Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • JEJAK MASA LALU TENTANG MASA DEPAN

    08 Jan 2026 | Dilihat: 128 kali

    Masih dalam rangka saya menata ulang rak buku di rumah yang hanya pekerjaan rumah yang tertunda, membereskan ruang kerja, mengelap debu, memindahkan buku-buku yang terlalu lama berdiri tanpa disentuh. Namun seperti banyak hal dalam hidup, pekerjaan yang tampak remeh itu tiba-tiba berubah menjadi perjalanan batin. Saya menemukan kembali buku-buku futuristik, bacaan lama yang dulu begitu dekat, dan kini terasa seperti cermin yang diam-diam menatap saya.

    Buku-buku ini pernah menjadi sahabat setia dalam satu fase hidup saya. Saat masa depan terasa luas, terbuka, dan mungkin. Saat membaca bukan sekadar mengisi waktu, melainkan cara membangun harapan. Saya menyadari bahwa sebagian besar dari buku ini berbicara tentang masa depan, tentang teknologi, sains, geopolitik, pendidikan, bahkan waktu itu sendiri. Dulu, saya membacanya dengan gairah: ingin tahu ke mana dunia akan bergerak, ingin ikut berada di barisan depan perubahan.

    Kini, bertahun-tahun kemudian, saya menyentuh sampul-sampul itu dengan perasaan yang berbeda. "The History of the Future" mengingatkan saya bahwa masa depan tidak pernah lahir dari ide-ide murni semata, melainkan dari manusia dengan ego, konflik, dan kepentingannya. Saat itu, saya belajar bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis berarti kemajuan kemanusiaan. Sebuah pelajaran yang terasa semakin relevan hari ini.

    "The Future Is Faster Than You Think" pernah membuat saya tersadarkan, bahwa dunia bergerak cepat, katanya, dan kita harus ikut berlari. Buku itu menemani masa-masa saya belajar tentang percepatan, inovasi, dan disrupsi. Namun kini saya bertanya dengan lebih pelan, apakah berlari selalu berarti maju? Atau kita hanya takut tertinggal tanpa sempat memahami arah?

    Ketika membaca ulang ingatan saya tentang "The Next Fifty Years" saya teringat diskusi-diskusi panjang dengan diri sendiri, dengan mahasiswa, dengan rekan-rekan tentang sains sebagai harapan sekaligus kecemasan. Buku ini bukan sekadar prediksi, melainkan undangan untuk berdialog, apa yang seharusnya kita lakukan dengan pengetahuan yang semakin besar itu?

    Lalu ada "The Next 100 Years" dan "Megatrends" membentuk dialektika yang menarik. Buku yang satu berbicara tentang peta kekuasaan dan konflik global, yang lain tentang arus perubahan sosial jangka panjang. Dari keduanya saya belajar bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kejadian besar, tetapi oleh pola-pola kecil yang berulang dan sering kita abaikan.

    "The Future Reinvented" dan "The Future" karya Al Gore menemani fase hidup ketika saya mulai menyadari bahwa masa depan bukan hanya urusan teknologi, tetapi juga etika, lingkungan, dan tanggung jawab. Buku-buku ini ikut membentuk cara saya memandang dunia bahwa optimisme tanpa kesadaran moral hanyalah ilusi yang rapuh.

    "50 Ideas You Really Need to Know The Future" terasa seperti teman diskusi yang ringkas namun tajam yang mengingatkan bahwa tidak ada satu narasi tunggal tentang masa depan. Selalu ada banyak kemungkinan, dan tugas kita bukan memilih yang paling spektakuler, tetapi yang paling manusiawi.

    Sementara itu "Designing the Future" dan "Future of Time" hadir dalam fase pembelajaran yang lebih reflektif. Yang satu menekankan pentingnya pendidikan dan cara berpikir, yang lain mengajak saya merenungkan makna waktu itu sendiri. Keduanya ikut membangun dialektika dalam hidup saya yaitu antara kecepatan dan jeda, antara rencana dan perenungan.

    Semenara itu "The Road Ahead" karya Bill Gates sewaktu maih muda dulu terasa sangat optimistis, kini saya pandang dengan senyum kecil. Jalan ke depan memang selalu tampak terang ketika kita masih muda dan penuh harap. Namun hidup mengajarkan bahwa setiap jalan punya tikungan, dan kebijaksanaan sering lahir bukan dari kecepatan, melainkan dari kemampuan berhenti dan menengok ke belakang.

    Skaliu lagi, membereskan buku-buku di ruang kerja ini ternyata bukan sekadar soal kerapian. Ia menjadi momen kontemplatif, sebuah perjumpaan ulang dengan diri saya yang dulu. Buku-buku futuristik ini bukan hanya membahas masa depan dunia, tetapi juga ikut menemani proses pembelajaran dalam hidup saya, membentuk cara berpikir, dan membangun dialektika batin yang terus berlangsung hingga hari ini.

    Akhirnya saya menyadari satu hal bahwa masa depan bukan hanya sesuatu yang kita baca atau prediksi. Ia adalah sesuatu yang kita hidupi, kita pertanyakan, dan perlahan kita pahami seiring waktu serta seiring perubahan diri.

    (Riri Satria - Januari 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture