Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MENGENANG 16 TAHUN WAFATNYA AYAHANDA CHAIDIR ANWAR

    16 Jan 2026 | Dilihat: 25 kali

    Hari ini, 16 Januari 2026, waktu kembali berhenti sejenak dalam ingatan saya. Tepat 14 tahun sudah ayahanda Chaidir Anwar biasa kami panggil Papi berpulang, meninggalkan rumah kami dalam senyap yang panjang. Tanggal 16 Januari 2012 itu masih terasa dekat, seolah baru kemarin, padahal kalender telah berkali-kali berganti. Dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke-74, Papi menutup perjalanan hidupnya dan menghadap Sang Khalik, Allah SWT, Pemilik seluruh semesta.

    Mengenang Papi berarti menelusuri jejak sebuah generasi yang ditempa oleh sejarah. Ia termasuk rombongan pemuda Sumatera Barat generasi pertama yang diberi kesempatan menimba ilmu ke luar negeri pasca peristiwa PRRI. Tahun 1960, Papi berangkat jauh meninggalkan tanah kelahiran, menyeberangi samudra menuju New York, menyelesaikan studi sarjananya di State University of New York. Perjalanannya berlanjut ke Hawaii, meraih gelar magister dari University of Hawaii.

    Di usia muda, Papi telah mengenal dunia yang luas, perbedaan budaya, dan kerasnya perjuangan hidup sebagai perantau, pengalaman yang kelak membentuk cara berpikirnya yang terbuka namun tetap berakar.

    Tahun 1967, Papi memilih pulang. Ia kembali bukan sekadar membawa ijazah, tetapi juga sebuah komitmen, mengabdikan diri untuk pendidikan. Fakultas Ekonomi Universitas Andalas di Padang menjadi rumah keduanya.

    Di ruang-ruang kelas itulah ia menanamkan ilmu, nilai, dan etos berpikir kepada generasi demi generasi mahasiswa. Mengajar bukan sekadar profesi baginya, melainkan jalan hidup. Hingga akhir hayatnya, Papi tetap aktif mengajar dan membimbing mahasiswa, seolah waktu tak pernah cukup untuk berhenti berbagi.

    Bagi saya, Papi adalah teladan tentang kesetiaan pada pilihan hidup. Ia menunjukkan bahwa ilmu menemukan maknanya ketika diabdikan, dan bahwa pulang ke tanah air adalah bentuk cinta yang paling nyata.

    Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang tak tergantikan, tetapi juga warisan yang tak pernah habis: kebijaksanaan dalam bersikap, keteguhan dalam prinsip, dan ketulusan dalam memberi.

    Kini Papi beristirahat di tanah Padang, kota yang menjadi saksi pengabdiannya. Namun sesungguhnya, ia tidak pernah benar-benar pergi. Petuah-petuahnya terus hidup dalam ingatan, dalam keputusan-keputusan kecil yang saya ambil, dalam cara memandang dunia dan manusia. Hikmahnya menetap di benak dan di hati, menjadi cahaya yang pelan-pelan menuntun, bahkan ketika langkah terasa ragu.

    14 tahun setelah kepergiannya, doa tetap mengalir, rindu tetap ada. Setiap tanggal 16 Januari, saya kembali belajar satu hal yang Papi ajarkan tanpa banyak kata bahwa hidup yang dijalani dengan makna akan terus hidup, bahkan setelah raga kembali ke asalnya.

    Al-Fatihah untuk Papi ...  suatu saat Insya Allah kita akan berkumpul lagi di alam sana ..

    -----------

    Tulisan berikut ini pernah dimuat pada buku antologi “Ayahku Jagoanku” penerbit Kosa Kata Kita (KKK), Jakarta, bulan Februari 2021, yang memuat berbagai tulisan tentang ayah dari sekitar 300 penulis di seluruh Indonesia.

    PELAJARAN TENTANG NASIONALISME DARI PAPI

    Berbeda dengan kebanyakan orang di Padang, Sumatra Barat, kami sekeluarga memanggil ayah dengan sebutan “Papi”, sesuatu yang kurang lazim, di mana orang banyak memanggil dengan Ayah, Papa, Bapak, atau Abak (kalau yang ini panggilan khas di Ranah Minang). Memang terkesan kebarat-baratan, namun ini ada ceritanya.

    Papi bernama Chaidir Anwar dan termasuk generasi pertama pemuda asal Sumatra Barat yang disekolahkan ke luar negeri pasca peristiwa PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Papi sempat kuliah setahun di Universitas Andalas di Padang, lalu mencoba peruntungan ikut ujian seleksi untuk mendapatkan beasiwa untuk kuliah ke Amerika Serikat.

    Alhamdulillah, Papi lulus, setelah menjalani masa prastudi di Jakarta, pada tahun 1960 Papi berangkat ke Amerika Serikat, dengan tujuan kota metropolitan New York.

    Papi pernah bercerita bahwa hidup di kota New York bukanlah hal yang mudah buatnya karena banyak sekali penyesuaian yang harus dilakukan. Namun perlahan-lahan Papi mampu menyesuaikan diri.

    Pada tahun 1964, Papi menyelesaikan S1 atau tingkat Bachelor di State University of New York (SUNY), serta S2 di University of Hawaii at Manoa. Papi memperoleh gelar MBA (Master of Business Administration), sebuah gelar yang baru populer dan bergengsi di Indonesia pada era 1990an, namun beliau sudah mendapatkannya pada tahun 1966.

    Di mata saya, Papi adalah sosok pria yang berdedikasi kepada bangsa dan negara. Bayangkan, setelah lulus kuliah di Amerika Serikat pada tahun 1966, Papi menampik sebuah tawaran pekerjaan yang sangat prestisius dari Citibank di New York. Siapa yang tidak mengenal Citibank? Sebuah bank papan atas dunia! Ini sebuah sikap yang mencengangkan teman-temannya saat itu.

    Saya pun tercengang dan takjub mendengar kisah Papi ini. Papi meninggalkan Amerika Serikat, tempat menuntut ilmu selama enam tahun, lalu pulang ke kota Padang, sebuah kota kecil di pantai Barat Pulau Sumatra dan mengabdikan dirinya sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas untuk mendidik anak-anak bangsa.

    “Papi disekolahkan oleh negara, maka harus kembali ke Indonesia untuk mengabdi. Kita orang Indonesia, sejatinya membangun bangsa ini. Nasionalisme itu penting!”

    Kalimat Papi di atas selalu saya ingat. Papi mengajarkan kepada saya yang masih sangat muda saat itu tentang nasionalisme serta cinta tanah air lewat kisahnya dulu yang dengan mantap memilih kembali pulang ke Indonesia. Dengan apa yang beliau miliki, bisa saja kami hidup dengan nyaman di negeri orang yang sudah maju dan jauh lebih mapan, namun beliau memilih pulang!

    Setelah kembali pulang dan mengabdi di tanah leluhur Ranah Minang, Papi menghadapi masalah yang menarik, yaitu pikiran Papi memang jauh melampaui zamannya. Banyak orang yang sulit mengikuti pemikirannya, sehingga terkadang Papi hanya bisa bersabar dalam banyak hal.

    Namun demikian, banyak juga yang datang padanya pada saat-saat kritis, sekedar minta pendapat atau bahkan mengajak ikut memperbaiki. Ada sentuhan tangan Papi untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi, bisnis, dan manajemen di Sumatra Barat yang menunjukkan kapasitasnya yang tidak hanya mampu berteori semata. Bahkan Gubernur Sumatra Barat saat itu Bapak Hasan Basri Durin pernah meminta Papi untuk melakukan restrukturisasi berbagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di sana.

    Di hari tuanya, Papi dan saya menjadi teman untuk diskusi dan debat. Kami memang sering berdebat, tetapi debat yang rasional. Papi seolah menantang saya untuk terus berpikir rasional. Di waktu luang, kami berdua menikmati saat-saat ke toko buku bersama lalu mendiskusikan berbagai buku yang dipajang di sana, atau sambil menyeruput kopi di sebuah kafe.

    “Nasionalisme itu bukan berarti kita menutup mata dari negara asing. Sama sekali bukan! Justru banyak sekali kemajuan mereka yang harus kita pelajari, untuk dibawa ke negara ini untuk menyelesaikan berbagai persoalan, baik ilmu pengetahuan, teknologi, sampai dengan peradaban sosial, misalnya disiplin berlalu lintas di jalan raya!" Demikian Papi menegaskan.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture