan ini terasa semakin relevan ketika kita memasuki era Industry 5.0. Dengan pilar human-centric, sustainable, dan resilient, arah pembangunan industri global seolah kembali mengingatkan bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari kecanggihan mesin semata, melainkan dari kemampuannya menjaga keberlanjutan dan ketangguhan manusia serta lingkungan.

    Dalam konteks maritim Indonesia, ini berarti teknologi harus membantu nelayan hidup lebih aman, pelabuhan beroperasi lebih bersih, ekosistem laut tetap terjaga, dan masyarakat pesisir lebih tangguh menghadapi perubahan.

    SDGs Corner di Museum Bahari, bagi saya bukan sekadar sudut pameran atau ruang edukasi. Ia adalah simbol pertemuan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Antara sejarah maritim Indonesia, tantangan global hari ini, dan harapan akan laut yang tetap memberi kehidupan bagi generasi mendatang. Di sanalah saya kembali merasa bahwa pembangunan berkelanjutan bukanlah jargon, melainkan pilihan etis. Pilihan untuk merawat laut, manusia, dan teknologi dalam satu tarikan napas yang sama.

    Selamat untuk United Nations Information Center, Museum Bahari, serta museeid.com 👍🥰😎🌷⭐️ 🇮🇩

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture