Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • OVERTHINKING: KETIKA PIKIRAN MENYAMAR SEBAGAI KEBENARAN

    22 Jan 2026 | Dilihat: 65 kali

    Overthinking adalah istilah yang belakangan sering sekali dibicarakan. Ia hadir dalam seminar pengembangan diri, konten media sosial, hingga obrolan santai di warung kopi. Hampir semua sepakat bawa overthinking itu melelahkan. Namun, semakin sering istilah ini digunakan, saya justru merasa perlu menata ulang pemahaman saya sendiri tentang apa sebenarnya overthinking itu.

    Bagi saya, overthinking bukan sekadar “kebanyakan mikir”. Ia adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dianggap sebagai kebenaran, padahal kesimpulan itu dibangun di atas lapisan-lapisan asumsi dan praduga. Lebih rumit lagi, asumsi dan praduga tersebut sering kali tidak berdiri di atas fakta yang kokoh, melainkan di atas asumsi dan praduga lainnya. Sebuah bangunan pikiran yang tampak rapi, logis, dan meyakinkan, tetapi fondasinya rapuh, hanya berupa bangunan bertingkat yang isinya asumsi dan praduga.

    Nah, yang menarikya asumsi dan praduga ini tidak hanya berkaitan dengan fakta apa yang terjadi, apa yang dikatakan, apa yang terlihat, melainkan juga tentang relasi atau hubungan sebab-akibat, niat orang lain, makna tersembunyi di balik sebuah sikap, atau kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu pernah ada. Kita menghubungkan titik-titik yang sebenarnya belum tentu saling terhubung, lalu menyebutnya sebagai “kenyataan”.

    Di titik ini, saya sering bertanya pada diri sendiri, bukankah ini mirip dengan apa yang dalam psikologi disebut sebagai cognitive biases? Bisa jadi. Overthinking tampaknya memiliki kedekatan yang kuat dengan bias kognitif, terutama kecenderungan membangun “realitas” berdasarkan persepsi pribadi, bukan fakta objektif. Kita tidak sedang membaca dunia apa adanya, melainkan membaca dunia sebagaimana pikiran kita ingin melihatnya.

    Ada kecenderungan kuat untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang mendukung keyakinan yang sudah terlanjur kita pegang. Informasi yang bertentangan sering kali diabaikan, dianggap remeh, atau bahkan ditolak mentah-mentah. Pikiran kita bekerja seperti editor yang tidak netral yaitu memilih mana yang layak tayang dan mana yang harus disensor demi menjaga konsistensi cerita yang sudah terlanjur kita percayai.

    Dalam banyak kasus, overthinking juga berkelindan dengan overconfidence bias. Kita merasa analisis kita paling masuk akal, paling jernih, paling “dewasa”. Kita yakin telah mempertimbangkan segala kemungkinan, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita sedang berputar-putar di lorong pikiran sendiri. Rasa yakin ini memberi ilusi kompetensi, seolah-olah karena kita berpikir lama dan dalam, maka kesimpulan kita pasti benar. Padahal, berpikir lama tidak selalu berarti berpikir jernih.

    Lalu yang membuat overthinking semakin berbahaya adalah dampaknya pada perilaku. Ketika seseorang sudah membangun "realitas" versinya sendiri, maka sikap dan tindakannya akan mengikuti realitas tersebut.

    Ia bisa merasa tersinggung tanpa ada yang benar-benar bermaksud menyakiti, merasa ditolak tanpa pernah benar-benar ditolak, atau merasa gagal bahkan sebelum benar-benar mencoba.

    Dunia menjadi tempat yang melelahkan, bukan karena dunia itu sendiri, tetapi karena cara pikiran kita memaknainya.

    Mungkin jalan keluar dari overthinking bukanlah berhenti berpikir, melainkan belajar merendahkan keyakinan kita sendiri. Memberi ruang pada kemungkinan bahwa apa yang kita anggap “jelas” ternyata belum tentu benar. Bahwa apa yang terasa sangat logis di kepala, belum tentu punya pijakan kuat di dunia nyata.

    Pada akhirnya, overthinking mengajarkan satu hal yang penting: pikiran manusia sangat kreatif dalam menciptakan cerita. Tantangannya bukan menghentikan cerita itu, melainkan belajar bertanya dengan jujur, apakah ini fakta, atau hanya asumsi yang sedang menyamar sebagai kebenaran.

    Salam - Riri Satria ...

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture