Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Tahun 2026 bagi saya bukan sekadar lanjutan dari hiruk-pikuk transformasi digital yang kita rayakan sejak pandemi. Ia merupakan pintu masuk menuju visi yang jauh lebih panjang, yaitu Indonesia Digital 2045. Sebuah visi yang tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana bangsa ini mengorkestrasi kepentingan negara, industri, daerah, dan warga untuk menjemput Indonesia Emas. Di titik ini, digital bukan lagi alat bantu pembangunan, ia telah menjadi motor utama produktivitas nasional.
Indonesia diproyeksikan masuk lima besar ekonomi dunia pada 2045. Angka itu sering terdengar megah, tetapi di baliknya ada prasyarat yang sangat konkret, yaitu daya saing, efisiensi, dan produktivitas. Pada zaman ini semua itu nyaris mustahil dicapai tanpa optimalisasi teknologi digital. Negara-negara maju memberi pelajaran yang jelas yaitu tingginya tingkat digitalisasi bukan sekadar efek kemajuan ekonomi, tetapi justru penyebab utamanya. Teknologi menjadi pengungkit, bukan ornamen.
Tahun 2025 menandai fase di mana digitalisasi seolah bergerak tanpa batas. Namun justru tahun setelahnya, yaitu tahun 2026 yang terasa lebih menentukan. Pada titik ini perusahaan tidak lagi sekadar “beradaptasi” dengan teknologi. Mereka mulai menggantungkan pertumbuhan, efisiensi, dan bahkan keberlangsungan hidupnya pada sistem digital. Kompleksitas operasional meningkat, volume data meledak, ancaman keamanan kian canggih, dan tuntutan kecepatan menjadi standar baru. Di sinilah teknologi berhenti menjadi proyek, dan berubah menjadi tulang punggung.
Saya melihat 2026 sebagai tahun akselerasi yang sunyi tetapi menentukan. Banyak perusahaan masih terjebak pada sistem lama yaitu warisan teknologi yang dulu cukup, tetapi kini lambat, terfragmentasi, dan sulit diintegrasikan. Sistem-sistem ini tidak hanya menghambat pertumbuhan, tetapi juga menciptakan kelelahan operasional. Pada saat yang sama, talenta IT semakin langka. Tidak semua organisasi mampu membangun dan memelihara teknologi sendiri di tengah lonjakan kebutuhan dan persaingan global atas sumber daya manusia digital.
Tekanan biaya pun tak terelakkan. Server, lisensi, integrasi, keamanan, semuanya menuntut investasi yang terus meningkat. Ironisnya, justru di saat teknologi makin vital, banyak organisasi menyadari bahwa mengelolanya sendiri tanpa strategi yang matang adalah beban yang kian berat. Belum lagi ancaman keamanan siber yang berevolusi cepat: serangan berbasis AI, data poisoning, hingga penipuan deepfake yang mengaburkan batas antara nyata dan palsu. Di balik layar aplikasi yang tampak sederhana, risiko sistemik terus mengintai.
Tahun 2026 diproyeksikan menjadi fase di mana automasi cerdas berbasis AI tidak lagi bersifat opsional. OCR berbasis AI, workflow automation, asisten digital, dan verifikasi otomatis mulai menjadi syarat minimum daya saing. Perusahaan yang masih bergantung pada proses manual akan tertinggal, bukan karena kurang niat, tetapi karena kalah kecepatan.
Integrasi sistem menjadi medan pertempuran berikutnya. CRM, ERP, SCM, dan aplikasi pihak ketiga tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka harus berbicara dalam satu ekosistem yang utuh. Di sinilah API engineering dan arsitektur integrasi menjadi kerja senyap yang menentukan efisiensi. Bukan sekadar membuat sistem “jalan”, tetapi membuatnya saling memahami.
Permintaan terhadap pengembangan web dan aplikasi juga berubah wataknya. Organisasi, termasuk BUMN dan startup tidak lagi mencari sistem yang sekadar jadi, tetapi yang stabil, scalable, dan berumur panjang. Dashboard internal, portal pelanggan, aplikasi operasional, semua harus siap tumbuh bersama bisnis. Ini bukan lagi soal kecepatan membangun, tetapi ketepatan merancang.
Di atas semua itu, keamanan data dan kepatuhan regulasi menjadi fondasi kepercayaan. Dengan UU Perlindungan Data Pribadi dan rujukan PP 71, pengelolaan dokumen, audit trail, kontrol akses, enkripsi, hingga perlindungan kebocoran bukan lagi fitur tambahan, melainkan prasyarat bertumbuh. Saya semakin yakin bahwa perusahaan yang serius membangun keamanan justru akan lebih berani berekspansi, karena tidak terus-menerus dihantui rasa cemas terhadap data.
Semua dinamika ini terhubung dengan gambaran besar Indonesia Digital 2045. Visi itu mengajarkan bahwa pembangunan digital tidak boleh parsial. Ia harus memperhatikan sektor dan wilayah, menghubungkan pusat dan daerah, besar dan kecil, publik dan privat. Infrastruktur siap-AI, ketahanan sejak desain awal, kedaulatan data, kecerdasan terdistribusi di edge, serta hybrid multi-cloud sebagai standar operasional bukanlah jargon teknologi. Ia adalah bahasa baru pembangunan.
Di tengah refleksi ini, saya sampai pada satu kesimpulan personal bahwa 2026 bukan hanya tentang teknologi yang lebih canggih, tetapi tentang kedewasaan kolektif. Kedewasaan dalam memilih apa yang dikelola sendiri, apa yang dikolaborasikan, dan apa yang harus dijaga sebagai kepentingan nasional. Ketika ditempatkan secara tepat, bukan sekadar solusi efisiensi biaya, tetapi instrumen strategis untuk memastikan bahwa transformasi digital berjalan aman, berkelanjutan, dan berpihak pada tujuan jangka panjang bangsa.
Menuju Indonesia Emas 2045, digitalisasi bukan lagi pertanyaan “apakah”, melainkan “bagaimana”. Bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan kedaulatan. Bagaimana efisiensi dicapai tanpa mengikis kepercayaan. Bagaimana inovasi dipercepat tanpa meninggalkan nilai. Tahun 2026 adalah satu langkah kecil dalam rentang sejarah panjang itu tetapi langkah kecil inilah yang menentukan apakah kita melangkah dengan arah yang benar, atau sekadar bergerak cepat tanpa tahu ke mana tujuan akhirnya.
-- Riri Satria, diolah dari berbagai sumber.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]