Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • TAN MALAKA DAN MADILOG: KEMERDEKAAN YANG DIMULAI DARI PIKIRAN

    09 Jan 2026 | Dilihat: 90 kali

    Beberapa hari yang lalu, saya terlibat diskusi ringan namun hangat tentang Madilog bersama beberapa sahabat. Tidak ada forum resmi, tidak ada podium, hanya beberapa cangkir kopi, dan obrolan yang mengalir dari satu topik ke topik lain. Anehnya dari percakapan santai itu, saya justru kembali disadarkan pada satu hal penting yaitu betapa radikal dan relevan gagasan Tan Malaka tersebut , bahkan untuk hari ini.

    Kami sampai pada satu kesimpulan yang agak getir bahwa masih banyak masyarakat yang belum benar-benar memahami apa itu Madilog, meskipun istilahnya kerap terdengar di ruang-ruang diskusi, buku, atau media sosial. Madilog sering disebut, dikutip, bahkan dibanggakan, tetapi tidak jarang hanya berhenti sebagai kata, bukan sebagai cara berpikir.

    Padahal, Madilog atau Materialisme, Dialektika, dan Logika adalah upaya serius Tan Malaka untuk membebaskan pikiran bangsa ini. Bukan sekadar dari penjajahan fisik, tetapi dari belenggu cara berpikir yang irasional, mistis, dan feodal. Tan Malaka menyadari bahwa kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan intelektual hanya akan melahirkan ketergantungan dalam bentuk baru. Demikian maju pemikiran Tan Malaka saat itu.

    Dalam Madilog, pertama Tan Malaka mengajak kita untuk berangkat dari kenyataan material (MA) atau dari hidup sehari-hari, dari kerja, dari struktur sosial dan ekonomi yang konkret. Bukan dari mitos, takhayul, atau penjelasan metafisik yang kerap membuat manusia pasrah. Materialisme dalam pengertian ini, bukan penolakan terhadap nilai, melainkan keberanian untuk menatap realitas tanpa ilusi. Ini agak mirip dengan paradigma positivisme walau tak sepenuhnya sama..

    Lalu ada dialektika (DI) atau cara memahami dunia sebagai sesuatu yang terus bergerak, berubah, dan penuh pertentangan. Tidak ada keadaan yang abadi. Tidak ada penindasan yang tak bisa digugat. Dialektika mengajarkan bahwa perubahan adalah hukum sejarah, dan konflik adalah bagian dari proses menuju bentuk yang baru. Bagi bangsa yang lama dijajah, cara berpikir ini adalah sumber harapan bahwa keadaan bisa, dan memang harus, diubah. Ini agak mirip dengan paradigma interpretivisme walau tak sepenuhnya sama.

    Akhirnya adalah logika (LOG) yaitu disiplin berpikir yang tertib, konsisten, dan rasional. Logika adalah penangkal emosi kosong, propaganda, dan dogma. Tan Malaka ingin manusia Indonesia berpikir dengan kepala dingin, menyusun argumen secara jernih, dan berani mempertanyakan otoritas. Logika adalah latihan kebebasan batin.

    Ada satu hal yang membuat kami terdiam sejenak dalam diskusi itu adalah kesadaran betapa mengagumkannya Tan Malaka. Di tengah situasi revolusi, pelarian, penjara, dan pengasingan, serta di saat bangsa ini bahkan belum sepenuhnya berdiri, ia mampu menulis sebuah karya filsafat yang begitu sistematis, tajam, dan visioner. Madilog bukan lahir dari ruang akademik yang nyaman, melainkan dari pergulatan hidup seorang revolusioner.

    Kami pun sepakat bahwa Madilog adalah karya besar seorang pendiri bangsa. Bukan sekadar buku sejarah, bukan pula teks ideologis yang usang, melainkan panduan berpikir yang masih sangat relevan. Di tengah banjir informasi, hoaks, emosi kolektif, dan polarisasi hari ini, Madilog terasa seperti undangan untuk berhenti sejenak dan berpikir.

    Bagi saya pribadi, membaca dan merenungkan Madilog selalu menghadirkan perasaan campur aduk, antara kagum, malu, sekaligus tertantang. Kagum pada kejernihan pikiran Tan Malaka. Malu karena mungkin kita sering menyebut namanya tanpa sungguh-sungguh menghidupi gagasannya. Dan tertantang, karena Madilog menuntut kerja batin, bukan hanya sekadar hafalan, melainkan latihan berpikir yang terus-menerus.

    Menurut saya dan disetujui oleh para sahabat, Madilog adalah buku yang wajib dibaca. Bukan hanya oleh aktivis, akademisi, atau sejarawan, tetapi oleh siapa pun yang ingin mengasah kemampuan berpikirnya sebagai warga bangsa. Jika kita sungguh ingin Indonesia yang merdeka, bukan hanya secara politik, tetapi juga secara mental, maka revolusi cara berpikir yang ditawarkan Tan Malaka masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

    Mungkin, diskusi-diskusi kecil sambil ngopi seperti yang kami lakukan ini adalah salah satu cara paling jujur untuk memulainya.

    (Riri Satria - Januari 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture