Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
"Surround yourself with good people, those with positivity, people who are going to challenge you to make you better; people and things that inspire you to learn everything you can, and people who love you and want the best for you"
Ada fase dalam hidup ketika kita sibuk mengejar banyak hal seperti target, pengakuan, kestabilan, pencapaian, sehingga kita sampai lupa bahwa yang paling diam-diam menentukan arah hidup kita bukan hanya keputusan besar, melainkan siapa yang duduk di sekitar kita setiap hari. Siapa yang kita dengar suaranya paling sering. Siapa yang komentarnya paling kita pikirkan sebelum tidur. Siapa yang energinya tanpa sadar kita serap.
Saya pernah berada di titik ketika hidup terasa penuh, tetapi anehnya kosong. Aktivitas banyak, pertemuan ramai, obrolan tak putus, tetapi setelahnya yang tertinggal justru lelah yang tak jelas sebabnya. Rasanya seperti baterai yang terus dipakai tanpa pernah benar-benar diisi.
Baru belakangan saya sadar, bukan pekerjaan saya yang paling menguras, melainkan lingkungan yang pelan-pelan menormalisasi sinisme, keluhan, dan kebiasaan meremehkan mimpi orang lain. Di situ saya belajar satu hal yang sederhana namun menggetarkan: manusia itu makhluk yang mudah tertular, bukan hanya penyakit, tapi cara berpikir, cara merasa, bahkan cara memandang diri sendiri.
Sejak itu saya mulai lebih sadar memilih lingkaran. Bukan dalam arti eksklusif atau merasa lebih baik dari orang lain, tetapi lebih ke arah menjaga kewarasan hati. Ada perbedaan besar antara orang yang sekadar hadir di hidup kita dan orang yang benar-benar membawa cahaya kecil setiap kali kita berbicara dengannya.
Orang-orang yang positif bukan berarti mereka tidak pernah lelah atau sedih, melainkan mereka tidak menjadikan kegelapan sebagai identitas. Mereka tetap bisa tertawa di sela tekanan, tetap bisa melihat kemungkinan di tengah ketidakpastian. Berada dekat dengan mereka rasanya seperti membuka jendela di ruangan pengap.
Ternyata orang-orang terbaik dalam hidup kita sering kali bukan yang selalu mengiyakan kita. Justru mereka yang berani berkata, “Kamu bisa lebih dari ini,” saat kita hampir menyerah pada versi diri yang paling nyaman. Dulu saya mengira dukungan itu selalu berbentuk pujian, ternyata sering kali ia datang dalam bentuk dorongan yang agak tidak enak didengar.
Tapi dari situlah pertumbuhan terjadi. Ada rasa kesal sesaat, lalu muncul kesadaran bahwa ada orang yang cukup peduli untuk tidak membiarkan kita jalan di tempat.
Saya juga menyadari betapa berharganya berada di sekitar orang-orang yang membuat kita ingin belajar tanpa merasa dipaksa. Hanya dengan melihat cara mereka membaca situasi, memperlakukan orang lain, atau mengejar impian, kita ikut tergerak memperluas diri.
Inspirasi yang paling kuat sering tidak datang dari pidato besar, melainkan dari contoh hidup sehari-hari yang konsisten. Dari mereka, kita belajar bahwa berkembang bukan perlombaan, melainkan proses sunyi yang dijalani terus-menerus.
Namun yang paling menyentuh hati tetaplah orang-orang yang mencintai kita dengan tulus, yang ingin kita baik-baik saja bahkan ketika itu tidak menguntungkan mereka. Di dunia yang sering mengukur nilai manusia dari kegunaan, kehadiran orang seperti ini terasa seperti rumah.
Mereka tidak selalu punya solusi, tapi kehadiran mereka saja sudah membuat beban terasa lebih ringan. Mereka merayakan keberhasilan kita tanpa iri, dan berdiri di samping kita saat kita jatuh tanpa menghakimi. Cinta seperti ini memberi kita keberanian untuk menjadi diri sendiri tanpa topeng.
Semakin ke sini saya percaya, kualitas hidup kita sangat dipengaruhi oleh kualitas percakapan yang kita miliki setiap hari. Kalimat-kalimat yang kita dengar berulang akan menjadi suara di kepala kita. Jika yang sering kita dengar adalah harapan, dorongan, dan cara pandang yang luas, kita pelan-pelan tumbuh ke arah itu. Jika yang mendominasi adalah ketakutan, cibiran, dan pesimisme, kita pun menyusut tanpa sadar.
Memilih orang-orang di sekitar kita ternyata bukan soal sosial semata, melainkan soal masa depan batin. Ini bukan berarti kita harus meninggalkan semua yang berbeda, tetapi kita perlu sadar bahwa jiwa juga butuh lingkungan yang sehat, sama seperti tubuh butuh udara bersih.
Dan mungkin, salah satu bentuk mencintai diri sendiri yang paling dewasa adalah berani mendekat pada yang menumbuhkan, dan perlahan menjauh dari yang terus-menerus memadamkan.
Ada dulu mereka yang sempat berada dalam lingkaran saya. namun belakangan memilih untuk menjauh dan menemukan lingkaran yang lain, yang mungkin lebih pas, lebih baik, ya tidak apa-apa. Bukanlah semua itu terjadi secara alami dalam pergaulan sosial?
Pada akhirnya, hidup terasa lebih hangat bukan karena kita dikelilingi banyak orang, tetapi karena kita dikelilingi orang yang tepat. Orang-orang yang membuat kita pulang ke diri sendiri dengan versi yang sedikit lebih baik dari kemarin.
--- Riri Satria ----
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera