Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MENGENANG PROF. ABDUL HADI WM: SOSOK AKADEMISI, FILSUF, SASTRAWAN, BUDAYAWAN

    20 Jan 2026 | Dilihat: 58 kali

    Terima kasih Universitas Paramadina atas undangannya unntuk ikut serta baca puisi karya Prof. Abdul Hadi WM, Guru Besar Universitas Paramadina serta penyair, budayawan, dan tokoh filsafat Islam di Indonesia. Acara diselenggarakan secara daring dalam rangka mengenang 2 tahun wafatnya Prof. Abdul Hadi WM serta Dies Natalis Universitas Paramadina ke-28.

    Saya kebagian membacakan puisi Prof. Abdul Hadi WM  berikut ini:

    KEMBALI TAK ADA SAHUTAN DI SANA

    Kembali tak ada sahutan di sana

    Ruang itu bisu sejak lama

    dan kami gedor terus pintu-pintunya

    Hingga runtuh dan berderak

    menimpa tahun-tahun

    penuh kebohongan dan teror

    yang tak henti-hentinya

    Hingga kami tak bisa tinggal lagi di sana

    memerah keputusasaan dan cuaca

    Demikian kami tinggalkan janji-janji gemerlap itu

    dan mulai bercerai-berai

    Lari dari kehancuran yang satu k

    e kehancuran lainnya

    Bertikai memperebutkan y

    ang tak pernah pasti dan ada

    Dari generasi ke generasi

    Menenggelamkan rumah sendiri r

    ibut tak henti-henti

    Hingga kautanyakan lagi padaku

    Penduduk negeri damai macam apa kami ini

    raja-raja datang dan pergi

    seperti sambaran kilat dan api

    Dan kami bangun kota kami dari beribu mati.

    Tinggi gedung-gedungnya

    di atas jurang dan tumpukan belulang

    Dan yang takut mendirikan menara sendiri

    membusuk bersama sepi

    Demikian kami tinggalkan janji-janji gemerlap itu

    dan matahari 'kan lama terbit lagi

    ---------

    Nama Prof. Abdul Hadi W.M. bagi saya bukan sekadar tokoh besar dalam sejarah sastra Indonesia, melainkan sosok yang menghadirkan ketenangan. Ia saya kenal pertama-tama lewat puisi dan esainya yang tidak gaduh, tetapi mengajak berhenti sejenak. Membacanya seperti memasuki ruang hening, tempat sastra tidak berlomba dengan zaman, melainkan berdialog dengan batin.

    Perjumpaan personal dengan beliau pertama kali terjadi pada 19 Oktober 2019, di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki. Siang itu saya menjadi pembicara dalam seminar Hari Puisi Indonesia tahu 2019, membawakan topik tentang "Algoritma, Teknologi Digital, dan Masa Depan Puisi". Saya duduk persis di sebelah Prof. Abdul Hadi. Di sela seminar, kami berbincang pelan. Ia tampak heran ketika mengetahui latar belakang saya dari dunia teknologi, ekonomi, dan bisnis.

    “Apa yang membuat Riri menyukai puisi?” tanya beliau.

    Saya menjawab jujur, puisi memberi keseimbangan. Di tengah hidup yang dipenuhi angka, analisis, dan rasionalitas, puisi mengembalikan saya pada hal-hal yang tak terukur berupa dialog batin, imajinasi, dan kesadaran akan semesta. Beliau tersenyum, menepuk lengan saya, dan mengatakan bahwa hal semacam itu jarang.

    Ketika saya memaparkan soal kecerdasan buatan dan puisi buatan mesin, diskusi menjadi lebih hidup. Seusai presentasi, beliau berbisik, “Empat pembicara bicara tentang masa lalu, satu tentang masa depan.” Lalu kalimat yang terus saya ingat hingga kini: “Puisi harus tetap puisi.”

    Kalimat itu sederhana, tetapi berat. Di tengah AI yang mampu menyusun larik dan meniru gaya, saya memaknainya sebagai peringatan bahwa puisi bukan sekadar bahasa yang rapi, melainkan hasil dari pengamatan, perenungan, dan pengalaman batin. Mesin dapat menghitung, tetapi tidak mengalami. Ia tidak memiliki luka, rindu, atau kesadaran akan fana.

    Mungkin itulah yang ingin dikawal oleh Prof. Abdul Hadi sepanjang hidup kepenyairannya yaitu agar puisi, sejauh apa pun ia bersentuhan dengan teknologi, tidak kehilangan ruhnya. Kembali ke akar, kembali ke sumber, bukan untuk menolak masa depan, tetapi agar di tengah perubahan, puisi tetap menjadi ruang kemanusiaan.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture