Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • ESAI KRITIS DAN ESAI MEMPERTANYAKAN: BELAJAR MERAGUKAN DAN MENILAI

    19 Jan 2026 | Dilihat: 82 kali

    oleh : Riri Satria

    Saya sering menyadari bahwa dorongan menulis tidak selalu datang dari kemarahan atau keyakinan yang sudah bulat. Justru, ia kerap lahir dari rasa ragu. Ada sesuatu yang terasa tidak sepenuhnya benar, tetapi juga belum cukup jelas untuk disalahkan. Dari titik inilah saya belajar membedakan dua cara menulis yang tampak serupa, namun sebenarnya bergerak dengan irama yang berbeda, yaitu esai kritis dan esai mempertanyakan.

    Esai kritis biasanya hadir ketika saya merasa sudah cukup melihat, membaca, dan mengalami sesuatu, lalu merasa perlu mengambil sikap. Ada jarak yang saya bangun antara diri saya dan objek yang saya tulis, jarak yang memungkinkan saya menilai dengan relatif tenang.

    Ketika saya menulis secara kritis tentang sebuah kebijakan, misalnya, saya tidak lagi sekadar bertanya apa maksud kebijakan itu, melainkan apakah ia adil, apakah ia efektif, dan siapa yang paling merasakan dampaknya. Esai kritis menuntut saya menyusun argumen, menimbang data, dan akhirnya berkata dengan jelas, di sinilah letak masalahnya, dan di sinilah letak kekuatannya.

    Namun tidak semua pengalaman memberi saya keyakinan semacam itu. Ada momen-momen ketika saya justru terjebak dalam kebingungan yang produktif. Misalnya, saat melihat perubahan cara orang berkomunikasi di media sosial. Saya tidak langsung tahu apakah perubahan itu baik atau buruk. Saya merasakan lebih dulu adalah keganjilan: mengapa kita begitu cepat bereaksi, begitu mudah menghakimi, dan begitu jarang diam? Dalam situasi seperti ini, esai mempertanyakan menjadi rumah yang lebih jujur.

    Esai mempertanyakan tidak memaksa saya untuk segera mengambil kesimpulan. Ia memberi ruang bagi keraguan. Alih-alih menyatakan, “Media sosial merusak cara kita berpikir,” saya justru mulai dengan pertanyaan: apa yang sebenarnya sedang berubah dalam cara kita mendengar satu sama lain? Apakah kecepatan membuat kita kehilangan empati? Apakah diam kini dianggap kelemahan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu saya jawab dengan tegas. Sebagiannya dibiarkan terbuka, agar pembaca ikut memikirkannya.

    Perbedaan ini semakin terasa ketika saya membandingkan tujuan keduanya. Esai kritis bergerak menuju penilaian. Ia seperti lampu sorot yang diarahkan pada satu objek, menyingkap sisi terang dan gelapnya, lalu menyimpulkan apa artinya semua itu.

    Esai mempertanyakan, sebaliknya, lebih menyerupai lilin kecil di ruang gelap. Cahayanya tidak kuat, tetapi cukup untuk membuat kita sadar bahwa masih banyak sudut yang belum kita lihat.

    Meski demikian, keduanya memiliki akar yang sama. Baik esai kritis maupun esai mempertanyakan lahir dari kegelisahan dan ketidakpuasan terhadap jawaban-jawaban instan. Keduanya menolak sikap menerima begitu saja. Keduanya menuntut kejujuran penulis terhadap pikirannya sendiri.

    Bedanya, esai kritis berani berkata, “Saya menilai,” sementara esai mempertanyakan memilih berkata, “Saya belum yakin, mari kita pikirkan bersama.”

    Dalam pengalaman pribadi saya, kedua jenis esai ini sering saling menyambung. Banyak tulisan kritis yang awalnya hanyalah serangkaian pertanyaan. Sebaliknya, tidak sedikit esai mempertanyakan yang, setelah melalui perenungan panjang, akhirnya berkembang menjadi sikap yang lebih tegas. Menulis menjadi proses bergerak dari ragu ke nilai, atau kadang justru kembali dari nilai ke ragu.

    Di tengah dunia yang tampak semakin gemar pada kepastian dan kesimpulan cepat, esai mempertanyakan mengingatkan saya akan pentingnya berhenti sejenak. Ia mengajarkan bahwa bertanya bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian.

    Sementara itu, esai kritis mengingatkan bahwa pada titik tertentu, kita memang perlu bersuara, menyatakan keberatan, dan mengambil posisi.

    Pada akhirnya, esai kritis dan esai mempertanyakan bukanlah dua kubu yang saling meniadakan. Keduanya adalah dua tahap dalam perjalanan berpikir. Satuna membantu kita menilai dunia, yang lain membantu kita tidak terlalu cepat merasa yakin. Dan mungkin, di sanalah menulis menemukan maknanya: sebagai upaya terus-menerus untuk jujur pada apa yang kita ketahui, dan apa yang belum kita pahami sepenuhnya.

    --- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture