Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • AGENTIC AI: KETIKA MESIN SUDAH PUNYA INISIATIF DAN TAK LAGI HANYA MENUNGGU PERINTAH

    20 Jan 2026 | Dilihat: 66 kali

    oleh: Riri Satria

    Saya pertama kali menyadari ada yang berubah ketika kecerdasan buatan tidak lagi sekadar “menjawab”. Ia mulai melakukan. Bukan karena ia membangkang, tetapi karena ia memahami tujuan. Dari titik itu, istilah Agentic AI terasa bukan sekadar konsep teknis, melainkan penanda zaman di mana terjadi sebuah pergeseran cara kita bekerja, berpikir, dan menata ulang rasa aman kita sebagai manusia.

    Agentic AI adalah AI yang bertindak sebagai agen, yaitu menetapkan tujuan, menyusun rencana, mengeksekusi langkah, lalu mengevaluasi hasilnya sendiri. Ia tidak lagi menunggu perintah rinci. Cukup diberi arah, ia bergerak. Kekaguman pun muncul, tetapi bersamaan dengan itu, kekhawatiran mulai menyelinap di banyak sektor.

    Di sejumlah negara, adopsi Agentic AI dikaitkan dengan efisiensi ekstrem, dan efisiensi sering kali diterjemahkan secara sederhana sebagai pengurangan tenaga kerja. Kekhawatiran itu nyata dan beralasan. Ketika mesin mampu mengerjakan tugas kompleks dengan cepat dan konsisten, manusia mulai bertanya apakah saya masih dibutuhkan? Pertanyaan itu bukan soal teknologi semata, melainkan soal martabat dan makna bekerja.

    Namun saya tidak sepenuhnya setuju jika Agentic AI dianggap akan menggantikan semua profesi. Ada wilayah kerja yang tidak hanya berurusan dengan logika dan data, tetapi juga dengan emosi, intuisi, dan relasi personal. Pendekatan yang sangat personal yang melibatkan empati, kepekaan situasional, dan pengalaman hidup, belum sepenuhnya dapat diakses oleh sistem AI. Mesin bisa meniru pola emosi, tetapi ia tidak mengalami emosi. Dan sering kali, dalam kehidupan nyata, keputusan dan kepercayaan lahir justru dari pengalaman emosional itu.

    Dalam pengambilan keputusan, Agentic AI memang sangat membantu. Ia mampu mengonsolidasikan data dalam jumlah besar, menyajikan analisis yang rapi, bahkan memberikan rekomendasi awal yang masuk akal. Dalam dunia yang semakin kompleks, bantuan semacam ini terasa seperti napas panjang.

    Tetapi tetap ada garis yang, bagi saya, tidak boleh dilewati. yaitu keputusan akhir harus berada di tangan manusia. Karena keputusan bukan hanya soal benar atau salah secara statistik, melainkan juga soal nilai, risiko moral, dan tanggung jawab.

    Sejarah memberi kita cermin yang jujur. Ketika komputer dan otomatisasi pertama kali diperkenalkan, ketakutan serupa juga muncul. Banyak yang membayangkan mesin akan mengambil alih peran manusia sepenuhnya. Nyatanya, yang terjadi bukan penghapusan manusia, melainkan evolusi keterampilan. Pekerjaan berubah, cara kerja bergeser, dan manusia dipaksa belajar ulang, walau sering kali dengan cemas, tetapi juga dengan kemungkinan baru.

    Saya melihat Agentic AI berada dalam jalur sejarah yang sama. Otomatisasi dan tingkat kecerdasan buatan akan terus meningkat, itu tak terelakkan. Tetapi pada saat yang sama, kecerdasan manusia juga akan terdorong untuk naik kelas. Bukan sekadar menjadi operator, melainkan penentu arah. AI tidak bisa menggantikan manusia sepenuhnya, dan manusia juga tidak benar-benar ingin digantikan.

    Kehidupan masih menyukai adanya sentuhan manusia. Dalam percakapan, dalam kepemimpinan, dalam keputusan sulit, dalam seni, dan bahkan dalam kesalahan. Agentic AI mungkin akan menjadi mitra kerja yang sangat canggih, tetapi ia tetap berjalan di atas tujuan yang kita tetapkan. Di situlah refleksi itu kembali pada kita, bukan seberapa pintar mesin yang kita ciptakan, melainkan seberapa bijak kita menentukan peran kita sendiri di tengah dunia yang semakin otonom.

    --- Riri Satria --

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture