Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MASIH TENTANG KECERDASAN BUATAN (AI) DAN DAMPAK SOSIALNYA

    08 Jan 2026 | Dilihat: 66 kali

    Ringkasan wawancara saya oleh DAAI TV, Kamis 8 Januari 2026

    --- Jika pengguna media sosial melarang aplikasi pihak ketiga untuk mengolah data mereka, apakah itu berpengaruh terhadap respons AI? ---

    Di tengah meningkatnya kesadaran soal privasi digital, semakin banyak pengguna media sosial memilih untuk melarang aplikasi pihak ketiga mengolah data pribadi mereka. Tentu muncul pertanyaan turunan, apakah keputusan ini membuat AI menjadi kurang cerdas dalam merespons? Menurut saya jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak, tidak sesimpel pilihan biner hitam putih seperti itu.

    Ketika akses data pribadi dibatasi, AI memang kehilangan bahan bakar penting untuk memahami konteks pengguna secara mendalam. Proses pembelajarannya dalam bentuk machine learning atau bahkan deep learning tentu akan terganggu.  AI menjadi kurang mampu memberi rekomendasi yang sangat spesifik, membaca kebiasaan harian, atau menyesuaikan gaya bahasa berdasarkan riwayat personal. Respons AI pun terasa lebih umum, lebih netral, lebih datar, dan kurang pas secara personal.

    Namun di sisi lain penting juga untuk dipahami bahwa generative AI modern tidak bekerja seperti mata-mata intelijen yang mengintip data pribadi satu per satu. Sebagian besar AI bekerja berdasarkan model yang telah dilatih sebelumnya, bukan dengan mengakses data individu secara langsung saat merespons. Jadi meski personalisasi berkurang, fungsionalitas dasar AI tetap berjalan, namun memang menjadi tidak spesifik, hanya secara umum dan global. Ini mirip dengan manusia yang tidak dikasih akses pengetahuan spesifik, maka dia akan menjawab yang umum-umum atau garis besar saja.

    Larangan terhadap aplikasi pihak ketiga justru lebih berdampak pada sistem berbasis personalisasi real-time, seperti iklan, feed media sosial, atau rekomendasi konten, namun tidak begitu terasa untuk AI yang bersifat umum dan dialogis. Dengan kata lain, ketika data ditutup, AI tidak menjadi bodoh. Ia hanya menjadi lebih generik, lebih berhati-hati, dan kurang intim. Ini adalah sebuah konsekuensi yang, bagi banyak orang, justru terasa sebagai harga yang layak demi privasi. Itu bisa saja, namun pilihan ada di tangan kita.

     --- Apakah ada cara yang paling valid untuk mencegah AI ini menggunakan data pribadi pengguna media sosial? ---

    Keinginan untuk sepenuhnya melindungi data pribadi dari AI adalah hal yang wajar. Namun kenyataannya tidak ada cara yang benar-benar absolut atau paling valid. Saat ini yang ada adalah serangkaian langkah realistis untuk meminimalkan risiko.

    Pada level individu perlindungan dimulai dari hal-hal sederhana yaitu mengatur privasi secara ketat, menolak izin aplikasi yang tidak perlu, membatasi unggahan data sensitif, dan memilih platform yang memberi opsi jelas untuk tidak menggunakan data pengguna sebagai bahan pelatihan AI. Ini bukan solusi sempurna, tetapi setidakna merupakan bentuk kendali paling dasar yang masih berada di tangan manusia sebagai pengguna.

    Pada level platform, tanggung jawabnya jauh lebih besar. Transparansi menjadi kunci, misalnya data apa yang dikumpulkan, untuk apa, dan bagaimana diproses. Persetujuan pengguna seharusnya dirancang sejak awal atau istilahnya consent by design, bukan disembunyikan dalam dokumen panjang yang jarang dibaca. Audit independen terhadap praktik AI juga mutlak diperlukan agar janji etika tidak berhenti di atas kertas. Bahkan menurut saya, jika diperlukan pemerintah biasa turut campur melalui semacam Dewan AI Nasional untuk melindungi warga negara.

    Menurut saya perlindungan paling valid justru berada di level struktural yaitu regulasi. Aturan seperti GDPR di Uni Eropa atau UU Perlindungan Data Pribadi (PDP) di Indonesia memberi hak kepada warga untuk mengetahui, menolak, menarik kembali, bahkan menghapus data mereka. Prinsipnya adalah data minimization yaitu mengumpulkan hanya data yang benar-benar diperlukan. Ini menjadi fondasi penting.

    Namun tanpa payung hukum yang kuat, semua upaya individu akan selalu bersifat parsial. Perlindungan data bukan hanya soal pilihan personal, melainkan soal relasi kuasa antara warga, platform, dan negara.

    --- Saat ini tengah berkembang isu dan diskusi publik terkait kehadiran Grok AI yang disalahgunakan untuk konten pornografi. Apa yag haru dilakukan oleh  masyarakat? ---

    Isu penyalahgunaan Grok AI untuk menghasilkan konten pornografi memicu perdebatan luas. Ini bahkan bukan hanya Grok, melainkan yang lain juga ada. Namun menyederhanakan masalah ini sebagai “AI yang kebablasan” justru menyesatkan. Menurut saya ini tidak tepat. Masalah utamanya bukan pada kecerdasan mesin atau sistem AI itu sendiri, melainkan pada tata kelola teknologi dan literasi publik.

    AI pada dasarnya adalah alat, ia benda mati. Sama seperti teknologi jadul seperti pisau dapur, bisa dipakai untuk memotong bahan makanan aau menusuk orang lain. Pisau dapau dibuat untuk tujuan baik, namun ketika disalahgunakan, maka dia menjadi berbahaya. Begitu juga dengan teknologi nuklir, bisa memberikan energi listrik yang sangat besar kepada manusia, bisa juga untuk membuat bom. Ini selalu ada dua sisi yang berlawanan.

    Ketika teknologi termasuk AI digunakan untuk tujuan bermasalah, penyebabnya sering kali kombinasi dari desain sistem yang terlalu permisif, tata kelola yang tidak jelas, moderasi yang lemah, serta niat pengguna yang memang ingin menyalahgunakan teknologi alias tidak memiliki etika.

    Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya menyalahkan AI atau pengembangnya. Justru yang kita butuhkan adalah tekanan publik yang konsisten, senantiasa menuntut transparansi soal batasan konten, mekanisme moderasi, dan tanggung jawab pengelola platform. Kebebasan berekspresi tidak bisa dijadikan tameng untuk membiarkan eksploitasi, terutama pornografi dan deepfake seksual. Itu sangat salah kaprah.

    Literasi digital juga menjadi medan penting. Publik perlu memahami bahwa AI bisa dimanipulasi, dan tidak semua output AI bersifat netral atau aman. Pendidikan harus mampu membedakan antara kebebasan berekspresi dan pelanggaran etika.

    Di sisi lain, negara tidak bisa absen. Regulasi yang tegas terhadap pornografi ilegal, eksploitasi berbasis AI, dan kewajiban safety by design pada model AI publik harus ditegakkan. Sementara itu, komunitas dan akademisi berperan mengawal diskursus agar tidak jatuh pada kepanikan moral, tetapi tetap kritis terhadap desain sistem. Intinya adalah bahwa AI yang “liar” bukan karena terlalu cerdas, melainkan karena kurang diatur dan kurang diawasi.

    Ketiga isu di atas  memperlihatkan satu benang merah yaitu tantangan terbesar AI hari ini bukanlah kemampuan teknologinya, melainkan bagaimana relasi kuasa antara data, teknologi, dan manusia dibentuk. Jika masyarakat pasif, AI akan mengikuti logika pasar dan sensasi.

    Namun jika masyarakat kritis dan terlibat, AI dapat diarahkan menjadi teknologi yang bertanggung jawab untuk mendukung manusia, dan bukan sekadar canggih, tetapi juga etis.

    (Riri Satria - 8 Januari 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture