Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KETIKA AI MENJADI WAJAH BARU DUNIA POSTMODERN

    29 Jan 2026 | Dilihat: 30 kali

    oleh: Riri Satria

    Saya tumbuh dan dibentuk oleh dunia yang sangat rasional. Dunia computer science, logika biner, struktur data, arsitektur sistem, efisiensi algoritma, dan sejenisnya. Dalam bidang disiplin ini, segala sesuatu punya sebab, model, dan rumus. Sistem harus konsisten. Kode harus presisi. Error sekecil apa pun bisa meruntuhkan keseluruhan bangunan. Di ruang-ruang server, laboratorium, dan proyek transformasi digital yang saya jalani bertahun-tahun, saya terbiasa berpikir bahwa dunia, setidaknya dunia teknologi bisa dipetakan, diukur, dan dikendalikan.

    Namun semakin saya mendalami perkembangan kecerdasan buatan, terutama generative AI, saya merasa seperti kembali menjadi "mahasiswa", namun pada jurusan filsafat, berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak lagi bisa dijawab oleh matematika saja. Di titik inilah pengalaman profesional saya di teknologi bertemu dengan ketertarikan intelektual saya pada postmodernisme, dan pertemuan itu terasa bukan kebetulan, melainkan keniscayaan zaman.

    Jean-François Lyotard menyebut kondisi postmodern sebagai ketidakpercayaan terhadap grand narrative atau narasi besar tentang kebenaran tunggal dan kemajuan linear. Anehnya, AI yang saya gunakan sehari-hari justru beroperasi tanpa narasi kebenaran seperti itu. Model bahasa besar, namun algoritma rekomendasi tidak bekerja dengan “kepastian”. Mereka bekerja dengan probabilitas. Output bukanlah kebenaran, melainkan prediksi paling mungkin berdasarkan pola data. Sebagai orang yang lumayan paham persamaan matematis di baliknya, ini tentu tentu hal yang biasa saja. Tetapi sebagai orang yang meminati isu-isu kebudayaan, saya melihat sesuatu yang lebih dalam di mana mesin-mesin ini adalah manifestasi teknologis dari dunia yang telah meninggalkan keyakinan pada satu kebenaran tunggal.

    Pengalaman saya di proyek-proyek transformasi digital sering memperlihatkan hal yang sama. Data dari sistem tidak pernah netral. Ia hasil konstruksi, dipilih, dibersihkan, diformat, diberi konteks. AI kemudian belajar dari konstruksi itu dan menghasilkan konstruksi baru. Realitas digital ternyata bukan cerminan dunia, melainkan lapisan interpretasi di atasnya. Ini mengingatkan saya pada pemikiran Michel Foucault tentang relasi pengetahuan dan kekuasaan, bahwa apa yang kita anggap “pengetahuan objektif” selalu berada dalam lingkaran wacana atau paradigma tertentu. Dalam sistem AI, semua itu berwujud dataset, parameter, dan desain model.

    Ketika saya pertama kali melihat kemampuan generativ AI  membuat gambar, teks, atau suara yang begitu meyakinkan, saya langsung teringat Jean Baudrillard dan gagasan simulacra serta hyperreality. Dalam proyek teknologi, kami biasa membuat digital twin, simulasi sistem, model prediktif. Tapi AI generatif melangkah lebih jauh: ia menciptakan representasi tanpa referensi asli. Wajah yang tak pernah lahir. Pidato yang tak pernah diucapkan. Saya yang terbiasa membedakan antara data nyata dan data uji, tiba-tiba merasa batas itu menipis. Dunia profesional saya yang dulu sangat berbasis fakta kini dipenuhi oleh entitas sintetis yang sama meyakinkannya. Ya, itu semua deepfake!

    Di sisi lain, AI juga mengguncang konsep kepenulisan dan kreativitas. Dalam pengembangan perangkat lunak, kami sering bicara soal ownership, intellectual property, dan hak cipta. Tetapi ketika model AI menghasilkan puisi, desain, atau kode, pertanyaan kepemilikan menjadi kabur. R

    oland Barthes berbicara tentang “kematian pengarang”; dan AI seolah mewujudkannya dalam skala industri. Sebagai orang yang menghargai proses kreatif manusia sekaligus memahami cara kerja model, saya merasakan ambiguitas, di satu sisi kagum pada kemampuan sistem, tapi juga bertanya-tanya tentang posisi manusia di tengahnya.

    Satu hal yang paling personal bagi saya adalah soal identitas. Dunia transformasi digital mengajarkan bahwa organisasi dan individu kini hadir dalam bentuk data, profil, jejak digital. Postmodernisme mengatakan identitas itu cair, terbentuk oleh bahasa dan representasi. AI mempercepat proses itu. Kita bisa memiliki avatar, asisten virtual dengan suara kita, bahkan model yang meniru gaya menulis kita. Saya yang terbiasa melihat manusia sebagai user, kini melihat manusia sebagai dataset sekaligus narasi yang terus diperbarui. Rasanya aneh, tapi juga tak terelakkan.

    Meski begitu, saya tidak melihat AI sebagai ancaman. Justru saya melihatnya sebagai cermin besar peradaban. AI belajar dari kumpulan teks, gambar, dan suara manusia, maka ia adalah kolase kebudayaan kita. Bias kita, imajinasi kita, ketakutan kita, keindahan kita, semua terenkode di dalamnya. Sebagai praktisi teknologi, saya tahu keterbatasan sistem ini. Sebagai peminat postmodernisme, saya melihat simbol zamannya yaitu dunia yang tidak lagi stabil, tetapi kaya kemungkinan.

    Di persimpangan antara algoritma dan filsafat ini, saya merasa posisi saya unik sekaligus rentan. Saya membangun sistem yang ikut membentuk cara manusia memahami realitas, sementara saya sendiri terus mencoba memahami realitas yang berubah karena sistem-sistem itu. Jika modernitas memberi saya keyakinan pada logika dan struktur, era AI mengajarkan saya kerendahan hati di hadapan kompleksitas makna.

    Mungkin inilah peradaban yang sedang lahir yaitu peradaban di mana teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan medan produksi realitas dan makna. Dan saya, seorang manusia dari ranah dunia computer science yang terseret ke perairan postmodernisme, hanya bisa terus belajar berenang di antara kode, data, dan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang semakin dalam.

    --- Riri Satria -----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture