Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • CATATAN SEORANG PENULIS TENTANG KARYA, WAKTU, DAN KEBERANIAN UNTUK TERUS MENULIS

    08 Feb 2026 | Dilihat: 6 kali

    oleh: Riri Satria

    Saya sering berdiri cukup lama di depan rak buku di sebelah kiri itu. Bukan untuk menghitung berapa judul yang sudah terbit, melainkan untuk mengingat kembali siapa saya pada saat menulis masing-masing buku. Rak di sisi kiri itu adalah masa lalu yang membeku dalam bentuk kertas: gagasan, kegelisahan, keyakinan, dan juga keraguan yang pernah saya rasakan, lalu saya lepaskan.

    Buku-buku yang sudah terbit itu bukan sekadar produk intelektual. Ia adalah penanda fase hidup. Ada masa ketika saya begitu larut pada algoritma, kecerdasan buatan, dan transformasi digital, mencoba memahami bagaimana teknologi mengubah cara kita bekerja, berpikir, dan memaknai masa depan.

    Ada pula masa ketika saya merasa perlu berhenti sejenak, menoleh ke dalam, menulis esai-esai reflektif, perjalanan, bahkan puisi. Seolah saya ingin menyeimbangkan rasio dan rasa, logika dan sunyi.

    Ada kebahagiaan yang tenang, "Oh, ternyata saya sampai sejauh ini". Tapi juga ada rasa asing karena begitu buku terbit, ia bukan lagi sepenuhnya milik saya. Ia hidup di tangan pembaca, ditafsirkan dengan cara yang mungkin tak pernah saya bayangkan.

    Nah, di situlah saya belajar satu hal penting bahwa karya yang sudah terbit adalah masa lalu yang harus saya relakan.

    Lalu saya menoleh ke sisi kanan.

    Itu adalah buku-buku yang akan terbit tahun 2026 belum sepenuhnya “tenang”. Mereka masih bernafas bersama saya. Ada secangkir kopi yang sering dingin karena terlalu lama saya berpikir. Ada pena yang menjadi saksi kalimat-kalimat yang saya coret, saya ragu, lalu saya tulis ulang. Ada bunga penanda sebuah pengingat kecil bahwa menulis, sekeras apa pun temanya, tetap harus menyisakan keindahan.

    Buku-buku di meja itu membawa emosi yang berbeda. Bukan kepuasan, melainkan ketegangan yang lembut. Apakah buku ini akan sampai? Apakah ia jujur? Apakah ia relevan? Apakah saya menulisnya karena ingin berkata sesuatu yang penting, atau sekadar ingin terdengar penting? Pertanyaan-pertanyaan itu datang diam-diam, biasanya di malam hari.

    Menariknya, semakin banyak buku yang sudah terbit, rasa gentar itu tidak pernah benar-benar hilang. Justru sebaliknya. Setiap buku baru terasa seperti memulai dari nol, seperti kembali menjadi penulis yang belum punya apa-apa selain niat dan kegelisahan.

    Dan mungkin di situlah maknanya.

    Rak dan meja itu bukan tentang masa lalu dan masa depan semata. Ia adalah pengingat bahwa menulis adalah proses hidup yang berlapis. Ada karya yang sudah selesai dan harus kita lepaskan, dan ada karya yang masih kita peluk erat karena ia belum siap dilepaskan.

    Sebagai penulis, saya belajar berdamai dengan kenyataan bahwa identitas saya tidak ditentukan oleh buku terakhir yang terbit, melainkan oleh kesediaan untuk terus menulis dengan jujur. Entah itu tentang teknologi, bisnis, kemanusiaan, atau puisi, semuanya berangkat dari satu hal yang sama yaitu keinginan untuk memahami dunia, dan diri saya sendiri, sedikit lebih baik dari hari sebelumnya.

    Rak di kiri mengingatkan saya bahwa saya pernah sampai di sini. Meja di kanan mengingatkan saya bahwa perjalanan ini belum selesai.

    Dan selama masih ada kegelisahan yang layak ditulis, secangkir kopi di meja, dan keberanian untuk memulai lagi, saya tahu: saya masih seorang penulis.

    -- Riri Satria --

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture