Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Akhir-akhir ini saya merasakan sesuatu yang menarik di ruang baca dan ruang tulis kita. Esai-esai yang beredar di media, di blog personal, di media sosial, banyak mulai terasa berbeda. Tidak lagi terlalu yakin pada kesimpulan, tidak sibuk membuktikan apa yang benar dan salah. Esai-esai itu terasa ragu, personal, melompat-lompat, kadang seperti catatan pinggir dari pikiran yang sedang berjalan.
Lalu muncullah istilah yang sering disebut, tetapi juga sering membingungkan yaitu ESAI POSMODERNIS. Banyak yang bertanya, sebenarnya apa itu? Apakah ini sekadar gaya menulis yang tidak rapi? Ataukah tanda zaman yang sedang berubah?
Saya sendiri tidak langsung punya jawabannya. Justru dari kebingungan itulah esai ini ingin bermula. Yuk, kita jelajahi.
Saya semakin menyadari bahwa esai posmodernis tidak lahir dari keinginan untuk menjadi berbeda, apalagi untuk terlihat canggih secara intelektual. Ia lahir dari kelelahan, tepatya kelelahan terhadap klaim-klaim besar, terhadap suara yang terlalu yakin, terhadap kalimat-kalimat yang seolah tahu segalanya.
Dalam dunia yang bising oleh opini, algoritma, serta kebenaran versi masing-masing, maka keyakinan mutlak justru terdengar mencurigakan. Maka esai pun berubah watak, dari yang ingin menjelaskan dunia, menjadi yang ingin bertanya ulang tentang cara kita memahami dunia.
Di titik ini, saya mulai menulis bukan untuk menjawab, melainkan untuk menemani diri sendiri berpikir.
Ayo menulis! Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan klise. Namun bagi saya, menulis hari ini bukan lagi soal produktivitas, apalagi ambisi intelektual. Menulis menjadi semacam upaya merawat diri di tengah keretakan makna. Saya menulis ketika saya tidak sepenuhnya paham apa yang sedang terjadi, ketika berita datang bertubi-tubi, ketika kata “peradaban” terdengar terlalu besar untuk saya pikul sendirian. Maka saya memilih kata yang lebih kecil, lebih rendah hati, yaitu nyala kecil.
Dengan menulis, jelas saya tidak sedang menyelamatkan dunia. Saya hanya berusaha menjaga agar sesuatu di dalam diri saya tidak padam. Pikiran yang jujur, kegelisahan yang diakui, keraguan yang diberi ruang. Dan mungkin tanpa saya sadari, nyala kecil itu menyentuh orang lain yang juga sedang berjalan dalam gelapnya sendiri.
Di situlah saya memahami esai posmodernis secara personal. Ia tidak menawarkan peta, hanya lentera. Tidak berteriak dari podium, tetapi berbisik dari sudut meja. Ia sadar bahwa kebenaran selalu parsial, bahwa pengalaman setiap orang sah untuk diceritakan, bahwa suara “aku” tidak lebih tinggi dari suara “kita”. Dalam esai semacam ini, menulis bukan alat kuasa, melainkan tindakan rapuh yang jujur.
Kadang saya rindu pada esai-esai lama yang percaya diri. Esai-esai yang yakin bahwa akal bisa menata dunia, bahwa tulisan bisa menjadi senjata perubahan. Namun dunia hari ini tidak lagi sesederhana itu. Terlalu banyak yang runtuh, terlalu banyak yang saling menyangkal. Maka esai pun belajar bersikap lebih rendah hati. Ia tidak lagi berpretensi menjadi monumen, cukup menjadi catatan perjalanan.
Esai posmodernis dicirikan oleh sikap skeptis terhadap kebenaran tunggal dan narasi besar. Ia tidak lagi berangkat dari keyakinan bahwa dunia dapat dijelaskan secara utuh, sistematis, dan final melalui satu kerangka pemikiran. Oleh karena itu, esai posmodernis cenderung bersifat reflektif, fragmentaris, dan sadar diri.
Penulis sering menampilkan keraguan, posisi personal, bahkan keterbatasannya sendiri sebagai bagian dari teks. Bahasa tidak diperlakukan sebagai alat netral, melainkan sebagai sesuatu yang problematis, bahkan kadang ironis, ambigu, atau sengaja dibiarkan terbuka. Dalam esai semacam ini, pertanyaan sering lebih penting daripada jawaban, dan proses berpikir lebih bermakna daripada kesimpulan.
Secara gaya penulisan, esai posmodernis mengaburkan batas antara esai, sastra, autobiografi, dan catatan harian. Ia bisa melompat dari pengalaman personal ke refleksi budaya, dari pengamatan kecil ke renungan filosofis tanpa transisi yang kaku. Nada tulisannya cenderung rendah hati, anti-heroik, dan menolak sikap menggurui.
Alih-alih menawarkan solusi besar, esai posmodernis merayakan makna-makna kecil, tindakan sehari-hari, dan kesadaran akan ketidakpastian. Dalam dunia yang penuh klaim dan kebisingan, esai posmodernis hadir sebagai ruang sunyi, tempat berpikir, meragukan, dan menjadi manusia secara jujur.
Mungkin itulah sebabnya banyak orang bingung dengan esai posmodernis. Ia tidak memberi pegangan yang kokoh. Ia mengajak kita berjalan tanpa janji sampai. Tapi justru di situlah kejujurannya. Ia mengakui bahwa manusia tidak selalu tahu, bahwa berpikir adalah proses yang tak selesai, bahwa menulis bisa menjadi bentuk sembah sunyi terhadap kompleksitas hidup.
Saya menulis karena saya ingin tetap waras. Juga karena saya ingin menjaga agar pikiran saya tidak dikuasai oleh kebisingan. Karena saya percaya bahwa peradaban tidak selalu dijaga oleh pidato besar atau teori megah, tetapi oleh orang-orang yang dengan tekun menyalakan nyala kecil di ruang sunyi masing-masing.
Dan jika tulisan ini terasa ragu, tidak tuntas, bahkan sedikit gamang, mungkin itulah ia seharusnya. Sebab di zaman ini, kejujuran kadang lebih penting daripada kepastian. Dan menulis, bagi saya, adalah cara paling manusiawi untuk tetap tinggal di antara keduanya.
--- Riri Satria
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera