Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh : Riri Satria
Saya selalu percaya bahwa museum, galeri, dan monumen bukan sekadar ruang penyimpanan benda-benda masa lalu. Ia adalah ruang ingatan kolektif, tempat identitas dibentuk, dan nilai-nilai kebudayaan diwariskan. Namun di hadapan derasnya arus transformasi digital, saya juga menyadari satu hal penting: ingatan tidak cukup hanya dijaga, ia harus terus dihidupkan.
Itulah kegelisahan sekaligus optimisme yang saya bawa ketika berbicara tentang transformasi digital bagi museum, galeri, dan monumen, yang biasa saya singkat sebagai Mugalemon. Dunia telah berubah. Organisasi termasuk institusi kebudayaan seperti Mugalemon tidak lagi bisa berdiri dengan logika lama. Transformasi digital bukan sekadar soal teknologi baru, melainkan tentang cara berpikir baru, cara bekerja baru, dan cara membangun relasi baru dengan masyarakat.
Dalam pengalaman saya mendampingi berbagai organisasi, transformasi digital selalu berangkat dari satu kesadaran perubahan harus menyentuh strategi, struktur, proses, sumber daya manusia, hingga budaya organisasi. Tanpa itu, digitalisasi hanya akan menjadi kosmetik, tampak modern di permukaan, rapuh di dalam.
Bagi Mugalemon khususnya, saya melihat transformasi digital sebagai sebuah perjalanan bertahap. Tahap paling awal adalah sekadar hadir di ruang digital. Banyak institusi sudah berada di fase ini: memiliki situs web, memajang informasi dasar, foto, atau video. Ini penting, tetapi belum cukup. Kehadiran digital tanpa interaksi masih bersifat satu arah, seperti pamflet elektronik.
Langkah berikutnya adalah bertukar informasi. Di sini, pengunjung tidak lagi diposisikan sebagai penonton pasif. Ada dialog, ada komentar, ada percakapan melalui media sosial, email, atau kanal komunikasi lain. Museum mulai mendengar, bukan hanya berbicara. Bagi saya, inilah titik awal perubahan relasi antara institusi dan publik, ini berarti dari monolog menjadi dialog.
Ketika interaksi itu dikelola dengan baik, Mugalemon dapat naik ke tahap membangun reputasi. Reputasi digital bukan sekadar popularitas, tetapi kepercayaan. Ia dibangun melalui konsistensi narasi, kualitas konten, dan kemauan untuk berkolaborasi dengan komunitas. Di tahap ini, museum dan galeri tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi simpul dalam jejaring budaya digital.
Transformasi kemudian menyentuh ranah yang lebih konkret melalui transaksi. Tiket daring, penjualan merchandise, donasi digital, hingga kerja sama dengan pelaku ekonomi kreatif menjadi bagian dari ekosistem. Bagi sebagian orang, ini terdengar terlalu “komersial”. Namun bagi saya, keberlanjutan institusi budaya justru menuntut model ekonomi yang sehat, transparan, dan bertanggung jawab.
Tahap yang sering memantik imajinasi publik adalah kunjungan virtual. Di sinilah immersive technology mulai memainkan peran penting. Teknologi seperti virtual reality dan augmented reality memungkinkan pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi mengalami cerita di baliknya. Artefak tidak lagi diam, ia berbicara, bergerak, dan menghadirkan konteks ruang serta waktu yang mungkin telah hilang.
Saya melihat immersive technology sebagai jembatan antara pengetahuan dan pengalaman. Dengan proyeksi imersif, ruang museum dapat berubah menjadi lanskap sejarah, medan peristiwa, atau dunia simbolik. Dengan AR, artefak fisik diperkaya lapisan makna digital tanpa kehilangan keasliannya. Dengan VR, pengunjung dapat “hadir” di masa lalu, menyaksikan peristiwa, atau memasuki ruang yang tak lagi bisa dijangkau secara fisik.
Lebih jauh lagi, konsep metaverse, digital twin, hingga pemanfaatan blockchain dan NFT membuka kemungkinan baru bagi Mugalemon untuk memperluas jangkauan ingatan kolektif. Museum tidak lagi sepenuhnya terikat oleh ruang geografis. Ia dapat hadir kapan saja, di mana saja, dan bagi siapa saja. Ingatan kolektif melampaui dinding bangunan dan batas negara.
Puncak dari perjalanan ini adalah apa yang saya sebut sebagai comprehensive learning ecosystem. Sebuah ekosistem pembelajaran lengkap, di mana kunjungan virtual, kolaborasi, transaksi, dan pendidikan digital menyatu. Museum tidak hanya menjadi tempat melihat, tetapi juga tempat belajar, berdiskusi, dan bertumbuh—melalui seminar, kursus, lokakarya, dan pembelajaran jarak jauh.
Semua ini berlangsung dalam konteks ekonomi digital, sebuah dunia yang digerakkan oleh data. Data pengunjung, perilaku pengguna, dan pola interaksi menjadi dasar pengambilan keputusan. Strategi organisasi pun berubah: lebih kuantitatif, lebih analitis, dan lebih lincah. Kita hidup dalam apa yang saya sebut sebagai new social contract—dunia algoritma yang menuntut kecerdasan, kehati-hatian, sekaligus keberanian dalam menjaga nilai.
Bagi saya, transformasi digital Mugalemon bukan tentang meninggalkan nilai-nilai lama, melainkan tentang menjaga makna dengan cara baru. Teknologi hanyalah alat. Yang utama tetaplah manusia, cerita, dan nilai kebudayaan yang ingin kita wariskan. Digitalisasi, pada akhirnya, adalah upaya menjembatani ingatan masa lalu dengan kemungkinan-kemungkinan masa depan.
Dan di sanalah saya berdiri: di antara tradisi dan inovasi, antara arsip dan algoritma, berusaha memastikan bahwa kebudayaan tidak hanya bertahan, tetapi terus relevan, hidup, bermakna, dan dialami oleh generasi yang terus berubah.
--- Riri Satria ----
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera