Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MENULIS SEBAGAI SALAH SATU CARA MEMANUSIAKAN DIRI

    06 Feb 2026 | Dilihat: 13 kali

    oleh: Riri Satria

    Saya menulis bukan karena selalu tahu apa yang ingin saya katakan, melainkan karena ada sesuatu di dalam diri yang tidak pernah benar-benar tenang jika dibiarkan hanya berputar di kepala. Pikiran sering kali berisik, meloncat ke sana kemari, penuh pertanyaan. Menulis memaksa saya berhenti sejenak, duduk, lalu menyusun semuanya dengan lebih jujur.

    Dalam perjalanan menulis itu, saya banyak menulis esai dalam berbagai bentuk dan gaya. Kadang deskriptif, ketika saya ingin memotret suatu fenomena apa adanya. Kadang reflektif, saat saya perlu bercermin dan berdialog dengan pengalaman sendiri. Ada kalanya argumentatif, ketika saya merasa perlu mengambil posisi dan mempertahankannya secara rasional. Bahkan sesekali saya bermain hingga wilayah posmodern, membiarkan gagasan bertabrakan dan makna menjadi cair.

    Topiknya pun beragam, sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, hingga pendidikan dan penelitian. Semua itu adalah medan pikir yang akrab dengan keseharian saya.

    Mengapa esai? Karena bagi saya, esai adalah bentuk tulisan lentur. Ia memberi ruang untuk menyampaikan hal-hal yang serius, kompleks, bahkan rumit, tanpa harus terjebak dalam bahasa yang kaku dan eksklusif. Saya ingin menyajikan persoalan-persoalan besar dalam bahasa yang sederhana, yang bisa dipahami lebih banyak orang.

    Di saat yang sama, esai memungkinkan saya memasukkan pandangan pribadi, bukan sekadar memaparkan data atau teori, tetapi juga sikap, kegelisahan, dan keberpihakan intelektual saya terhadap isu yang sedang dibahas.

    Menulis dalam pengertian itu menjadi alat komunikasi yang melampaui waktu. Ia mengabadikan pengetahuan dan jejak pemikiran dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh lisan. Apa yang ditulis bisa dibaca kembali, diperdebatkan, dikritik, bahkan ditolak. Justru di sanalah nilainya. Tulisan menjaga gagasan tetap hidup, meski penulisnya mungkin sudah berubah, atau bahkan telah tiada.

    Pada saat yang sama, menulis juga menjernihkan pikiran saya sendiri. Dengan menulis, saya dipaksa menyusun ide secara logis, melihat celah dalam argumen, dan menyadari asumsi-asumsi yang selama ini saya terima begitu saja. Banyak persoalan terasa rumit di kepala, tetapi menjadi lebih bisa dipahami ketika dituangkan ke dalam paragraf-paragraf yang runtut. Menulis membantu saya fokus, sekaligus memahami batas pengetahuan saya sendiri.

    Ada pula sisi lain dari menulis yang jauh lebih personal. Pada momen-momen tertentu, menulis menjadi semacam terapi. Dengan menuliskan emosi, terutama yang berat, sedih, atau mengganggu, saya belajar memberi jarak pada pengalaman, tanpa menafikannya. Menamai perasaan ternyata punya daya menyembuhkan. Beban memang tidak langsung hilang, tetapi menjadi lebih bisa ditanggung.

    Namun hidup saya tidak hanya diisi oleh esai dan dunia rasional. Saya juga banyak menulis puisi. Puisi adalah cara saya menyeimbangkan diri dengan sisi kehidupan lain yang begitu padat dengan teknologi, ekonomi, dan penelitian, dunia yang dipenuhi rasionalitas terukur, angka-angka, rumus-rumus, analisis, dan prediksi. Jika esai adalah upaya memahami dunia secara logis, puisi adalah ruang untuk merasakannya.

    Melalui puisi, saya diajak menyadari fakta-fakta yang tak kasat mata, mendengar suara-suara yang sering luput dari perhatian. Puisi membuka ruang dialog batin dengan diri sendiri, tanpa tuntutan harus selalu masuk akal. Di sana, imajinasi saya dibiarkan berkelana ke mana saja, melampaui grafik, model, dan kerangka teoritik. Dengan cara yang mungkin tidak presisi, tetapi jujur, puisi membantu saya mencoba memahami Semesta dan posisi saya di dalamnya dengan lebih utuh.

    Pada akhirnya, menulis bagi saya adalah cara memanusiakan diri. Ia adalah sarana komunikasi, pengembangan diri, terapi mental, sekaligus bentuk kontribusi kecil terhadap peradaban. Baik melalui esai maupun puisi, saya menulis untuk memahami, bukan sekadar menjelaskan; untuk berbagi, bukan menggurui. Selama saya masih ingin berpikir, merasa, dan mencari makna, selama itu pula saya akan terus menulis.

    --- Riri Satria ----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture