Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • REFLEKSI 26 TAHUN TULISAN E-STRATEGY

    15 Jan 2026 | Dilihat: 53 kali

    oleh: Riri Satria

    Kali ini saya ingin bernostalgia dengan tulisan saya sendiri ... Saya tidak menyangka bahwa sebuah istilah yang saya tulis sebagai sebuah judul tulisan 26 tahun lalu akan kembali mengetuk kesadaran saya hari ini. E-strategy! Kata itu tercetak di sebuah halaman Majalah Manajemen terbitan Lembaga Manajemen PPM pada tahun 2000, di masa ketika internet masih berderak, e-commerce baru sekadar janji, dan kata “digital” belum menjadi mantra yang diulang di setiap rapat. Saat itu, saya menulis dengan rasa ingin tahu dan mungkin juga dengan keberanian tentang sebuah arah baru yang belum sepenuhnya dipahami apalagi bernama.

    Ketika saya membaca ulang tulisan itu hari ini, perasaan saya bercampur. Ada nostalgia, tentu saja! Tapi lebih dari itu, ada keheningan reflektif di mana ternyata kegelisahan kita tidak banyak berubah. 26 tahun lalu saya sudah melihat tanda-tanda bahwa teknologi tidak bisa diperlakukan sekadar sebagai alat operasional. Saya yakin bahwa memasuki e-business tanpa e-strategy hanyalah berpindah medium, bukan berpindah makna.

    Dalam tulisan itu, saya mengajak pembaca untuk melihat e-strategy sebagai strategi bisnis bukan sebagai strategi IT. Saya mengaitkannya dengan pemikiran Porter, Mintzberg, Hamel, dan Tapscott, sembari bertanya apakah strategi-strategi klasik masih memadai ketika teknologi mulai mengubah cara manusia bekerja, bertransaksi, dan berinteraksi? Pertanyaan itu terasa sederhana waktu itu.

    Namun yang berubah ruang lingkup dan skalanya. Tahun 2000, kita berbicara tentang internet, e-commerce, dan cyber economy dengan nada spekulatif. Hari ini, kita hidup sepenuhnya di dalamnya. Platform, data, AI, dan algoritma bukan lagi masa depan, mereka adalah teman dalam keseharian. Namun ironisnya, kebingungan strategis itu masih sama. Banyak organisasi masih mengira bahwa membeli teknologi sama dengan memiliki strategi.

    Di situlah e-strategy kembali terasa relevan bahkan semakin mendesak. E-strategy bukan tentang ikut tren, melainkan tentang kesadaran arah. Tentang bagaimana organisasi mendefinisikan dirinya di tengah perubahan, bagaimana teknologi dipilih untuk melayani tujuan, bukan sebaliknya. Dulu saya menulisnya sebagai ajakan berpikir. Hari ini, saya merasakannya sebagai panggilan untuk bertanggung jawab.

    Secara personal, membaca kembali tulisan itu membuat saya menyadari satu hal di mana gagasan bisa melampaui usia penulisnya. Saya mungkin menua 26 tahun setelah menulis situ, teknologi mungkin berubah radikal, tetapi pertanyaan dasarnya tetap sama: untuk apa kita menggunakan teknologi? Apakah ia memperluas makna kerja, atau sekadar mempercepat kelelahan?

    Jika dulu saya menulis e-strategy dengan optimisme seorang pengamat yang asih berusia 30 tahun, hari ini dalam usia 56 tahun saya melihatnya dengan kebijaksanaan yang lebih pelan. Saya memahami bahwa strategi digital bukan hanya soal keunggulan kompetitif, tetapi juga soal etika, manusia, dan keberlanjutan. Tentang bagaimana keputusan digital memengaruhi cara orang bekerja, merasa dihargai, atau justru terasing.

    Ketika menulis ini 26 tahun yang lalu, menurut saya e-strategy adalah upaya menjahit ulang strategi organisasi dengan benang teknologi. Ia bukan tambahan di pinggir halaman, bukan lampiran teknis, melainkan bagian dari narasi utama. Ketika strategi lama berbicara tentang pasar, efisiensi, dan pertumbuhan, e-strategy menambahkan dimensi baru yaitu teeknologi, data, kompetensi pengguna, dan kecepatan beradaptasi.

    Namun yang paling mengusik perasaan saya sejak 26 tahun yang lalu adalah kenyataan bahwa e-strategy (yang ekarang lebih populeer disebut sebagai digital strategy) sering disalahpahami. Ia direduksi menjadi roadmap IT, daftar proyek aplikasi, atau target implementasi sistem. Padahal esensinya jauh lebih manusiawi. E-strategy berbicara tentang bagaimana manusia bekerja di tengah teknologi, bukan bagaimana manusia menyesuaikan diri secara pasif terhadap mesin.

    Saya melihat bahwa e-strategy sejati menuntut perubahan cara berpikir. Ia meminta pimpinan untuk tidak hanya bertanya “sistem apa yang kita bangun?”, tetapi “keputusan apa yang ingin kita perbaiki?”.  Teknologi hanya alat; strategi tetap soal pilihan dan keberpihakan.

    26 tahun adalah jarak waktu yang panjang. Namun e-strategy mengajarkan saya bahwa yang benar-benar bertahan bukanlah istilahnya, melainkan kesadaran strategisnya: bahwa teknologi harus selalu ditempatkan dalam kerangka nilai, pilihan, dan tanggung jawab manusia.

    Mungkin, itulah makna terdalam dari menulis, baik dulu maupun sekarang. Bukan untuk meramalkan masa depan dengan tepat, tetapi untuk meninggalkan jejak kesadaran, agar ketika dunia berubah terlalu cepat, kita masih punya penanda yang mengingatkan: kita pernah berpikir dengan jernih, dan kita bisa melakukannya lagi.

    --- RS --

    --- Saat ini istilah E-Strategy sudah tidak diprgunakan lagi, dan sekarang yang dipakai adalah Digital Strategy dengan ruang lingkup yang lebih luas --

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture