Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Disampaikan dalam sebuah diskusi tentang "Menulis Esai yang Baik dan benar"
oleh: Riri Satria
Saya sering mendengar orang berkata ingin menulis esai, tetapi segera mundur pelan-pelan karena satu bayangan besar yaitu takut tidak cukup pintar, takut salah, takut dianggap dangkal, serta takut kalah oleh buku-buku tebal dan istilah akademik yang terdengar serius.
Padahal sejak awal, menuliskan sebuah esai tidak pernah menuntut kita menjadi paling pintar. Esai hanya meminta satu hal yang jauh lebih jujur serta keberanian untuk berpikir dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas pikiran itu.
Esai bukan karya ilmiah yang harus dipagari metodologi kaku, tabel statistik, atau bahasa yang dingin dan berjarak. Esai justru lahir dari kegelisahan yang sederhana, antara lain mengapa saya resah, mengapa saya tidak sepakat, mengapa pengalaman kecil ini terasa penting untuk direnungkan. Di situlah esai bermula, sama sekali bukan dari kehebatan, melainkan dari kejujuran.
Jika saya harus menyebut satu cara paling sederhana untuk menjadi lebih mahir menulis esai, jawabannya bukan membaca teori tentang kepenulisan tanpa henti. Jawabannya adalah berlatih dan berlatih menulis, lalu menulis lagi. Setidaknya satu esai dalam satu minggu, tidak perlu panjang, idak harus rapi, tidak harus terasa pintar. Justru yang penting, pikiran dilatih untuk mengalir, pengalaman dilatih untuk dirangkai, dan keberanian dilatih untuk diuji lewat tulisan.
Esai memberi ruang bagi pandangan subjektif penulis. Kita boleh berbeda pendapat. Kita boleh ragu, bahkan, sering kali keraguan justru membuat esai terasa lebih manusiawi. Namun, subjektivitas dalam esai bukan alasan untuk asal berpendapat. Di sanalah etika berpikir bekerja. Setiap opini perlu alasan. Setiap sikap perlu penjelasan, mengapa saya berpikir seperti ini, dari mana sudut pandang ini datang, dan sejauh mana ia bisa saya pertanggungjawabkan. Esai yang baik tidak berdiri di atas mimbar. Ia duduk sejajar dengan pembaca dan mengajak mereka menimbang bersama.
Bentuk esai pun beragam, dan di situlah kebebasannya terasa. Ada esai naratif yang bertumpu pada cerita. Penulis mengajak pembaca masuk ke pengalaman personal yang bisa saja kejadian kecil, peristiwa sehari-hari, atau fragmen hidup yang tampak sepele, lalu perlahan menarik makna darinya. Cerita menjadi pintu masuk bagi gagasan, bukan sekadar hiasan.
Ada pula esai reflektif. Di sini pengalaman tidak berhenti sebagai kisah, melainkan menjadi bahan perenungan. Penulis menoleh ke dalam diri, bertanya tentang sikap, pilihan, dan nilai-nilai yang ia pegang. Esai reflektif sering terasa sunyi, jujur, dan dekat, karena ia tidak berpura-pura yakin. Ia mengakui kegamangan sebagai bagian dari menjadi manusia.
Berbeda lagi dengan esai kontemplatif. Jenis ini bergerak lebih pelan, lebih dalam, dan sering kali bersentuhan dengan pertanyaan filosofis. Penulis tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan. Ia membiarkan pertanyaan menggantung. Ia memberi ruang bagi makna untuk tumbuh perlahan. Esai kontemplatif mengajak kita berhenti sejenak dari kebisingan dunia dan belajar mendengarkan lagi, pada diri sendiri, pada kehidupan.
Ada juga esai yang menggugat. Esai jenis ini lahir dari kegelisahan sosial. Dari rasa tidak nyaman melihat ketimpangan yang dianggap biasa. Dari kelelahan menyaksikan ketidakadilan yang terus berulang. Nadanya bisa tajam, bahkan menyengat, tetapi tujuannya bukan sekadar meluapkan amarah. Esai yang menggugat ingin membangunkan kesadaran, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Sementara itu, esai yang mempertanyakan bersifat lebih dialogis. Ia tidak datang membawa palu hakim, melainkan membawa tanda tanya. Penulis mengurai asumsi-asumsi yang selama ini diterima tanpa banyak berpikir, lalu mengajak pembaca berhenti sejenak dan bertanya ulang. Dalam esai jenis ini, pertanyaan sering kali lebih penting daripada jawaban, karena pertanyaan yang jujur adalah awal dari berpikir yang sehat.
Dari sisi gaya penulisan, ada pula esai puitik yang menjadikan bahasa sebagai pengalaman estetik. Dalam esai semacam ini, kata-kata tidak hanya menjelaskan, tetapi menghadirkan suasana, rasa, dan imaji. Kalimat boleh berkelok, metafora dibiarkan bernapas, dan ritme bahasa menjadi bagian dari makna. Penulis tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Ia mengajak pembaca merasakan lebih dulu, lalu menemukan makna dengan caranya sendiri.
Kebenaran dalam esai puitik jarang hadir secara langsung. Ia muncul melalui simbol, kenangan, fragmen pengalaman, dan pengamatan-pengamatan kecil yang sering luput. Pembaca tidak dipaksa untuk setuju. Ia diajak menyelami. Karena itu, esai puitik dekat dengan puisi, meski tetap berpijak pada renungan dan pemikiran, bukan semata luapan perasaan.
Berbeda dengan itu, ada pula menulis esai bergaya retorik atau menonjolkan daya persuasi. Penulis sadar betul bahwa ia sedang berbicara kepada publik. Bahasa dirancang untuk menggugah, menekan, dan menggerakkan. Kalimatnya tegas, kadang provokatif, penuh penekanan, dan sering menggunakan pertanyaan retoris. Esai retorik tidak malu menunjukkan sikap.
Esai jenis ini banyak kita temui dalam tulisan opini, esai kebudayaan, atau kritik sosial. Emosi boleh hadir, bahkan sengaja dibangkitkan, tetapi tetap diarahkan untuk memperkuat gagasan. Esai retorik tidak hanya ingin dipahami, melainkan juga ingin ditanggapi, bahkan diperdebatkan.
Sementara itu, esai dengan gaya argumentatif menempatkan nalar sebagai fondasi utama. Ada tesis yang jelas, alasan yang runtut, dan upaya menjelaskan mengapa sebuah pandangan layak dipercaya. Meski tetap personal, esai argumentatif menuntut disiplin berpikir. Ia tidak bersandar pada perasaan semata.
Bahasanya cenderung lugas dan hemat. Metafora boleh hadir, tetapi tidak mendominasi. Emosi ada, namun tidak menguasai. Esai jenis ini mengajak pembaca berpikir bersama, menimbang dengan kepala dingin, dan mungkin tidak sepakat, tetapi tetap menghormati proses bernalar.
Apa pun bentuknya serta gaya penulisannya, esai tidak bertugas memberi putusan akhir. Esai bukan palu hakim. Ia adalah undangan untuk berdialog, merenung, dan melanjutkan percakapan. Ia tidak menutup pintu, justru membukanya.
Lalu sekarang berkembang pula yang namanya esai postmodernis. Ini adalah jenis esai yang tidak percaya sepenuhnya pada kebenaran tunggal. Ia lahir dari kecurigaan terhadap gagasan besar yang selama ini dianggap mapan, bahwa pikiran manusia selalu rasional, bahwa penulis tahu persis apa yang ia maksud, atau bahwa tulisan bisa memberikan makna yang final.
Berbeda dari esai pada umumnya yang berusaha menjelaskan atau meyakinkan, esai postmodernis justru gemar menggoyahkan kepastian. Ia tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan. Bahkan sering kali ia sengaja membiarkan pertanyaan tetap terbuka, atau membiarkan kontradiksi berdiri tanpa perlu dirapikan.
Dalam esai postmodernis, suara “aku” tidak selalu utuh dan stabil. Penulis bisa meragukan pengalamannya sendiri, menyangsikan otoritasnya, atau bahkan mengomentari tulisannya sendiri di tengah jalan. Esai menjadi ruang kesadaran, bukan ruang khotbah.
Bahasa pun tidak diperlakukan sebagai alat yang netral. Kata-kata dianggap licin, penuh bias, dan sarat kuasa. Karena itu, esai postmodernis kerap bermain ironi, metafora yang tidak tuntas, fragmen cerita, atau susunan yang tampak meloncat-loncat. Ketidakteraturan ini bukan kelemahan, melainkan sikap.
Tujuan esai postmodernis bukanlah memberi jawaban, melainkan membongkar cara kita terbiasa mencari jawaban. Ia tidak ingin membuat pembaca merasa aman, tetapi justru sedikit gelisah, dan dari kegelisahan itulah, kesadaran baru bisa muncul. Singkatnya, esai postmodernis bukan ajakan untuk percaya, melainkan ajakan untuk curiga, bahkan terhadap teks yang sedang kita baca.
Dunia akadeik juga memiliki bentuk esai tersendiri. Namanya juga akademik, maka di sini tentu sarat dengan unsur ilmiah atau ilmu pengetahuan. Esai akademik adalah tulisan yang bertujuan mengembangkan dan menguji gagasan secara ilmiah. Ia ditulis dalam konteks dunia akademik seperti kampus, jurnal, atau forum keilmuan, dengan tuntutan utama pada ketepatan nalar, kejelasan argumen, dan pertanggungjawaban sumber.
Berbeda dari esai populer atau reflektif, esai akademik tidak bertumpu pada pengalaman personal semata. Pandangan penulis harus didukung oleh teori, data, atau penelitian terdahulu. Setiap klaim penting perlu rujukan yang jelas, agar pembaca dapat menelusuri dan memeriksa ulang dasar pemikirannya.
Struktur esai akademik umumnya lebih tertib. Ada pengantar yang merumuskan masalah, bagian pembahasan yang menyusun argumen secara sistematis, dan penutup yang merangkum temuan atau posisi penulis. Bahasa yang digunakan pun cenderung formal, lugas, dan menghindari ambiguitas.
Dalam esai akademik, penulis diharapkan menjaga jarak emosional. Subjektivitas pribadi dibatasi, bukan dihilangkan, agar argumen tidak bergantung pada selera atau pengalaman individual. Pada esai jenis ini yang diutamakan adalah konsistensi logika dan keterkaitan dengan wacana keilmuan yang lebih luas.
Tujuan esai akademik bukan untuk menggugah perasaan, melainkan menyumbang pengetahuan, memperjelas konsep, atau menawarkan pembacaan baru yang dapat diuji dan diperdebatkan secara ilmiah. Singkatnya, esai akademik adalah latihan berpikir disiplin, yaitu menimbang gagasan dengan rapi, berbicara dengan dasar yang jelas, dan menempatkan diri dalam percakapan ilmiah yang lebih besar.
Pada akhirnya, menulis esai adalah soal kesadaran memilih cara berbicara kepada pembaca. Apakah kita ingin mengajak mereka merenung, menggugah kesadaran sosial, atau menguji gagasan lewat nalar? Pilihan itu mencerminkan kejujuran kita sebagai penulis.
Bagi saya, menulis esai adalah latihan berpikir sekaligus latihan merawat kegelisahan, serta tentu saja merawat pikiran atau bahasa kerenna merawa intelektualitas. Semakin sering kita menulis, semakin terasah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. Satu esai dalam satu minggu mungkin terdengar sederhana, tetapi di situlah disiplin kecil bertemu dengan kedalaman makna. Dari kebiasaan itulah, pelan-pelan, suara kita sebagai penulis akan menemukan bentuknya sendiri.
Selamat menulis.
-- Riri Satria
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera