Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KUSUT

    05 Jan 2026 | Dilihat: 134 kali

    Sudah banyak saya memotret kabel-kabel kusut di berbagai tempat. Nah kali ini saya iseng-iseng bikin tulisan diinspirasi oleh kabel kusut. Jangan-jangan menggambarkan kekusutan kita saat ini. Supaya terlihat sok hebat dan serius, saya sertakan sedikit soal eksistensial dan postmodernisme. Semoga tidak tambah kusut ya 😁

    Kadang hal-hal yang paling sederhana justru paling jujur. Misalnya kabel-kabel kusut di bawah meja kerja, di belakang televisi, atau di sudut ruangan yang jarang kita rapikan. Kita tahu kabel itu berantakan, tapi kita jarang benar-benar terganggu olehnya. Selama masih berfungsi, kita membiarkannya begitu saja. Aneh, tapi barangkali begitulah cara kita hidup hari ini.

    Manusia percaya hidup memiliki pusat tujuan yang jelas, arah yang bisa diikuti, makna yang kalau pun sulit tetap layak dicari. Eksistensi seperti garis lurus. Ia lahir, memilih, berjuang, lalu menemukan arti. Namun dunia berubah. Perlahan, tanpa ledakan. Kita masuk ke zaman yang tidak lagi sibuk menawarkan makna baru, melainkan mempertanyakan apakah makna itu memang pernah tunggal dan rapi.

    Kabel-kabel kusut itu terasa seperti potret kecil dari kondisi tersebut. Hidup tanpa pusat yang elas. Coba perhatikan kabel-kabel itu. Tidak ada simpul utama. Tidak ada urutan yang rapi. Tidak jelas mana awal dan mana akhir. Semuanya saling silang, saling menempel, saling bergantung.

    Begitulah diri kita hari ini. Kita bukan lagi satu identitas yang utuh, melainkan kumpulan peran pekerja, teman, pasangan, anak, pengguna media sosial, warga negara, sekaligus konsumen. Kita tidak benar-benar ā€œmenjadiā€, melainkan terus tersambung ke notifikasi, tuntutan, ekspektasi, dan jaringan yang tak pernah tidur.

    Ini juga menyiratkan kekacauan dala, hidup namun dianggap sudah biasa. Absurditas hidup terasa tragis seperti dalam kisah-kisah eksistensial klasik. Nah, hari ini absurditas justru terasa biasa. Kekacauan tidak lagi membuat kita memberontak. Kita hanya menghela napas, lalu melanjutkan rutinitas.

    Kabel-kabel kusut itu tidak membuat kita marah. Tidak membuat kita protes. Kita menerimanya sebagai bagian dari keseharian. Di situlah keheningan zaman ini, hidup dalam kekacauan, tapi terlalu terbiasa untuk merasa terganggu olehnya. Absurditas tidak lagi dramatis. Ia menjadi banal.

    Kekusutan itu juga dapat dimaknai sebagai hidup yang ditambal sulam di sana-sini. Kita juga tidak lagi hidup dalam satu kisah besar. Tidak ada narasi agung tentang masa depan, kemajuan, atau keselamatan yang benar-benar kita yakini bersama. Kita melihat yang ada hanyalah potongan-potongan kecil berupa target bulanan, rencana jangka pendek, solusi sementara.

    Hidup terasa seperti tambalan. Sedikit pekerjaan di sini, sedikit relasi di sana, keyakinan yang dipakai saat perlu, lalu dilepas ketika tidak lagi relevan. Makna tidak dibangun pelan-pelan. Ia diinstal, diperbarui, bahkan dihapus seperti aplikasi. Kabel-kabel itu persis seperti itu, ditambah saat dibutuhkan, dibiarkan kusut selama masih berfungsi.

    Kita sering bicara tentang keaslian termasuk menjadi diri sendiri. Tapi di dunia yang penuh pencitraan, keaslian terasa retak. Mungkin yang tersisa bukan lagi keutuhan, melainkan kejujuran.

    Kabel-kabel kusut itu tidak berpura-pura indah. Ia tidak menyembunyikan kekurangannya. Ia ada apa adanya, dan barangkali itulah bentuk kejujuran paling mungkin hari ini yaitu mengakui bahwa hidup kita tidak rapi, tidak utuh, dan sering kali berantakan.

    Kita hidup di zaman kebebasan. Pilihan terbuka di mana-mana. Koneksi nyaris tak terbatas. Namun anehnya, justru arah terasa kabur. Seperti kabel-kabel yang terus bertambah, kita makin terhubung, tapi makin kehilangan bentuk. Kebebasan tidak lagi terasa heroik. Ia melelahkan.

    Pada akhirnya, kabel-kabel kusut itu tidak mengajarkan cara merapikan hidup. Ia hanya mengingatkan bahwa keberadaan tidak selalu harus sempurna untuk tetap mengalir. Mungkin kita memang tidak lagi hidup untuk menemukan makna yang utuh. Kita hanya belajar bertahan di antara potongan-potongan makna, menjalani hari demi hari, sambil tetap terhubung meski tidak rapi.

    Barangkali kesimpulannya, di dunia yang serba postmodern ini, itu sudah cukup, bukan menjadi sempurna, melainkan tetap ada, meski kusut. Sempurna karena tidak sempurna. Apa iya begitu?

    (Riri Satria - Januari 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku ā€œApa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: ā€œJendelaā€ (2016), ā€œWinter in Parisā€ (2017), ā€œSiluet, Senja, dan Jinggaā€ (2019), ā€œMetaverseā€ (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul ā€œAlgoritma Kesunyianā€ (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: ā€œUntuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnisā€ (2003), trilogi ā€œProposisi Teman Ngopiā€ (2021) yang terdiri tiga buku ā€œEkonomi, Bisnis, dan Era Digitalā€, ā€œPendidikan dan Pengembangan Diriā€, dan ā€œSastra dan Masa Depan Puisiā€ (2021), serta ā€œJelajahā€ (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa AlaaĀ atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ā  Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Ā  oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ā  Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik šŸ˜šŸ„³šŸš€šŸ”„
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture