Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Kabar dibukanya Program Studi Sarjana Kecerdasan Artifisial (AI) di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) mulai tahun ajaran 2026/2027 terasa seperti sebuah penanda zaman. Bagi saya pribadi, ini bukan sekadar informasi akademik, melainkan sinyal bahwa Indonesia sedang menata diri untuk tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga ruang lahirnya para perancang dan pemikir AI.
Di tengah derasnya arus aplikasi kecerdasan artifisial yang bisa dipakai siapa saja, Fasilkom UI justru mengambil posisi yang lebih sunyi namun strategis dan menentukan, yaitu mendidik mereka yang ingin menciptakan, membangun, dan bertanggung jawab atas sistem AI itu sendiri.
Beberapa sahabat sempat bertanya kepada saya (mungkin karena saya alumni Fasilkom UI dan juga ikut mengajar di MTI Fasislkom UI), apa sebenarnya yang dipelajari di Program Studi Sarjana Kecerdasan Artifisial ini. Pertanyaan itu terasa wajar, karena selama ini AI kerap direduksi menjadi sekadar soal prompting, memakai chatbot, atau memanfaatkan aplikasi generatif untuk mempercepat kerja.
Padahal, dunia AI jauh lebih dalam dan kompleks. Nah, yang hendak dibangun di Fasilkom UI adalah pemahaman fondasional yang kokoh, dari logika hingga matematika, dari struktur data hingga cara berpikir sistemik, agar mahasiswa tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan inovator yang memahami apa yang mereka bangun dan apa dampaknya bagi manusia.
Sejak awal, program ini dirancang dengan visi yang jelas, yaitu melahirkan lulusan yang unggul secara keilmuan dan profesional, tetapi tetap berpijak pada etika, tanggung jawab sosial, dan semangat kebangsaan. AI di sini tidak diposisikan sebagai mesin dingin yang berdiri sendiri, melainkan sebagai teknologi yang hidup di tengah masyarakat, berinteraksi dengan nilai, budaya, dan realitas manusia. Paradigma human-centric AI menjadi kata kunci yang menarik perhatian saya, karena di sanalah teknologi dan kemanusiaan dipertemukan secara sadar.
Fondasi keilmuan yang dibangun pun tidak main-main. Mahasiswa akan berjumpa dengan dunia logika dan struktur diskrit, kalkulus univariat dan multivariat, struktur linear, serta statistika dan probabilitas yang menjadi bahasa dasar AI. Dari sana, mereka akan masuk ke ranah yang lebih aplikatif seperti struktur data dan algoritma, pencarian dan optimisasi, hingga pembelajaran mendalam. Bidang-bidang seperti visi komputer, pemrosesan bahasa alami, dan generative AI tidak diajarkan sebagai sulap instan, melainkan sebagai hasil dari proses matematis dan rekayasa yang panjang.
Ada yang menarik, program ini juga menaruh perhatian besar pada sisi rekayasa sistem. Arsitektur, rekayasa, dan operasional aplikasi AI, jaringan sistem komputer, hingga desain dan pengembangan produk AI menjadi bagian penting dari kurikulum. Ini menegaskan bahwa AI bukan hanya soal model yang cerdas, tetapi juga soal bagaimana sistem itu berjalan dengan andal, aman, dan bermanfaat di dunia nyata. Bahkan topik-topik mutakhir seperti Edge AI, graph machine learning, information retrieval, knowledge graph, hingga analitik data sosial berskala besar turut hadir, seolah membuka jendela ke masa depan yang sedang kita masuki bersama.
Bagi saya, kehadiran Program Studi Sarjana Kecerdasan Artifisial ini juga mengandung pesan moral. Di saat teknologi berkembang begitu cepat, universitas memiliki tanggung jawab untuk menanamkan kesadaran etis sejak dini. AI yang hebat tanpa nurani hanya akan melahirkan persoalan baru. Karena itu, penekanan pada tanggung jawab sosial dan dampak nyata bagi manusia terasa sangat relevan, bahkan mendesak. Kita tidak hanya membutuhkan insinyur AI yang pintar, tetapi juga warga intelektual yang peka terhadap konsekuensi dari setiap baris kode yang mereka tulis.
Akhirnya, saya melihat Prodi Kecerdasan Artifisial Fasilkom UI ini sebagai sebuah undangan terbuka bagi generasi muda yang ingin berada di garis depan, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai perancang masa depan. Bukan sekadar belajar memakai AI, tetapi memahami, membangun, dan merawatnya agar tetap berpihak pada manusia. Di sanalah mungkin letak makna terdalam dari pendidikan AI hari ini, di mana teknologi boleh maju sejauh apa pun, tetapi manusia harus tetap menjadi pusatnya.
Informasi lengkap tentang program studi ini dapat dibaca di sini: https://cs.ui.ac.id/sarjana-kecerdasan-artifisial/
- Riri Satria
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera