Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DUA PEMIKIR, SEPULUH BUKU, DAN PERCAKAPAN TENTANG PERADABAN DUNIA

    06 Jan 2026 | Dilihat: 154 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada momen-momen yang terasa sangat pribadi, tetapi justru di situlah percakapan paling jujur dengan diri sendiri terjadi. Bagi saya, momen itu hadir ketika saya kembali menemukan sepuluh buku ini yang terdiri dari empat karya Jared Diamond dan enam karya David C. Korten, saat membereskan dan menata ulang buku-buku di ruang kerja, perpustakaan kecil pribadi di rumah.

    Buku-buku itu sempat lama terdiam di rak, tetapi ternyata tidak pernah benar-benar pergi dari cara saya memandang dunia.

    Jared Diamond dan David C. Korten adalah dua pemikir modern favorit saya. Bukan karena mereka selalu memberi jawaban yang menenangkan, tetapi justru karena mereka kerap menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu kenyamanan.

    Di hadapan karya-karya mereka, saya sering merasa diajak duduk di dua sisi waktu, yaitu masa lalu yang menjelaskan, dan masa depan yang menuntut keputusan.

    Membaca Jared Diamond selalu membuat saya merasa kecil namun dengan cara yang sehat.

    Buku "Guns, Germs, and Steel" membongkar mitos superioritas peradaban. Dunia modern dengan segala klaim kemajuannya, ternyata berdiri di atas fondasi kebetulan sejarah dan ekologi. Kesadaran ini membentuk pola pikir saya bahwa keangkuhan peradaban adalah awal dari kebutaannya sendiri.

    Lalu "Collapse" datang seperti lonceng peringatan. Kisah-kisah tentang peradaban yang runtuh terasa jauh dari romantis, ia dingin, faktual, menyentuh, serta mengajak merenung. Saat membaca ulang buku ini, pikiran saya selalu tertuju kepada kondisi dunia hari ini dengan krisis iklim, ketimpangan sosial, morat-marit ekonomi, serta kelangkaan berbagai sumber daya pokok manusia. Diamond menunjukkan bahwa keruntuhan sering bukan akibat ketidaktahuan, melainkan penyangkalan.

    Dalam buku "The World Until Yesterday", saya menemukan nada yang lebih reflektif. Diamond seolah mengajak kita menoleh ke belakang, bukan untuk kembali, tetapi untuk belajar. Di sana, saya merasakan kehilangan yang samar yaitu tentang kedekatan, tentang cara manusia menyelesaikan konflik dengans konkrit intervensi manusia melalui keterhubungan dan relasi antar manusia.

    Sedangkan buku "Upheaval" membuat kesadaran itu semakin dekat dengan masa kini bahwa bangsa-bangsa modern pun rapuh, dan krisis adalah bagian dari perjalanan kolektif yang tidak bisa dihindari.

    Jika Diamond membantu saya memahami bagaimana dunia sampai di titik ini, maka David C. Korten membantu saya menyadari ke mana dunia seharusnya melangkah.

    Buku "When Corporations Rule the World" adalah buku yang membuka mata sekaligus emosi. Ada rasa marah, kecewa, tetapi juga kejujuran intelektual di sana. Dunia tidak netral, melainkan dijalankan oleh kepentingan, dan demokrasi sering kali hanya menjadi dekorasi.

    Namun kekuatan Korten justru terletak pada harapannya. Buku "The Post-Corporate World" dan "The Great Turning" mengajak saya membayangkan peradaban yang tidak lagi berpusat pada dominasi, melainkan keterhubungan. Di sini, saya merasa bahwa kritik tidak harus berakhir pada sinisme. Ia bisa menjadi jalan menuju tanggung jawab moral, membuat solusi untuk sesuau yang leeih baik untuk peradaban manusia ke depannya.

    Dalam "Agenda for a New Economy" dan "Change the Story, Change the Future", Korten sampai pada inti yang sangat saya yakini bahwa peradaban digerakkan oleh cerita. Selama kita percaya bahwa pertumbuhan tanpa batas adalah tujuan tertinggi, maka krisis hanya akan terus berganti bentuk. Tetapi jika ceritanya berubah menjadi tentang ekonomi yang hidup untuk kehidupan, maka masa depan pun memiliki kemungkinan lain.

    Kesepuluh buku ini adalah buku favorit saya. Bukan hanya karena isinya, tetapi karena pengaruhnya yang perlahan dan mendalam terhadap diri saya. Buku-buku ini membuka wawasan saya, membentuk pola pikir saya, dan menuruti saya layak dibaca oleh siapa pun yang ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi di dunia, khususnya dalam perjalanan panjang peradaban manusia.

    Saya teringat kata Virginia Woolf, bahwa buku adalah cermin jiwa. Ketika saya menatap kembali sepuluh buku ini di rak, saya seperti sedang menatap fragmen-fragmen diri saya sendiri yaitu kegelisahan, harapan, kemarahan, dan keinginan untuk memahami dunia secara lebih jujur.

    Saya juga percaya pada kata John Locke bahwa membaca hanya melengkapi pikiran dengan bahan-bahan pengetahuan namun pemikiranlah yang membuat apa yang kita baca menjadi milik kita. Buku-buku Diamond dan Korten tidak membentuk saya secara pasif melainkan  menantang saya untuk berpikir, meragukan, dan memilih sikap.

    Di tengah dunia yang terasa semakin cepat dan bising, sepuluh buku ini mengingatkan saya pada satu hal penting bahwa peradaban tidak hanya bergerak oleh teknologi dan kekuasaan, tetapi oleh kesadaran. Diamond mengajarkan kita untuk rendah hati di hadapan sejarah dan alam. Korten mengajarkan kita untuk berani menulis ulang masa depan.

    Di antara keduanya, saya menemukan ruang refleksi bahwa memahami dunia dan mengubahnya menjadi lebih baik untuk kemaslahatan bersama bukan dua hal yang terpisah, melainkan satu tanggung jawab yang sama.

    (Riri Satria - Januari 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture